— Barcelona secara resmi telah mengajukan surat keluhan kepada Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF) terkait kepemimpinan wasit dan penggunaan teknologi Video Assistant Referee (VAR) dalam pertandingan leg pertama semifinal Copa del Rey melawan Atletico Madrid.

Kekalahan telak dengan skor 4-0 di Stadion Metropolitano pada Jumat (13/2/2026) dini hari WIB, menyisakan rasa frustrasi mendalam bagi klub asal Catalan tersebut, yang merasa dirugikan oleh sejumlah keputusan kontroversial.

Surat keluhan yang ditujukan kepada Presiden RFEF, Presiden Komite Teknis Wasit (CTA), kepala VAR, dan Direktur Penasihat Hukum tersebut, mengungkap keprihatinan mendalam FC Barcelona atas “kriteria homogenitas yang berulang” dalam perwasitan.

Klub menekankan bahwa inisiatif ini bukan untuk meragukan profesionalisme badan perwasitan, melainkan untuk menuntut peninjauan ulang mendesak terhadap kriteria yang diterapkan demi menjamin kredibilitas kompetisi, keseragaman keputusan, dan perlakuan yang setara bagi semua klub.

Insiden Kontroversial yang Memicu Protes

Beberapa momen krusial dalam pertandingan tersebut menjadi sorotan utama Barcelona. Salah satunya adalah dianulirnya gol Pau Cubarsi pada menit ke-52 babak kedua. Gol tersebut dibatalkan setelah melalui tinjauan VAR yang memakan waktu sekitar delapan menit, yang diklaim disebabkan oleh kegagalan teknis pada sistem *semi-automated offside technology* (SAOT).

Menurut laporan, padatnya jumlah pemain di kotak penalti saat insiden tersebut terjadi membuat sistem gagal mengidentifikasi posisi pemain secara otomatis, sehingga memaksa petugas VAR untuk menggambar garis offside secara manual.

Komite Teknis Wasit (CTA) mengakui adanya gangguan pada sistem tersebut, namun menegaskan bahwa keputusan akhir untuk menganulir gol tetap akurat karena Robert Lewandowski dianggap menyentuh bola yang membuat Cubarsi berada dalam posisi offside.

Namun, penjelasan ini dinilai tidak cukup memuaskan oleh manajemen Barcelona, yang merasa penundaan panjang tersebut merusak ritme permainan dan momentum pertandingan.

Selain itu, Barcelona juga menyoroti keputusan wasit Juan Martínez Munuera terkait pelanggaran yang dilakukan pemain Atletico Madrid. Bek Barcelona, Eric Garcia, yang juga menerima kartu merah pada menit ke-85, merasa kepemimpinan wasit terlalu tegas terhadap timnya namun dinilai lembek terhadap aksi keras lawan.

Garcia secara spesifik merujuk pada tekel Giuliano Simeone terhadap Alejandro Balde di awal babak kedua yang hanya berujung kartu kuning, padahal menurutnya layak mendapatkan kartu merah.

Tuntutan Barcelona kepada RFEF

Dalam surat keluhannya, FC Barcelona menguraikan lima kriteria utama yang menjadi perhatian mereka terkait perwasitan:

  • Kurangnya konsistensi dalam kriteria disipliner.
  • Kriteria yang kontradiktif dalam menangani insiden tangan di kotak penalti.
  • Akumulasi kesalahan yang signifikan dan berulang.
  • Aplikasi dan transparansi VAR.
  • Kriteria dalam peninjauan di monitor VAR.

Klub juga menyuarakan keraguan yang beralasan mengenai penggunaan dan penerapan teknologi VAR yang dianggap tidak konsisten, terutama dalam keputusan-keputusan kecil yang tidak disertai penjelasan teknis yang meyakinkan. Barcelona juga mengecam kurangnya transparansi dalam pengelolaan dan publikasi rekaman audio VAR.

Lebih lanjut, Barcelona mengusulkan pembentukan kode etik atau regulasi khusus bagi para wasit yang menetapkan konsekuensi publik dan transparan dalam kasus kesalahan serius atau kelalaian. Tujuannya adalah untuk memperkuat kepercayaan terhadap sistem perwasitan sepak bola Spanyol. Klub menegaskan bahwa tuntutan ini diajukan bukan untuk menyerang profesionalisme wasit, melainkan untuk mendorong perubahan konkret demi mencegah terulangnya situasi serupa di masa mendatang dan memastikan integritas kompetisi.

Konteks Laga dan Dampak

Kekalahan 4-0 dari Atletico Madrid di leg pertama semifinal Copa del Rey ini semakin mempersulit langkah Barcelona dalam mempertahankan gelar juara mereka. Dengan agregat yang jauh tertinggal, Barcelona kini dihadapkan pada tugas berat untuk membalikkan keadaan di leg kedua yang akan digelar di Camp Nou pada 4 Maret mendatang.

Pelatih Barcelona, Hansi Flick, sebelumnya telah mengungkapkan kekecewaannya terhadap kepemimpinan wasit dalam pertandingan tersebut. Ia merasa frustrasi dengan kurangnya komunikasi dari para ofisial pertandingan selama jeda VAR dan menganggap standar perwasitan sejak awal laga bermasalah. Sikap Barcelona yang memilih untuk mengajukan protes resmi ini juga mencerminkan rasa ketidakpercayaan yang mendalam terhadap sistem perwasitan, yang semakin menguat pasca skandal Negreira.