— Penyebaran virus Nipah (NiV) menjadi isu kesehatan global yang memerlukan perhatian serius di awal tahun 2026 ini. Sebagai virus zoonosis, Nipah memiliki mekanisme penularan yang kompleks, mulai dari interaksi dengan hewan liar hingga transmisi antar-manusia di lingkungan medis.

Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI, virus ini memiliki tingkat fatalitas yang sangat tinggi, berkisar antara 40% hingga 75% dari total kasus terkonfirmasi.

Cara penularan virus Nipah secara umum dapat dikategorikan menjadi tiga jalur utama: kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, konsumsi makanan yang terkontaminasi cairan tubuh inang, dan kontak erat dengan penderita (manusia ke manusia).

Memahami jalur transmisi ini sangat krusial karena hingga saat ini belum ada vaksin atau obat khusus untuk mengobati infeksi virus Nipah baik pada manusia maupun hewan.

Transmisi Zoonotik: Kontak Langsung dengan Hewan Inang

Jalur penularan yang paling awal dan utama adalah melalui hewan. Inang alami virus Nipah adalah kelelawar buah dari genus Pteropus (sering disebut kalong). Virus ini menetap di tubuh kelelawar tanpa menyebabkan gejala sakit pada hewan tersebut, namun virus dilepaskan melalui sekresi seperti air liur, urine, dan kotoran kelelawar ke lingkungan sekitar.

Selain kelelawar, babi berperan sebagai inang perantara atau “amplifier host”. Manusia yang bekerja di peternakan babi memiliki risiko tertinggi tertular melalui kontak langsung dengan babi yang sakit. Penularan terjadi saat manusia terpapar droplet pernapasan atau cairan tubuh babi yang terinfeksi selama proses pemeliharaan atau penyembelihan.

“Virus Nipah ditularkan ke manusia melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar atau babi, atau melalui makanan yang telah terkontaminasi oleh cairan tubuh hewan tersebut,” sebagaimana dikutip dari ayosehat.kemkes.go.id pada Senin (2/2/2026).

Paparan ini sering kali terjadi tanpa disadari oleh para pekerja di sektor agrikultur atau masyarakat yang tinggal berdekatan dengan habitat kelelawar buah.

Kontaminasi Makanan dan Minuman dari Cairan Inang

Penularan virus Nipah melalui jalur makanan (foodborne transmission) sering menjadi penyebab wabah di beberapa negara Asia. Virus dapat berpindah ke manusia melalui konsumsi buah-buahan atau produk nabati yang telah terkontaminasi oleh urine atau air liur kelelawar buah yang terinfeksi. Kasus yang paling sering dilaporkan adalah kontaminasi pada nira atau air sadapan pohon aren dan kurma.

Kelelawar buah sering kali menjilati atau membuang kotoran pada wadah penampung nira yang dipasang di atas pohon pada malam hari.

Jika nira tersebut dikonsumsi dalam keadaan mentah tanpa melalui proses pemanasan atau sterilisasi, virus yang masih aktif akan masuk ke dalam tubuh manusia. Hal yang sama berlaku untuk buah-buahan yang ditemukan di tanah atau pohon yang memiliki bekas gigitan hewan liar.

Masyarakat disarankan untuk tidak mengonsumsi buah yang terdapat bekas gigitan kelelawar dan pastikan selalu mencuci buah dengan bersih di bawah air mengalir sebelum dikonsumsi,” tulis tim medis dalam ulasan di alodokter.com.

Pencegahan melalui kebersihan pangan menjadi salah satu pilar utama dalam memutus rantai penularan di tingkat rumah tangga.

Risiko Penularan Antar-Manusia dan Kontak Erat

Salah satu karakteristik virus Nipah yang paling diwaspadai adalah kemampuannya untuk menular dari manusia ke manusia. Jalur penularan ini biasanya terjadi pada keluarga atau tenaga medis yang memberikan perawatan kepada pasien yang terinfeksi tanpa protokol perlindungan yang memadai. Penularan terjadi melalui kontak fisik langsung dengan cairan tubuh pasien, seperti dahak (sputum), darah, atau urine.

Di lingkungan rumah sakit, transmisi dapat terjadi melalui droplet saat pasien batuk atau bersin. Karena gejala awal virus Nipah mirip dengan penyakit pernapasan lainnya atau meningitis, diagnosis sering kali terlambat sehingga meningkatkan risiko paparan bagi orang di sekitar pasien. Transmisi ini disebut sebagai infeksi nosokomial, di mana penyebaran terjadi di dalam fasilitas layanan kesehatan.

“Penularan dari manusia ke manusia dapat terjadi melalui kontak erat dengan pasien yang terinfeksi melalui droplet, urine, atau darah penderita,” dilansir dari penjelasan medis di halodoc.com.

Oleh karena itu, isolasi ketat bagi suspek pasien Nipah sangat diperlukan untuk mencegah penyebaran yang lebih luas di masyarakat maupun lingkungan medis.

Langkah Pencegahan dan Deteksi Dini

Mengingat cara penularannya yang beragam, langkah pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh. Kementerian Kesehatan RI terus mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari interaksi dengan hewan liar, terutama kelelawar buah. Penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan dan masker sangat disarankan bagi para peternak atau mereka yang bekerja di area yang memiliki populasi kelelawar tinggi.

Deteksi dini adalah kunci untuk menurunkan angka kematian. Gejala awal yang harus diwaspadai meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan nyeri tenggorokan. Dalam kasus yang berat, penderita dapat mengalami disorientasi, kejang, hingga radang otak (ensefalitis) yang dapat menyebabkan koma dalam waktu 24 hingga 48 jam.

Hingga Februari 2026, pemerintah Indonesia melalui platform SATUSEHAT terus memperkuat sistem pemantauan di pintu masuk negara guna memantau pelaku perjalanan dari wilayah yang melaporkan kasus Nipah. Masyarakat diharapkan segera melaporkan ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala setelah melakukan kontak dengan hewan atau bepergian dari daerah terdampak agar rantai penularan dapat segera diputus.