Ernest Prakasa akhirnya buka suara mengenai isu keuntungan fantastis film Agak Laen 2 yang disebut-sebut mencapai ratusan miliar rupiah. Ia memberikan penjelasan rinci mengenai bagaimana sebenarnya perhitungan keuntungan sebuah film di Indonesia, menegaskan bahwa angka tersebut tidak sesederhana yang dibayangkan.
Penjelasan ini disampaikan Ernest saat menjadi tamu dalam podcast Daging Talk – Need A Talk yang dipandu Atta Halilintar. Ia menanggapi pertanyaan mengenai dugaan keuntungan film Agak Laen 2 yang mencapai Rp300 miliar.
Ernest Prakasa menjelaskan bahwa angka keuntungan film tidak bisa dihitung hanya dari jumlah penonton dikalikan harga tiket. Ia memaparkan alur perhitungan pendapatan yang diterima produser.
“Sebenarnya kalau mau simpel kan hitung sendiri aja. Tiket bioskop itu kan range-nya dari Rp25.000 sampai sekitar Rp40.000 kalau weekend. Jadi kalau di produser itu kita punya hitungan pendapatan bioskop dipotong pajak dibagi dua antara bioskop sama pemilik film,” jelas Ernest Prakasa.
Lebih lanjut, ia merinci bahwa pendapatan bersih yang diterima produser per penonton berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp18.000. Angka ini didapat setelah dipotong pajak dan dibagi antara pihak bioskop dan pemilik film.
“Nah, itu kan per film range-nya 15 sampai 18 ribu lah kurang lebih ya. Lu kaliin aja jumlah penontonnya berapa kan dari situ tuh dapat omsetnya.”
Namun, Ernest menekankan bahwa angka tersebut masih berupa omzet kotor. Dari omzet tersebut, masih harus dipotong lagi berbagai biaya operasional, seperti biaya produksi dan promosi, serta pengembalian modal kepada para investor.
Lebih lanjut, Ernest juga mengungkapkan bahwa ia tidak pernah menjadi investor mayoritas dalam proyek film, termasuk Agak Laen 2. Hal ini dilakukannya untuk mengelola stres dan risiko.
“Karena kita tidak pernah punya film di mana kita menjadi majority investor, tak karena enggak kuat sama stresnya, jujur gitu. Karena gambling-nya ngeri banget gua. Walaupun PH gua sendiri tapi kita selalu minority investor,” tuturnya.
Pengalaman merugi di film-film sebelumnya mendorong Ernest untuk menerapkan strategi pembagian risiko. Ia memilih untuk berbagi potensi pendapatan dengan investor lain sebagai mitra strategis.
“Jadi kita bagi-bagi aja lah resikonya, kita bagi-bagi potensi pendapatan ya kita bagi-bagi juga sama teman-teman gitu strategic partner lah kalau kita nyebutnya gitu,” ujarnya.
Ikuti Ihram.co.id
