— Pertumbuhan jumlah investor ritel di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data terbaru dari Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga awal 2026, minat masyarakat terhadap pasar modal dan aset digital semakin tinggi.

Namun, pertumbuhan ini harus dibarengi dengan pemahaman fundamental yang kuat agar investor tidak terjebak dalam praktik spekulatif atau “saham gorengan”.

Salah satu cara paling menyenangkan untuk mendalami literasi keuangan adalah melalui media film. Sinema tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga memberikan gambaran visual yang nyata mengenai risiko, strategi, hingga sisi gelap dunia keuangan. Berikut adalah 10 rekomendasi film investasi dan bisnis yang wajib Anda tonton untuk memperluas cakrawala finansial.

1. Gampang Cuan (2023)

Gampang Cuan (2023)

Film arahan sutradara Rahabi Mandra ini menjadi primadona karena sangat relevan dengan realita masyarakat Indonesia. Mengisahkan perjuangan kakak-beradik, Sultan (Vino G. Bastian) dan Bilqis (Anya Geraldine), yang harus melunasi utang mendiang ayahnya sebesar Rp300 juta. Sultan akhirnya terjun ke dunia saham secara otodidak untuk mencari “cuan” cepat.

Film ini secara detail menggambarkan risiko trading saham, cara membaca grafik candlestick, hingga bahaya meminjam uang (pinjol) tanpa perhitungan matang.

“Kita coba ajak masyarakat lebih melek untuk urusan ini, dengan bumbu komedi dan drama keluarga tentunya,” ujar Rahabi Mandra sebagaimana dikutip dari kumparan.com, Minggu (26/1).

2. Cek Toko Sebelah (2016) & Sekuelnya

Cek Toko Sebelah (2016)

Karya Ernest Prakasa ini menyoroti dinamika manajemen bisnis keluarga atau UMKM. Fokus utamanya adalah dilema antara mengejar karier korporat yang bergengsi atau meneruskan bisnis toko kelontong keluarga yang sudah mapan.

Pelajaran penting dalam film ini adalah tentang efisiensi operasional, manajemen arus kas (cash flow) dalam bisnis tradisional, dan pentingnya adaptasi bisnis di era modern. Film ini membuktikan bahwa bisnis skala kecil pun jika dikelola dengan disiplin bisa menghasilkan perputaran uang yang sangat besar.

3. Filosofi Kopi (2015)

Filosofi Kopi (2015)

Mengambil latar industri Food & Beverage (F&B), film ini menceritakan jatuh bangun membangun sebuah kedai kopi idealis. Penonton diajak melihat proses mencari investor, melakukan pitching bisnis, hingga tantangan melunasi utang operasional. Insight terbesarnya adalah bagaimana menyeimbangkan antara idealisme produk dengan profitabilitas agar bisnis tetap bisa berkelanjutan secara finansial.

4. Mencuri Raden Saleh (2022)

Mencuri Raden Saleh (2022)

Film aksi perampokan (heist) ini memberikan perspektif menarik tentang aset investasi alternatif, khususnya di bidang seni. Mencuri Raden Saleh menyinggung nilai karya seni sebagai instrumen investasi jangka panjang yang sangat bernilai dan bagaimana mekanisme pencucian uang sering kali terjadi di balik kemegahan pelelangan karya seni mahal. Film ini memperlihatkan bahwa aset investasi tidak hanya terbatas pada instrumen keuangan konvensional.

5. 13 Bom di Jakarta (2023)

13 Bom Di Jakarta (2023)

Berbeda dengan film sebelumnya, 13 Bom di Jakarta berfokus pada lanskap bursa kripto dan keamanan finansial digital. Terinspirasi dari kisah nyata pendiri Indodax, Oscar Darmawan, film ini menyoroti tantangan dunia kripto saat masih minim regulasi. “Film ini merupakan film serangan teror bermotif ekonomi pertama di Indonesia yang memanfaatkan teknologi tinggi, serta mengedepankan pemahaman mendalam mengenai cryptocurrency,” tutur Irjen Pol Rachmad Wibowo dilansir dari rri.co.id.

Selanjutya kita akan merekemendasikan film genre investasi dari luar negeri. Berikut ini listnya:

6. The Big Short (2015)

The Big Short (2015)

Jika Anda ingin memahami penyebab krisis ekonomi global 2008, inilah filmnya. The Big Short menceritakan sekelompok manajer investasi yang melihat adanya “gelembung” di pasar properti Amerika Serikat dan berani bertaruh melawan arus pasar (shorting). Film ini sangat edukatif karena menggunakan selebritas untuk menjelaskan istilah rumit seperti subprime mortgage dan CDO secara sederhana.

7. Dumb Money (2023)

Dumb Money (2023)

Film ini sangat populer di kalangan investor muda karena mengangkat fenomena short squeeze saham GameStop (GME). Ini adalah kisah nyata di mana investor ritel yang tergabung dalam komunitas internet (Reddit) bersatu untuk mengalahkan bandar besar di Wall Street. Dumb Money mengajarkan tentang kekuatan sentimen komunitas dan risiko tinggi di balik perilaku FOMO (Fear of Missing Out) dalam berinvestasi.

8. The Wolf of Wall Street (2013)

The Wolf Of Wall Street (2013)

Film ini adalah pengingat keras tentang sisi gelap keserakahan. Karakter Jordan Belfort menunjukkan teknik penjualan yang luar biasa, namun ia melakukannya melalui manipulasi saham murah (pump and dump). Pesan moral utamanya jelas: jangan pernah tergiur janji keuntungan fantastis secara instan dari instrumen investasi yang tidak jelas fundamentalnya.

9. The Founder (2016)

The Founder (2016)

Film biografi Ray Kroc ini mengungkap rahasia di balik kesuksesan global McDonald’s. Pelajaran bisnis paling ikonik dari film ini adalah ketika Ray menyadari bahwa ia tidak sekadar berbisnis burger, melainkan berbisnis properti (real estate). Strategi ini mengubah cara pandang investor mengenai diversifikasi model bisnis untuk menciptakan aliran pendapatan yang stabil.

10. Air (2023)

Air (2023)

Fokus pada negosiasi bisnis dan pemasaran, Air menceritakan bagaimana Nike mempertaruhkan segalanya untuk merekrut Michael Jordan. Film ini memberikan wawasan tentang pentingnya kontrak bagi hasil (royalty sharing) dan bagaimana sebuah brand melakukan investasi jangka panjang pada aset (atlet) yang memiliki potensi pertumbuhan nilai di masa depan.

11. Trust No One: The Hunt for the Crypto King (2022)

The Hunt For The Crypto King (2022)

Dokumenter Netflix ini mengangkat kisah bangkrutnya bursa kripto QuadrigaCX. Ini adalah peringatan keras bagi investor aset digital mengenai pentingnya keamanan dompet kripto. Prinsip “Not your keys, not your coins” sangat ditekankan di sini, mengingatkan kita bahwa keamanan aset adalah prioritas utama sebelum mengejar keuntungan.

Melalui sepuluh film di atas, kita dapat belajar bahwa investasi bukan sekadar soal angka, melainkan soal psikologi, kesabaran, dan riset yang mendalam. Seperti yang diingatkan oleh Dewan Pengawas Prasasti Center for Policy Studies, Ilya Avianti, “Fondasi pasar modal itu fundamental, bukan teknikal semata,” sebagaimana dikutip dari antaranews.com, Sabtu (24/1).