Barcelona secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari proyek European Super League (ESL) pada hari Sabtu, 7 Februari 2026. Keputusan ini meninggalkan rival abadi mereka, Real Madrid, sebagai satu-satunya klub yang masih mendukung inisiatif kontroversial tersebut.
Dalam sebuah pernyataan singkat, klub Catalan tersebut menginformasikan bahwa mereka telah memberitahukan kepada European Super League Company dan klub-klub yang terlibat mengenai penarikan diri mereka dari proyek tersebut. Pernyataan tersebut tidak merinci alasan lebih lanjut di balik keputusan ini.
Akhir dari Kemitraan
Proyek European Super League, yang pertama kali diumumkan pada April 2021 dengan 12 klub pendiri, telah mengalami serangkaian kemunduran dan penarikan diri sejak awal. Setelah enam klub Liga Primer Inggris menarik diri dalam waktu 72 jam akibat protes keras dari penggemar dan tekanan institusional, klub-klub Italia dan kemudian Atletico Madrid menyusul. Juventus menjadi salah satu anggota pendiri terakhir yang meninggalkan proyek ini pada Juli 2023.
Barcelona dan Real Madrid menjadi dua klub raksasa Spanyol yang tersisa sebagai pendukung utama ESL. Namun, hubungan antara kedua klub tersebut dilaporkan semakin memburuk dalam beberapa bulan terakhir, yang kemungkinan turut memengaruhi keputusan Barcelona.
Ketegangan dan Pergeseran Aliansi
Hubungan antara Real Madrid dan Barcelona dikabarkan telah mengalami ketegangan signifikan. Real Madrid, melalui upaya mereka dalam kasus Negreira yang melibatkan dugaan korupsi olahraga di Barcelona, telah meningkatkan tekanan terhadap klub Catalan tersebut.
Sebagai respons, Barcelona dilaporkan memperkuat hubungannya dengan UEFA dan European Club Association (ECA), yang sempat merenggang akibat keterlibatan mereka dalam proyek ESL.
Keputusan Barcelona untuk keluar dari ESL ini menandai pergeseran aliansi yang jelas. Klub Catalan kini menegaskan kembali komitmen mereka untuk beroperasi dalam kerangka institusional UEFA, sebuah langkah yang kontras dengan posisi Real Madrid yang terus mendorong format ESL yang mengutamakan tontonan gratis dengan liga yang lebih ringkas.
Real Madrid Tetap pada Pendiriannya
Meskipun Barcelona telah menarik diri, Real Madrid, di bawah kepemimpinan Florentino Pérez, tetap teguh pada pendiriannya untuk mempromosikan Super League. Real Madrid terus mengadvokasi model kompetisi Eropa yang baru, yang diusulkan akan menampilkan liga yang lebih ringkas dengan 18 tim, serta sistem promosi dan degradasi antar tiga divisi.
Real Madrid telah menjadi salah satu pendukung paling vokal dari reformasi sepak bola Eropa yang diusulkan oleh ESL. Namun, dengan keluarnya Barcelona, posisi Real Madrid dalam memajukan proyek ini menjadi semakin terisolasi. Perjuangan mereka untuk mewujudkan visi Super League kini tampaknya akan semakin berat tanpa dukungan dari klub besar lainnya.
Dampak dan Prospek Masa Depan
Keluarnya Barcelona dari proyek Super League ini dapat dianggap sebagai pukulan telak bagi inisiatif tersebut. Hal ini juga menggarisbawahi tantangan besar dalam mereformasi struktur sepak bola Eropa yang telah mengakar kuat.
Presiden Barcelona, Joan Laporta, sebelumnya telah mengisyaratkan keinginan klub untuk membangun kembali hubungan yang lebih erat dengan UEFA. Pernyataannya pada Oktober 2025, yang menekankan keinginan untuk “kembali ke UEFA” dan mencari “perdamaian di sepak bola Eropa,” kini tampak semakin relevan dengan keputusan terbaru ini.
Langkah ini membuka kemungkinan bagi Barcelona untuk kembali sepenuhnya terintegrasi dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh badan sepak bola Eropa.
Dengan Real Madrid sebagai satu-satunya klub yang tersisa dalam proyek yang kini tampaknya semakin suram, masa depan European Super League menjadi sangat tidak pasti. Keputusan Barcelona ini tidak hanya mengakhiri salah satu persaingan paling menarik dalam dinamika ESL, tetapi juga menandai babak baru dalam lanskap sepak bola Eropa.
Ikuti Ihram.co.id
