— Penyanyi dan penulis lagu asal Korea-Amerika, EJAE (Kim Eun-jae), resmi mencatatkan namanya dalam sejarah industri hiburan global setelah lagunya, “Golden”, masuk dalam nominasi Best Original Song pada ajang Academy Awards ke-98. Pengumuman nominasi Oscar 2026 yang dirilis pada Kamis (22/1/2026) tersebut menempatkan EJAE sebagai salah satu kandidat kuat peraih piala emas lewat kontribusinya dalam film animasi Netflix, K-Pop: Demon Hunters.

Pencapaian ini menjadi puncak dari narasi “pembuktian diri” yang panjang bagi musisi berusia 34 tahun tersebut. Sebelum dikenal sebagai pengisi suara karakter Rumi sekaligus penulis lagu hit, EJAE harus melewati masa sulit selama lebih dari satu dekade sebagai trainee di bawah naungan agensi raksasa Korea Selatan, SM Entertainment, tanpa pernah sekalipun merasakan panggung debut sebagai idol.

Satu Dekade dalam Ketidakpastian

Perjalanan EJAE dimulai pada tahun 2003 saat ia bergabung dengan SM Entertainment di usia 11 tahun. Selama 12 tahun berikutnya, ia menjalani rutinitas pelatihan yang berat demi mewujudkan mimpinya menjadi solois atau anggota grup wanita. Namun, saat rekan-rekan seangkatannya terpilih untuk grup-grup besar seperti Girls’ Generation, EJAE tetap berada di ruang latihan tanpa kejelasan status.

Pada tahun 2015, SM Entertainment akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkannya dalam program pelatihan tersebut. EJAE mendeskripsikan momen itu sebagai titik terendah dalam hidupnya yang penuh dengan keraguan diri dan rasa kecewa terhadap mimpinya sejak kecil.Ia sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan industri musik sepenuhnya sebelum akhirnya beralih ke jalur produksi lagu.

Titik Balik Lewat ‘Psycho’ dan Estetika K-Pop

Dua tahun setelah dilepas oleh agensinya, EJAE kembali ke SM Entertainment, namun dengan peran yang berbeda.Ia diundang untuk mengikuti songwriting camp yang kemudian melahirkan lagu “Psycho” untuk Red Velvet. Lagu tersebut sukses besar secara global dan mendapatkan sertifikasi emas di Amerika Serikat, yang sekaligus menjadi tiket masuk EJAE sebagai salah satu penulis lagu paling dicari di industri K-Pop.

Keberhasilan “Psycho” membuka jalan bagi EJAE untuk berkolaborasi dengan grup-grup papan atas lainnya. Ia tercatat sebagai sosok di balik lagu-lagu hit seperti “Drama” dan “Armageddon” milik Aespa, serta berbagai karya untuk Twice, Le Sserafim, NMIXX, hingga Fifty Fifty. Transformasi ini membuktikan bahwa meski gagal secara visual sebagai idol, kemampuan musikalitasnya diakui sebagai standar tertinggi di industri tersebut.

Momentum Emas di Golden Globes 2026

Keberhasilan lagu “Golden” yang dibawakan oleh grup fiksi Huntr/x dalam film K-Pop: Demon Hunters telah diprediksi banyak pihak sejak mendominasi tangga lagu Billboard Hot 100 selama delapan minggu. Sebelum nominasi Oscar diumumkan, EJAE telah lebih dulu membawa pulang piala di ajang Golden Globes pada 11 Januari 2026.

Dalam pidato kemenangannya yang emosional di Beverly Hills, EJAE menyampaikan pesan kuat mengenai kegagalan dan ketahanan diri. Sambil meneteskan air mata, ia menceritakan bagaimana dirinya pernah dianggap “tidak cukup baik” oleh industri yang ia cintai. Pidato tersebut langsung viral dan dianggap sebagai bentuk kritik halus sekaligus inspirasi bagi para trainee yang mengalami nasib serupa.

“Penolakan adalah pengalihan arah (rejection is redirection). Penghargaan ini saya dedikasikan bagi siapa pun yang pintunya pernah tertutup rapat. Belum terlambat untuk bersinar sesuai takdir kalian,” ujar EJAE dalam pidatonya di Golden Globes, dilansir dari Billboard.

Menuju Panggung Academy Awards

Kini, EJAE bersiap untuk tampil di panggung Academy Awards yang dijadwalkan berlangsung pada 15 Maret 2026. Meski mengaku memiliki demam panggung yang parah, ia telah mengonfirmasi adanya pembicaraan untuk menampilkan lagu “Golden” secara langsung di hadapan para sineas dunia. Lagu tersebut bersaing ketat dengan soundtrack film Sinners yang juga meraih banyak nominasi tahun ini.

Keterlibatan EJAE dalam K-Pop: Demon Hunters bukan sekadar pengisi suara, melainkan nyawa dari karakter Rumi. Sutradara Maggie Kang menyebut EJAE sebagai “hati dan jiwa” dari produksi film ini karena ia memahami betul tekanan psikologis dan perjuangan yang dialami oleh para idol di balik layar.

Dengan nominasi Oscar ini, EJAE tidak hanya membuktikan kapasitasnya sebagai produser, tetapi juga mengukuhkan posisinya sebagai representasi musisi diaspora yang mampu mendefinisikan ulang batas-batas genre K-Pop di kancah perfilman internasional. Jika ia memenangkan piala pada Maret mendatang, EJAE akan menjadi musisi berlatar belakang K-Pop pertama yang meraih penghargaan tertinggi di dunia perfilman tersebut.