Ihram.co.id — Film terbaru Dian Sastrowardoyo bertajuk “Esok Tanpa Ibu” resmi mulai tayang di bioskop tanah air sejak 22 Januari 2026. Menggabungkan genre drama keluarga dengan sentuhan fiksi ilmiah (sci-fi), film ini mengeksplorasi batas antara kedukaan manusia dan intervensi teknologi melalui kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Replika Digital di Tengah Kedukaan
Alur cerita berfokus pada kehidupan Rama (Ali Fikry), seorang remaja berusia 16 tahun yang memiliki kedekatan emosional kuat dengan ibunya, Laras (Dian Sastrowardoyo). Sebaliknya, hubungan Rama dengan ayahnya, Hendi (Ringgo Agus Rahman), cenderung kaku dan sering diwarnai perdebatan karena ketidakharmonisan komunikasi.
Konflik memuncak saat Laras mengalami kecelakaan serius yang menyebabkannya jatuh dalam kondisi koma akibat permasalahan pada jaringan otak.
Di tengah kesepian dan isolasi emosional, teman Rama bernama Zila (Aisha Nurra Datau) menghadirkan solusi berupa i-BU, sebuah program AI yang dirancang khusus untuk mereplikasi wajah, suara, hingga kepribadian Laras.
Melalui i-BU, Rama dapat kembali berbincang dan berkeluh kesah seolah sosok ibunya masih hadir secara fisik.
Selain menjadi penghibur, teknologi ini juga digunakan dalam upaya medis untuk memberikan stimulasi pada otak Laras dengan harapan dapat membantu proses kesembuhan dari masa koma.
Dilema Teknologi dan Nuansa Black Mirror
Kehadiran i-BU dalam film ini memicu diskusi mengenai etika teknologi dalam ruang privat. Berdasarkan tinjauan yang dipublikasikan IDN Times, kecanggihan teknologi dalam film ini memberikan kesan yang relevan dengan perkembangan AI saat ini, bahkan disebut memiliki atmosfer serupa serial fiksi ilmiah “Black Mirror”, khususnya episode ‘Be Right Back’ yang juga mengangkat tema replikasi orang terkasih melalui data digital.
Meskipun i-BU memberikan kenyamanan sementara bagi Rama, penggunaan teknologi tersebut juga menghadirkan rasa tidak nyaman (discomfort) bagi penonton.
Film ini menyoroti apakah mesin benar-benar bisa menggantikan kehangatan keluarga atau justru menjadi penghalang bagi manusia untuk menerima realitas kehilangan.
Sutradara Ikhwan Persada, membawa penonton untuk melihat bagaimana AI menjadi jembatan bagi Rama untuk melepaskan rindu.
Namun, tugas terberat Rama tetaplah memperbaiki hubungan nyata dengan ayahnya yang masih ada di dunia nyata, bukan sekadar bersembunyi di balik interaksi virtual.
Kritik Terhadap Technological Solutionism
Pemerhati anak dari Lembaga Pendidikan Informasi Media Publik (LaPISMedik), H. Hatita, memberikan catatan kritis terhadap narasi film ini. Melansir Antara, Hatita menyebut “Esok Tanpa Ibu” sebagai kritik halus terhadap technological solutionism, yaitu sebuah ideologi yang meyakini bahwa segala permasalahan manusia dapat diselesaikan melalui teknologi.
“Secara ideologis film ini menjadi kritik halus terhadap teknologi solutionism. Kehadiran AI sebagai pengganti peran orang tua, khususnya ibu secara semu, tidak mampu mengabaikan peran ibu yang sesungguhnya dan manusiawi,” ujar Hatita dalam keterangannya di Makassar.
Ia menambahkan bahwa film ini bukan sekadar drama, melainkan narasi mengenai transisi peradaban dari struktur keluarga biologis menuju keluarga yang mulai bersinggungan dengan sistem digital.
Pesan moral yang ditekankan adalah pentingnya komunikasi langsung dan peran sentral ibu sebagai perekat keluarga yang tidak dapat digantikan oleh algoritma.
Data Produksi dan Kolaborasi Lintas Negara
Film berdurasi 107 menit ini merupakan hasil kolaborasi rumah produksi BASE Entertainment, Beacon Film, Refinery Media, DaSun Pictures, dan PK Films. Terdapat perbedaan informasi mengenai sutradara, di mana beberapa sumber menyebutkan film ini disutradarai oleh Ho Wi Ding asal Malaysia, sementara sumber lain mencatat nama Ikhwan Persada.
Naskah film disusun oleh tim penulis yang terdiri dari Melarissa Sjarief, Gina S. Noer, dan Diva Apresya. Selain berakting dalam peran ganda sebagai Laras dan entitas AI, Dian Sastrowardoyo juga bertindak sebagai salah satu produser bersama Aoura Lovenson Chandra, Tanya Yuson, Winnie Lau, dan Shanty Harmayn.
Berikut adalah daftar pemeran film “Esok Tanpa Ibu”:
- Ali Fikry sebagai Rama
- Ringgo Agus Rahman sebagai Hendi
- Dian Sastrowardoyo sebagai Laras / i-BU
- Aisha Nurra Datau sebagai Zila
- Bima Sena sebagai Robert
- Vonny Anggraini sebagai Tante Endang
- Irgi Fahrezi sebagai Dokter
Dian Sastrowardoyo menyatakan harapannya agar film ini dapat menginspirasi keluarga Indonesia untuk memperkuat ikatan emosional di era teknologi. “Semoga bisa menginspirasi keluarga-keluarga Indonesia untuk menjadi lebih bonding antara orang tua dan anak, dan memperkuat lagi antar manusia di era teknologi saat ini,” ungkap Dian saat sesi konferensi pers di Jakarta.
Informasi mengenai jadwal tayang dan perkembangan terbaru mengenai film ini dapat dipantau melalui akun media sosial resmi produksi serta platform penyedia tiket bioskop di seluruh Indonesia.
Ikuti Ihram.co.id
