Discord akan mulai menerapkan kebijakan pemindaian wajah dan pemeriksaan identitas secara global pada Maret 2026 bagi pengguna yang ingin menghindari pembatasan konten remaja. Langkah ini mewajibkan verifikasi usia untuk memastikan pengguna mendapatkan akses penuh ke berbagai fitur di platform tersebut.

Pengguna yang memilih untuk tidak melakukan verifikasi akan dimasukkan ke dalam kategori pengalaman yang sesuai untuk remaja. Kebijakan ini berdampak pada sejumlah fungsionalitas spesifik yang selama ini menjadi bagian utama dari interaksi di Discord.

Pembatasan Fitur dan Akses Server

Pengguna yang tidak terverifikasi dewasa akan kehilangan kemampuan untuk berbicara di stage channels, sebuah fitur yang memungkinkan pembicara berinteraksi dengan audiens dalam skala besar. Selain itu, terdapat pembatasan tambahan pada pengiriman pesan langsung (DM) dan permintaan pertemanan.

Discord juga akan membatasi akses ke server-server tertentu yang dinilai memerlukan batas usia. Pengguna yang memiliki kekhawatiran privasi dan enggan memberikan informasi identitas kepada Discord dipastikan tidak dapat berpartisipasi dalam komunitas-komunitas yang telah dikategorikan untuk dewasa tersebut.

Mekanisme Identifikasi Konten

Terkait penentuan server yang akan dibatasi, perwakilan Discord memberikan klarifikasi kepada GamesMarket. Discord menyatakan tidak akan secara otomatis membatasi server atau konten yang terkait dengan gim tertentu hanya berdasarkan rating gim tersebut.

Penyaringan konten akan dilakukan melalui kombinasi deteksi otomatis dengan validasi kecerdasan buatan (AI) serta tinjauan manusia. Metode ini diterapkan untuk mengidentifikasi dan menetapkan batasan usia pada server secara proaktif berdasarkan aktivitas dan konten di dalamnya.

Eksperimen di Inggris dan Isu Privasi

Kebijakan ini juga menyoroti pelaksanaan eksperimen verifikasi usia yang telah dimulai di Inggris. Discord melibatkan vendor verifikasi pihak ketiga yang mendapatkan pendanaan dari investor Peter Thiel, salah satu pendiri perusahaan penyedia layanan pengawasan Palantir.

Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait data pribadi di kalangan pengguna. Situasi tersebut mendorong munculnya diskursus mengenai penggunaan alternatif platform komunikasi gratis lainnya atau kembali menggunakan protokol komunikasi lama seperti IRC.