— Produsen kendaraan listrik asal China, BYD, kembali membuat gebrakan dengan memperkenalkan teknologi baterai generasi terbaru mereka, Blade Battery 2.0. Teknologi ini diklaim mampu meningkatkan kepadatan energi baterai sekaligus menghadirkan mobil listrik dengan jarak tempuh lebih dari 1.000 kilometer dalam sekali pengisian daya.

Peluncuran teknologi baru ini menunjukkan ambisi BYD untuk terus memperkuat posisinya di industri kendaraan listrik global. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan tersebut tidak hanya menjadi salah satu produsen mobil listrik terbesar di dunia, tetapi juga pemain utama dalam industri baterai kendaraan listrik.

Blade Battery 2.0 disebut menghadirkan peningkatan signifikan dibanding generasi sebelumnya, mulai dari efisiensi energi, kemampuan pengisian daya super cepat, hingga biaya produksi yang lebih efisien.

Denza Z9 GT Jadi Model Pertama dengan Range 1.000 Km

Salah satu model pertama yang menggunakan teknologi baru ini adalah Denza Z9 GT, mobil listrik premium dari sub-brand Denza milik BYD.

Dalam versi terbaru rear-wheel drive (RWD), BYD mengklaim Denza Z9 GT mampu menempuh jarak hingga 1.036 kilometer dalam sekali pengisian daya. Angka tersebut dihitung menggunakan standar pengujian CLTC (China Light-Duty Vehicle Test Cycle) yang umum digunakan di China.

Meski standar CLTC dikenal menghasilkan angka jarak tempuh yang lebih optimistis dibanding standar EPA di Amerika Serikat atau WLTP di Eropa, capaian tersebut tetap menempatkan Z9 GT sebagai salah satu mobil listrik dengan jarak tempuh paling jauh yang pernah diumumkan.

Denza Z9 GT sendiri merupakan model premium yang juga dibekali berbagai teknologi canggih, termasuk fitur “crab walking” yang memungkinkan mobil bergerak menyamping untuk memudahkan manuver di ruang parkir sempit.

SUV Listrik Tiga Baris Juga Tembus 950 Km

Selain sedan listrik, BYD juga memperkenalkan SUV listrik tiga baris premium bernama BYD Datang, yang menjadi bagian dari lini Dynasty.

SUV berukuran besar ini memiliki panjang sekitar 5,2 meter (17 kaki) dan dirancang sebagai kendaraan keluarga dengan kabin luas. Meski dimensinya besar, performanya tetap impresif.

BYD menyebut SUV Datang mampu berakselerasi dari 0 hingga 100 km/jam dalam sekitar 3,9 detik. Sementara untuk jarak tempuh, versi rear-wheel drive diklaim mampu mencapai 950 kilometer dalam sekali pengisian daya berdasarkan standar CLTC.

Jika dikonversi ke standar pengujian EPA yang lebih konservatif, jarak tempuh tersebut diperkirakan tetap berada di kisaran 700 kilometer lebih, membuatnya berpotensi bersaing dengan SUV listrik premium seperti Lucid Gravity.

Dukungan Pengisian Megawatt Flash Charging

Blade Battery 2.0 juga dirancang untuk bekerja dengan arsitektur listrik 1000 volt, yang memungkinkan teknologi megawatt flash charging.

Dengan teknologi ini, BYD mengklaim baterai besar pada SUV Datang dapat diisi cukup untuk kebutuhan perjalanan harian hanya dalam sekitar lima menit pengisian daya.

Perusahaan juga tengah mengembangkan jaringan pengisian cepat baru yang diklaim sebagai megawatt charging network terbesar di dunia. Stasiun pengisian ini memiliki daya hingga 1,5 megawatt dengan desain kabel menggantung untuk memudahkan pengguna.

Sementara itu, Denza Z9 GT disebut dapat mengisi daya hingga 97 persen dalam waktu sekitar sembilan menit, menjadikannya salah satu mobil listrik dengan kemampuan pengisian tercepat di kelasnya.

Harga Mulai Sekitar Rp630 Jutaan

Menariknya, meski membawa teknologi baterai baru dengan kepadatan energi lebih tinggi, BYD menyebut Blade Battery 2.0 justru lebih efisien dari sisi produksi.

Hal ini memungkinkan harga kendaraan tetap kompetitif.

  • Denza Z9 GT diperkirakan dibanderol mulai sekitar US$39.000 (sekitar Rp630 juta).
  • Sementara SUV BYD Datang diprediksi memiliki harga awal di bawah US$60.000 (sekitar Rp970 juta).

SUV Datang dijadwalkan mulai tersedia di dealer dalam beberapa bulan ke depan, sementara Denza Z9 GT akan menjadi salah satu model pertama yang memperkenalkan teknologi Blade Battery 2.0 ke pasar.

Dengan inovasi ini, BYD semakin menegaskan fokusnya pada pengembangan teknologi baterai dan efisiensi kendaraan listrik, dua faktor yang dinilai akan menentukan persaingan industri otomotif listrik di masa depan.