— Aktor kenamaan Hollywood, Chris Pratt, secara tegas menyatakan ketidakyakinannya terhadap tren penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk menggantikan peran aktor manusia. Dalam wawancara terbaru saat pemutaran perdana film terbarunya, Mercy, bintang Guardians of the Galaxy ini menyebut bahwa keresahan mengenai aktor digital hanyalah isu yang berlebihan.

Kritik Pedas Terhadap Tren Aktor AI

Pratt menanggapi viralnya sosok Tilly Norwood, seorang aktris berbasis AI yang belakangan menjadi perbincangan hangat di industri perfilman.

Menurutnya, teknologi tersebut belum mampu membuktikan kualitas yang setara dengan kehadiran fisik dan emosional seorang aktor di lokasi syuting.

“Aku merasa tidak akan pernah bisa digantikan oleh AI. Mengenai Tilly Norwood, menurutku itu hanya omong kosong. Aku bahkan tidak tahu siapa dia dan belum pernah melihat karyanya. Itu semua hal remeh sebelum mereka benar-benar bisa membuktikannya,” ujar Pratt kepada Variety pada Rabu (21/1).

Produksi Film Mercy Tolak Penggunaan Teknologi AI

Menariknya, film Mercy sendiri mengambil latar masa depan di mana Pratt berperan sebagai seorang detektif yang harus berhadapan dengan hakim AI.

Meski tema filmnya sangat lekat dengan teknologi, Pratt mengungkapkan bahwa tim produksi secara bulat menolak ide untuk menggunakan aktor AI sungguhan dalam proses pembuatan film.

Beberapa poin utama terkait sikap tim produksi Mercy antara lain:

  • Seluruh jajaran pemain dan kru bersikap resisten terhadap penggunaan aktor digital.
  • Keyakinan bahwa teknologi AI tidak akan berhasil memberikan dampak emosional yang sama.
  • Fokus pada pengalaman imersif penonton melalui akting manusia yang memiliki jiwa.

Ketakutan Sebagai Orang Tua

Meski menolak AI dalam ranah profesional akting, Pratt mengaku dirinya adalah pengguna teknologi canggih dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ia tidak menampik adanya rasa khawatir jika teknologi ini mulai menyentuh aspek-aspek yang sangat manusiawi.

“Aku menyukai AI dan menggunakannya setiap saat, tetapi sebagai orang tua, hal itu terkadang membuatku takut. Di sisi lain, memang harus diakui bahwa teknologi ini sangat keren,” tambahnya. Ia menekankan bahwa film Mercy yang berdurasi 90 menit secara real-time hanya bisa berhasil jika diperankan oleh manusia yang mampu menyalurkan ketegangan secara organik kepada penonton.