— Di era media sosial saat ini, istilah healing telah mengalami pergeseran makna yang cukup signifikan. Gulirkan saja beranda Instagram atau TikTok Anda, maka akan muncul ribuan unggahan foto pantai yang estetik atau kabin pegunungan yang sunyi dengan caption serupa: “Sedang healing sejenak dari hiruk-pikuk dunia.”

Fenomena ini menciptakan persepsi kolektif bahwa obat dari segala beban mental adalah tiket pesawat dan koper. Padahal, dalam kacamata psikologi, healing sejati adalah proses internal yang mendalam untuk memulihkan luka batin, bukan sekadar berpindah koordinat geografis. Ketika liburan hanya dijadikan tameng untuk menghindari kenyataan yang pahit, aktivitas tersebut berubah menjadi escape vacation sebuah antitesis dari healing.

Alih-alih menyembuhkan, pelarian atau escapism justru sering kali menjadi beban baru karena akar masalah yang ditinggalkan tetap utuh dan tak tersentuh.

Berikut adalah 5 tanda bahwa liburan yang Anda lakukan bukanlah proses healing, melainkan upaya melarikan diri dari masalah:

1. Memesan Tiket Secara Impulsif Saat Stres Memuncak

Tanda pertama sering kali muncul bahkan sebelum Anda berangkat. Apakah Anda pernah merasa sangat tertekan oleh pekerjaan atau konflik hubungan, lalu secara mendadak membuka aplikasi pemesanan tiket untuk mencari penerbangan paling murah dan terjauh saat itu juga?

Liburan yang didasari oleh impulsivitas emosional biasanya bertujuan untuk “memutus arus” penderitaan secara instan.

Mengutip dari laman Media Indonesia, liburan seperti ini lebih bersifat refreshing atau penyegaran sesaat, bukan healing. Seseorang yang benar-benar membutuhkan healing biasanya melalui fase refleksi terlebih dahulu untuk memahami mengapa mereka merasa lelah, bukan sekadar mencari distraksi tercepat agar tidak perlu merasakan emosi negatif tersebut.

2. Tetap Merasa Gelisah dan Cemas di Destinasi Wisata

Pernahkah Anda duduk di tepi pantai yang indah namun pikiran Anda tetap “terjebak” di ruang rapat kantor atau percakapan buruk dengan pasangan? Jika tubuh Anda berada di Bali tetapi kecemasan Anda tetap tertinggal di Jakarta, itu adalah tanda kuat bahwa Anda sedang melakukan pelarian.

Kondisi ini terjadi karena masalah yang Anda hindari menuntut untuk diselesaikan, bukan ditinggalkan. Psikolog Muthia Maghfirah, M.Psi., menjelaskan bahwa healing merupakan proses pemulihan diri yang membutuhkan kesadaran penuh.

Jika Anda tetap gelisah, artinya pikiran bawah sadar Anda tahu bahwa liburan ini hanyalah “obat bius” sementara yang efeknya akan segera hilang.

3. Enggan atau Menunda Waktu Kepulangan

Indikator psikologis lainnya adalah munculnya perasaan ngeri atau ketakutan yang luar biasa saat membayangkan harus pulang. Liburan yang sehat seharusnya membuat Anda merasa terisi kembali (recharged) dan siap menghadapi rutinitas. Namun, dalam kasus escapism, pulang berarti kembali ke medan perang yang belum selesai.

Banyak orang yang secara sengaja menambah durasi liburan atau terus-menerus mencari destinasi berikutnya tanpa henti.

Fenomena ini sering disebut sebagai kecanduan perjalanan yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru terasa seperti sumber kecemasan karena di sanalah kenyataan hidup yang Anda hindari berada.

4. Fokus pada Validasi Luar daripada Ketenangan Dalam

Dalam proses healing yang sesungguhnya, kehadiran diri (presence) adalah kunci. Namun, saat liburan menjadi pelarian, seseorang cenderung lebih sibuk menciptakan citra bahwa mereka “baik-baik saja” dan “bahagia” di media sosial. Fokusnya bergeser dari merasakan momen menjadi mendokumentasikan momen demi validasi orang lain.

Jika Anda menghabiskan sebagian besar waktu liburan untuk mengecek jumlah likes atau memastikan angle foto terlihat sempurna agar terlihat sukses melakukan healing, Anda sebenarnya sedang berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa masalah Anda tidak ada.

Distraksi digital ini efektif untuk menekan rasa sakit sementara, namun ia menghalangi Anda untuk melakukan dialog jujur dengan diri sendiri.

5. Masalah Terasa Lebih Berat Saat Tiba di Rumah

Tanda paling nyata dari escapism adalah munculnya post-vacation crash atau depresi pasca-liburan yang berat. Karena selama liburan Anda hanya “menabung” masalah tanpa menyelesaikannya, maka saat kembali, tumpukan masalah tersebut akan terasa berkali-kali lipat lebih menekan.

Lari dari masalah tidak akan pernah menyelesaikannya; ia hanya menunda konsekuensi. Sebaliknya, healing yang sejati melibatkan pengakuan terhadap rasa sakit dan langkah nyata untuk memperbaikinya dari dalam.

Liburan memang bisa menjadi katalisator bagi proses healing, namun hanya jika Anda membawa kesadaran untuk berefleksi, bukan niat untuk bersembunyi.

Refleksi Diri untuk Anda

Setelah membaca tanda-tanda di atas, coba tanyakan pada diri Anda: Apakah Anda berlibur untuk merayakan kehidupan yang sedang Anda jalani, atau untuk melupakan kehidupan yang sedang Anda hadapi?

Jika jawaban Anda adalah yang kedua, mungkin sudah saatnya Anda berhenti mencari tiket pesawat dan mulai mencari bantuan profesional atau menyediakan waktu untuk duduk diam dan jujur pada diri sendiri.

Liburan terbaik bukanlah yang membawa Anda paling jauh dari rumah, melainkan yang membawa Anda kembali menjadi diri yang utuh.