Indonesia diprediksi masih akan dilanda cuaca ekstrem hingga akhir Januari 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat yang dipicu oleh beberapa faktor atmosferik, termasuk keberadaan bibit siklon tropis di selatan Indonesia dan penguatan Monsun Asia.
Fenomena ini telah menyebabkan peningkatan curah hujan di berbagai wilayah dalam beberapa hari terakhir. BMKG mencatat kejadian hujan intensitas lebat di Nusa Tenggara Barat (83,8 mm/hari), Maluku (70,4 mm/hari), Sulawesi Selatan (63,4 mm/hari), Bali (61,5 mm/hari), Banten (60,2 mm/hari), Jawa Barat (54,8 mm/hari), dan Sulawesi Barat (50,1 mm/hari). Kondisi ini memerlukan kewaspadaan tinggi dari masyarakat, terutama di wilayah yang diprediksi akan terdampak.
Faktor Penyebab Cuaca Ekstrem
Menurut BMKG, cuaca ekstrem yang terjadi merupakan hasil kombinasi dari beberapa faktor regional dan global. Keberadaan dua bibit siklon tropis, yaitu Bibit Siklon Tropis 91S di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat dan Bibit Siklon Tropis 92P di Teluk Carpentaria, menjadi salah satu pemicu utama.
Kedua bibit siklon ini membentuk daerah konvergensi dalam skala luas di wilayah selatan Indonesia, meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku bagian Selatan, hingga Papua Selatan. Bibit Siklon Tropis 91S bahkan dilaporkan telah memenuhi seluruh syarat pembentukan siklon tropis dan berpotensi tinggi menjadi siklon dalam 24-48 jam ke depan, meskipun pergerakannya menjauhi Indonesia menuju Australia.
Selain itu, penguatan Monsun Asia yang membawa massa udara lembap dari Laut Cina Selatan turut berkontribusi signifikan. Monsun Asia ini bergerak ke wilayah Indonesia melalui Selat Karimata dan diperkuat oleh seruakan dingin (cold surge) dari dataran tinggi Siberia yang mencapai Pulau Jawa. Fenomena cold surge ini meningkatkan kecepatan angin di Laut Cina Selatan dan memicu pertumbuhan awan hujan secara masif di wilayah selatan khatulistiwa.
Dinamika atmosfer lainnya seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Equator, dan Gelombang Kelvin yang aktif juga turut memperkuat pembentukan awan kumulonimbus. Kombinasi seluruh faktor ini menciptakan labilitas atmosfer yang kuat, mendukung proses konvektif skala lokal, dan meningkatkan potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah terdampak.
Prakiraan Cuaca Hingga Akhir Januari 2026
BMKG memprakirakan cuaca di Indonesia secara umum akan didominasi oleh hujan ringan hingga hujan lebat pada periode 23 hingga 29 Januari 2026. Peningkatan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat perlu diwaspadai di beberapa wilayah seperti Aceh, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Tengah, dan Papua.
Secara spesifik, pada periode 23-25 Januari 2026, potensi hujan lebat hingga ekstrem disertai kilat/petir dan angin kencang diprediksi terjadi di beberapa wilayah. BMKG menetapkan status Awas untuk Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Timur, serta status Siaga untuk DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Papua Pegunungan. Angin kencang berpotensi terjadi di Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Memasuki periode 26-29 Januari 2026, kewaspadaan terhadap peningkatan hujan intensitas sedang-lebat tetap diperlukan di wilayah yang telah disebutkan. Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang juga berpotensi terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut: Siaga untuk hujan lebat hingga sangat lebat di Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Papua Pegunungan. Angin kencang berpotensi terjadi di Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Peningkatan curah hujan di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) diperkirakan berlangsung pada 25-26 Januari 2026. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem ini dan terus memantau informasi resmi BMKG.
Dampak Cuaca Ekstrem
Potensi cuaca ekstrem ini dapat memicu berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan genangan air. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengingatkan bahwa dinamika atmosfer saat ini menunjukkan peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah selatan Indonesia, yang dapat memicu peningkatan potensi banjir dan longsor. Gangguan pada sektor transportasi juga dapat terjadi akibat cuaca buruk.
BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi cuaca buruk. Mengingat Januari dan Februari merupakan fase puncak musim hujan 2025/2026, potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi diperkirakan masih tinggi hingga akhir Februari 2026. Masyarakat diimbau untuk selalu memperbarui informasi cuaca dari sumber resmi BMKG dan mengambil langkah mitigasi yang diperlukan.
Ikuti Ihram.co.id
