Bumi sedang dihantam badai geomagnetik kategori G4 atau level “parah” akibat ledakan besar di permukaan Matahari.
Fenomena cuaca antariksa ini dipicu oleh jilatan api matahari kelas-X (X-class solar flare) pada 18 Januari 2026 yang diikuti oleh lontaran massa korona (CME) kolosal menuju atmosfer planet.
Pusat Prediksi Cuaca Luar Angkasa (SWPC) dari NOAA mencatat partikel bermuatan tersebut melesat dengan kecepatan antara 1.000 hingga 1.400 km/detik.
Selain badai geomagnetik, para ilmuwan mengonfirmasi terjadinya badai radiasi surya level S4. “Ini adalah badai radiasi matahari terbesar dalam lebih dari 20 tahun. Terakhir kali level S4 teramati adalah pada Oktober 2003,” ujar koordinator layanan SWPC, Shawn Dahl.
Pemicu Ledakan Energi Matahari
Fenomena ini bermula ketika Matahari memuntahkan flare kelas X1.9 yang melepaskan miliaran ton partikel bermuatan dan medan magnet. Semburan ini diperkuat oleh keberadaan lubang korona raksasa yang memungkinkan angin Matahari berembus lebih cepat ke seluruh tata surya.
Ketika materi plasma ini menghantam magnetosfer Bumi, terjadi gangguan besar pada medan magnet yang memicu percepatan partikel ke atmosfer atas.
Interaksi antara partikel matahari dengan gas di atmosfer inilah yang menciptakan aurora. Meskipun menawarkan pemandangan visual, badai kategori G4 ini berisiko mengganggu operasional satelit, sistem komunikasi berbasis satelit, akurasi GPS, hingga jaringan listrik di wilayah tertentu.
Wilayah Penampakan Aurora
Aktivitas geomagnetik yang intens menyebabkan aurora borealis atau cahaya utara terlihat di wilayah yang jauh lebih ke selatan dari biasanya.
Berdasarkan peta prakiraan NOAA, penduduk di 24 negara bagian Amerika Serikat, termasuk Washington, Michigan, hingga Maine, memiliki peluang besar menyaksikan fenomena ini.
Jika kekuatan badai meningkat ke level G5, aurora diprediksi bisa terlihat hingga Alabama dan California utara.
Para pengamat langit disarankan mencari lokasi yang gelap dan jauh dari polusi cahaya segera setelah hari gelap.
Selain Amerika Serikat, penampakan aurora yang jelas juga dilaporkan melintasi wilayah Kanada, Skotlandia, Irlandia Utara, dan Inggris utara.
Dampak di Wilayah Indonesia
Meskipun badai geomagnetik ini berskala ekstrem, fenomena aurora tetap merupakan peristiwa yang terpusat di sekitar kutub magnet Bumi.
Partikel bermuatan dari Matahari diarahkan oleh medan magnet planet menuju kutub utara dan selatan. Oleh karena itu, aurora borealis maupun aurora australis tidak dapat terlihat di wilayah tropis seperti Indonesia.
Indonesia yang berada di garis khatulistiwa terlindungi oleh bagian terkuat medan magnet Bumi yang menepis sebagian besar partikel bermuatan tersebut ke arah kutub.
Gangguan yang mungkin terjadi di Indonesia lebih bersifat teknis, seperti fluktuasi jangka pendek pada sistem navigasi GPS atau komunikasi radio frekuensi tinggi, namun tidak memberikan dampak visual di langit malam.
Informasi mengenai perkembangan cuaca antariksa dan peringatan badai geomagnetik ini dipantau serta diperbarui secara berkala oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) melalui situs resmi Space Weather Prediction Center.
Ikuti Ihram.co.id
