— Djajang Nurjaman menilai Persib Bandung saat ini mengalami kesulitan dalam menerbitkan pemain muda asli didikan internal untuk menembus skuad utama. Sosok yang akrab disapa Djanur tersebut menyoroti perubahan regulasi pemain asing di setiap musim yang dianggap menghambat kesempatan bagi talenta lokal.

Hambatan Regenerasi Pemain Lokal

Persib Bandung sebenarnya memiliki sistem pembinaan yang terstruktur melalui kompetisi internal untuk menjaring pemain muda. Berdasarkan keterangan Djajang, terdapat tiga tim usia muda yang dipersiapkan, dengan skuad U-20 sebagai jenjang terdekat menuju tim senior.

Djanur menyatakan bahwa setiap tahun selalu ada dua hingga tiga pemain yang didorong untuk menjadi bagian dari tim senior. Namun, ia menyayangkan peningkatan kuota pemain asing di Liga 1 yang berdampak langsung pada pengurangan kesempatan bermain bagi pemain lokal.

“Ya, setuju ini suatu kesulitan tersendiri. Di mana kita terus membina pemain-pemain muda di lingkungan Persib. Selalu melakukan kompetisi internal, kemudian akhirnya kita memilih pemain,” ujar Djanur dalam wawancaranya kepada KOMPAS.com.

Ia menegaskan bahwa peningkatan jumlah pemain asing menjadi tantangan bagi pemain muda. “Kesempatan untuk pemain-pemain lokalnya semakin berkurang,” tegasnya.

Urgensi Menit Bermain bagi Pemain Muda

Meskipun aktif mempromosikan pemain dari Elite Pro Academy (EPA) U-20 ke sesi latihan tim utama, Djanur menganggap langkah tersebut belum cukup. Menurutnya, pemain muda membutuhkan jam terbang dalam pertandingan resmi agar kualitas mereka terus berkembang.

Djanur mengaku telah menyampaikan permasalahan ini kepada pihak manajemen untuk mencari jalan keluar. Ia menilai keberadaan pemain muda di skuad senior tidak akan memberikan dampak signifikan jika mereka tidak mendapatkan kesempatan bertanding secara reguler.

“Ini harus ada solusi, harus ada jalan keluar. Karena memang pemain tidak cukup hanya dengan latihan, butuh main,” kata Djanur.

Ia juga memperingatkan risiko stagnasi prestasi jika pemain muda hanya dijadikan pelengkap dalam sesi latihan. Menurutnya, manajemen dan federasi perlu memikirkan mekanisme agar pemain muda dapat berkontribusi maksimal hingga nantinya mampu menembus tim nasional.

Tantangan Regulasi dan Prioritas Pelatih

Djanur mengusulkan adanya perubahan regulasi, termasuk kemungkinan mewajibkan penggunaan pemain dengan batasan usia yang lebih muda dari U-23. Namun, ia tetap meragukan efektivitas aturan tersebut jika kuota pemain asing tidak dievaluasi kembali.

Faktor lain yang menjadi sorotan adalah dominasi pelatih asing di kompetisi kasta tertinggi Indonesia. Djanur menilai para pelatih asing cenderung memprioritaskan hasil akhir dan kemenangan tim daripada fokus pada pengembangan atau pengorbitan pemain muda.

“Pasti mereka memikirkan bagaimana timnya supaya menang. Tidak memikirkan bagaimana bisa mengorbitkan pemain-pemain muda. Itu menjadi target sendiri,” ungkapnya.

Djanur menambahkan bahwa meskipun regulasi usia dimajukan, tantangan tetap berat jika aturan memperbolehkan penggunaan pemain asing dalam jumlah banyak. Kondisi tersebut dinilai tetap menyulitkan pemain muda untuk mendapatkan posisi di tim utama.