Ihram.co.id — Pemain tengah Chelsea, Enzo Fernandez, mengungkapkan pengakuan mengejutkan dari rekan setimnya, Marc Cucurella, mengenai perasaan takut yang sempat menghantuinya sebelum pertandingan Finalissima. Pengakuan ini muncul dalam sebuah percakapan santai antara kedua pemain yang kini berbagi ruang ganti di klub Liga Primer Inggris tersebut.
Pertandingan ini merupakan edisi ketiga dari trofi yang sebelumnya dikenal sebagai Piala Artemio Franchi, yang membangkitkan kembali rivalitas antara juara Amerika Selatan dan Eropa. Dalam laga tersebut, Argentina tampil dominan dan berhasil meraih kemenangan telak 3-0 atas Italia berkat gol-gol dari Lautaro Martínez, Ángel Di María, dan Paulo Dybala.
Konteks Pertemuan Finalissima
Pertandingan Finalissima 2022 sendiri merupakan ajang pembuktian bagi kedua tim setelah meraih gelar kontinental masing-masing. Bagi Italia, laga ini menjadi ujian setelah kegagalan mereka lolos ke Piala Dunia 2022, sekaligus menjadi laga terakhir bagi kapten legendaris mereka, Giorgio Chiellini.
Sementara itu, Argentina, di bawah asuhan Lionel Scaloni, melanjutkan tren positif mereka dengan memperpanjang rekor tak terkalahkan menjadi 32 pertandingan. Kehadiran Lionel Messi yang tampil sebagai pengatur serangan menjadi inspirasi utama bagi skuad La Albiceleste.
Pengakuan Cucurella
Dalam sebuah wawancara terbaru, Enzo Fernández, yang saat ini bermain bersama Cucurella di Chelsea, membeberkan percakapannya dengan bek kiri asal Spanyol tersebut. Fernández menyatakan bahwa Cucurella sempat mengaku merasakan sedikit rasa takut sebelum menghadapi Argentina di Finalissima. “Kami selalu membicarakan Finalissima dengan Cucurella. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia sedikit takut,” ujar Fernández, yang berbagi skuad dengan pemain Spanyol itu di Chelsea.
Pernyataan ini menarik mengingat status kedua pemain yang kini menjadi rekan setim. Laga Finalissima sendiri bukan merupakan pertandingan antara Spanyol dan Argentina, melainkan antara Italia dan Argentina. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa Cucurella, sebagai pemain Spanyol, memiliki pandangan tersendiri atau mungkin terdapat kesalahpahaman dalam percakapan tersebut mengenai lawan yang dihadapi Italia. Perlu dicatat bahwa terdapat rencana sebelumnya untuk pertandingan persahabatan antara Argentina dan Spanyol yang akhirnya dibatalkan karena situasi politik di Timur Tengah, yang mungkin juga menjadi sumber kebingungan.
Performa Argentina dan Italia
Argentina tampil superior di pertandingan tersebut, mengendalikan jalannya laga sejak awal. Gol Lautaro Martínez pada menit ke-28, assist dari Messi, membuka keunggulan bagi Argentina. Di Maria kemudian menggandakan skor sesaat sebelum jeda, memanfaatkan assist dari Lautaro Martinez.
Di babak kedua, meskipun Italia berusaha bangkit, pertahanan Argentina yang solid dan penampilan gemilang kiper mereka membuat tim asuhan Roberto Mancini kesulitan mencetak gol. Pesta gol Argentina ditutup oleh Dybala di masa injury time, mengukuhkan dominasi mereka di Wembley.
Pengakuan Cucurella ini, meskipun disampaikan dalam konteks pertemanan dan kemungkinan pembicaraan santai, memberikan perspektif menarik tentang bagaimana para pemain merasakan tekanan dan atmosfer pertandingan besar seperti Finalissima. Rasa hormat terhadap kekuatan timnas Argentina, terutama di bawah kepemimpinan Messi, tampaknya juga dirasakan oleh pemain dari timnas lain, bahkan yang tidak secara langsung bertanding melawan mereka di laga tersebut.
Ikuti Ihram.co.id
