— Winger Manchester United, Amad Diallo, melontarkan sindiran pedas terhadap Arsenal setelah timnya berhasil meraih kemenangan 3-2 atas pemuncak klasemen Liga Primer Inggris tersebut pada Minggu (25/1/2026).

Diallo secara khusus menyoroti ketergantungan Arsenal pada situasi bola mati, menyebut bahwa ‘satu-satunya harapan’ mereka untuk mencetak gol adalah dari tendangan sudut.

Kemenangan tersebut menandai dua kemenangan beruntun bagi Manchester United di bawah asuhan Michael Carrick. Amad bermain selama 88 menit di posisi sayap kanan dalam pertandingan yang digelar di Emirates Stadium.

Pernyataannya muncul setelah Arsenal menunjukkan masalah dalam lini serang mereka, meskipun secara kolektif telah mencetak 42 gol di liga, kedua terbanyak setelah Manchester City.

Masalah Penyerangan Arsenal dan Ketergantungan Set-piece

Beberapa pemain kunci Arsenal dikabarkan mengalami penurunan performa dalam mencetak gol. Bukayo Saka dilaporkan tidak mencetak gol dalam 13 pertandingan terakhirnya di semua kompetisi.

Viktor Gyokeres hanya mencetak gol dari penalti dalam 11 pertandingan liga terakhirnya, sementara Gabriel Martinelli belum mencetak gol dalam 13 pertandingan liga terakhirnya.

Kondisi serupa juga dialami pemain lain. Noni Madueke belum mencetak gol dalam 25 pertandingan Liga Primer terakhirnya, dan Leandro Trossard hanya mencetak satu gol dalam 11 penampilan terakhirnya di semua kompetisi.

Arsenal sendiri telah menjadi identik dengan rutinitas set-piece, mencetak 26 gol melalui metode tersebut sejauh musim ini, jumlah terbanyak di lima liga top Eropa.

Sindiran Amad Diallo di Media Sosial

Amad Diallo memanfaatkan momen tersebut untuk menyindir Arsenal melalui media sosial, khususnya X (sebelumnya Twitter). Ia membalas unggahan seorang penggemar Manchester United yang memprediksi Arsenal akan menang telak 4-0.

Image

Dalam unggahannya, Diallo menulis, “Your only hope is corner,” yang berarti ‘Satu-satunya harapanmu adalah tendangan sudut,’ disertai emoji tertawa. Ia menambahkan, “Be humble KID,” atau ‘Sombonglah dengan rendah hati, Nak,’ diikuti emoji ‘diam’.

Sindiran ini bermula dari cuitan seorang penggemar yang memposting sebelum pertandingan, “Arsenal akan menang 4-0, mereka baru saja mengirimkan skripnya.” Diallo kemudian mengutip postingan tersebut dengan menampilkan skor akhir pertandingan dan menambahkan, “Nikmati, Nak,” dengan emoji mengedipkan mata.

Percakapan tersebut berlanjut dengan balasan penggemar tersebut yang tampaknya memicu reaksi lebih lanjut dari Diallo. Penggemar tersebut kemudian menulis, “Aku sudah mendukungmu sejak hari pertama, dan beginilah caramu memperlakukanku,” disertai emoji hati patah. Unggahan sebelumnya dari penggemar tersebut pada bulan Oktober juga merujuk pada Amad Diallo, membandingkannya dengan Mohamed Salah.

Diallo sendiri telah menjadi bagian penting dari skema Michael Carrick. Ia juga tampil penuh saat Manchester United mengalahkan Manchester City di derby pekan lalu. Sebelumnya, pemain asal Pantai Gading ini kerap dimainkan sebagai wing-back di bawah mantan manajer Ruben Amorim.

Kritik Patrick Vieira

Pernyataan Amad Diallo ini datang setelah mantan kapten Arsenal, Patrick Vieira, mengkritik sejumlah penyerang tim lamanya. Vieira mempertanyakan ‘kekuatan mental’ para pemain dalam perburuan gelar.

Berbicara di Sky Sports, Vieira menyatakan, “Mereka masih unggul empat poin, tetapi masih ada pertanyaan tentang kekuatan mental tim. Bukan hanya karena mereka kalah dalam pertandingan, tetapi cara mereka kalah. Saka dan Trossard tidak menghasilkan cukup untuk membuat United khawatir.”

Vieira menambahkan, “Mereka membutuhkan seorang pemimpin untuk membangkitkan semangat tim. Mereka perlu memahami bahwa ketika mereka berada di lapangan, mereka harus bermain dengan lebih banyak energi dan mengambil lebih banyak risiko. Mereka memiliki kualitas. Mereka tidak bermain dengan kebebasan untuk mengekspresikan diri.” dikutip dari dailymail.

Saat ditanya lebih lanjut mengenai pemain yang tidak tampil maksimal, Vieira menyebut, “Saya pikir Saka terlalu tenang. Saya pikir dia adalah salah satu pemain ofensif terbaik, dan dalam pertandingan besar seperti ini Anda mengharapkan dia untuk tampil. Trossard juga pemain penting. Dia tidak tampil.

Di lini depan, Jesus banyak berlari, menghabiskan banyak energi, tetapi Anda ingin dia lebih berada di dalam kotak penalti. Di lini tengah, satu-satunya adalah Declan Rice, memenangkan bola dan duel, tetapi terlalu banyak pemain yang bermain di bawah level mereka.”