Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeklaim penggunaan rudal hipersonik Fattah-2 dalam operasi bertajuk “True Promise 4”. Pengerahan senjata generasi masa depan ini dilakukan sebagai respons atas serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap wilayah Iran. Jika terverifikasi, operasi ini menjadi debut tempur pertama bagi Fattah-2, senjata yang dirancang khusus untuk menembus kecepatan suara dan sistem pertahanan udara paling canggih saat ini.
Adu Cepat: Manuver HGV Melawan Algoritma Radar
Inti dari ancaman Fattah-2 terletak pada penggunaan teknologi Hypersonic Glide Vehicle (HGV). Berbeda dengan rudal balistik konvensional yang memiliki lintasan parabola statis layaknya busur panah, Fattah-2 mampu mengubah arah secara ekstrem di tengah penerbangan. Karakteristik non-linear ini menciptakan tantangan bagi sistem pertahanan seperti Patriot milik AS atau Iron Dome milik Israel.
Sistem radar tradisional bekerja berdasarkan algoritma prediksi jalur. Namun, kemampuan HGV untuk bermanuver di ketinggian rendah membuat perhitungan pelacakan menjadi sangat kompleks. Mengacu pada data WION, rudal ini mampu meluncur dengan kecepatan hingga Mach 15 atau sekitar 18.500 kilometer per jam. Kecepatan ini secara signifikan memperpendek waktu respons (reaction time) sistem interseptor untuk melakukan penguncian sasaran.
Lihat juga Perbandingan Spesifikasi LUCAS vs Shahed-136: Drone Murah AS yang Lawan Dominasi Udara Iran
Spesifikasi Teknis Fattah-2

Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh The Defense Watch, Fattah-2 membawa spesifikasi yang menempatkannya sebagai salah satu alutsista paling berbahaya di kawasan:
- Jangkauan Serang: 1.000 hingga 1.500 km (mencakup pangkalan AS di Teluk dan aset di Laut Arab).
- Kecepatan Maksimal: Mach 10 hingga Mach 15.
- Sistem Pemandu: INS dengan potensi pembaruan data satelit secara real-time.
- Hulu Ledak: Bahan peledak tinggi (HE) atau tipe penembus (penetrator) dengan bobot 300–500 kg.
- Platform Peluncur: Unit peluncur mobile berbasis darat yang memiliki mobilitas tinggi untuk menghindari deteksi sebelum peluncuran.
Ancaman Terhadap Kapal Induk dan Aset Strategis
Meskipun Iran membatasi jangkauan rudalnya pada radius 2.000 km, jangkauan tersebut sudah melampaui seluruh wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Fattah-2 dinilai secara spesifik mengincar target bergerak dan aset angkatan laut bernilai tinggi, termasuk kapal induk.
“Rudal hipersonik sungguhan tentu saja merupakan ancaman, dan merupakan tantangan bagi pesawat pencegat mana pun,” ujar Tal Inbar, ahli veteran kebijakan ruang angkasa sebagaimana dikutip dari Times of Israel. Inbar menekankan bahwa terbang pada ketinggian rendah adalah kunci bagi Fattah-2 untuk menghindari lapisan radar peringatan dini.
Ujian Berat Pertahanan Berlapis Israel
Kehadiran Fattah-2 memaksa sistem pertahanan berlapis Israel untuk bekerja melampaui batas prediksi algoritma tradisional. Kecepatan ekstrem yang dikombinasikan dengan kemampuan manuver tak terduga membuat proses intersepsi menjadi sangat sulit dilakukan dengan teknologi pencegat saat ini.
Walaupun sejumlah pengamat militer masih menunggu verifikasi independen terkait klaim operasional Iran, keberadaan fisik Fattah-2 di medan tempur dipandang sebagai game changer. Senjata ini menggeser peta kekuatan militer global, terutama dalam perlombaan teknologi antara sistem serangan hipersonik dan sistem pertahanan udara berbasis kecerdasan buatan.
Ikuti Ihram.co.id
