Fabio Quartararo sempat memberi harapan besar bagi Yamaha pada awal akhir pekan MotoGP Brasil 2026. Namun, performa menjanjikan itu pada akhirnya runtuh di tengah balapan, ketika kelemahan utama motor Yamaha kembali terekspos secara telak.

Pebalap Trackhouse Aprilia, Ai Ogura, menjadi salah satu rider yang melihat langsung betapa sulitnya Quartararo bertahan saat rival-rivalnya mulai menyerang di lintasan lurus. Menurut Ogura, perbedaan tenaga motor begitu terasa hingga ia mengaku sempat merasa kasihan kepada juara dunia MotoGP 2021 tersebut.

Komentar itu mempertegas satu hal penting dari GP Brasil: Yamaha memang mulai menunjukkan perkembangan, tetapi masih belum cukup kuat untuk benar-benar bertarung melawan Ducati dan Aprilia dalam kondisi balapan penuh.

Quartararo Sempat Tampil Meyakinkan di Awal Akhir Pekan

Fabio Quartararo datang ke Brasil dengan modal yang cukup menjanjikan. Rider Monster Energy Yamaha itu mampu tampil kompetitif sejak sesi kualifikasi dan memperlihatkan sinyal positif dari proyek motor V4 baru Yamaha.

Performa itu berlanjut pada Sprint Race. Quartararo langsung mencuri perhatian setelah mampu menyalip Marc Marquez di lap-lap awal dan sempat naik ke posisi kedua. Dalam beberapa saat, Yamaha bahkan terlihat mampu bertahan di tengah pertarungan barisan depan.

Namun, keunggulan tersebut ternyata tidak bertahan lama.

Ketika balapan mulai masuk ke fase ritme penuh, Quartararo perlahan mulai kehilangan posisinya. Bukan karena kesalahan besar, melainkan karena Yamaha kembali kesulitan saat harus mempertahankan kecepatan di lintasan lurus.

Ai Ogura: Semua Orang Menyalip Quartararo di Lintasan Lurus

Salah satu momen paling jelas terjadi pada lap kesembilan Sprint, ketika Ai Ogura menyalip Quartararo untuk merebut posisi kelima.

Usai balapan, rider asal Jepang itu berbicara sangat jujur soal bagaimana mudahnya manuver tersebut dilakukan. Menurutnya, masalah Quartararo bukan terletak pada gaya balap atau strategi, melainkan murni pada keterbatasan tenaga motor.

“Itu mudah untuk menyalip. Saya rasa semua orang menyalip dia di lintasan lurus,” kata Ogura.

“Sekarang jelas Aprilia lebih cepat daripada Yamaha di lintasan lurus. Saya sedikit merasa kasihan kepadanya karena itu murni soal tenaga.”

Pernyataan itu menjadi salah satu komentar paling gamblang dari akhir pekan Brasil. Sebab, Ogura secara terbuka menegaskan bahwa Quartararo sebenarnya tidak banyak bisa berbuat ketika harus menghadapi motor-motor dengan akselerasi dan top speed yang lebih baik.

Kelemahan Yamaha Terbuka Lewat Data Top Speed

Apa yang dirasakan Ogura juga didukung oleh data kecepatan puncak sepanjang akhir pekan.

Quartararo mencatat top speed terbaik 340,6 km/jam, angka yang masih tertinggal dari Ducati milik Marc Marquez dengan 348,3 km/jam. Sementara Aprilia RS-GP yang dipakai Ogura mencapai 345,0 km/jam.

Selisih ini terlihat kecil di atas kertas, tetapi dalam balapan MotoGP modern, gap beberapa kilometer per jam bisa menjadi perbedaan besar antara mempertahankan posisi atau justru terus menjadi sasaran empuk di ujung straight.

Situasi itu sangat merugikan Quartararo. Sebab, meski ia mampu menempatkan motornya dengan baik saat masuk tikungan dan pengereman, semua kerja keras tersebut bisa hilang hanya dalam beberapa ratus meter lintasan lurus.

Yamaha V4 Mulai Menjanjikan, Tapi Belum Cukup untuk Bertahan

MotoGP Brasil memang tidak sepenuhnya menjadi akhir pekan buruk bagi Yamaha. Di satu sisi, performa Quartararo pada kualifikasi dan fase awal Sprint menunjukkan bahwa motor V4 baru mereka mulai memberi fondasi yang lebih kompetitif.

Motor itu tampak lebih siap untuk bertarung dalam satu lap dan cukup responsif untuk memberi Quartararo peluang berada di grup depan. Namun, balapan di Brasil juga menunjukkan bahwa proyek tersebut masih belum lengkap.

Masalah utamanya kini bukan hanya soal feeling atau stabilitas, melainkan soal kemampuan mempertahankan posisi saat tenaga motor lain mulai bekerja maksimal.

Itulah yang membuat Yamaha terlihat menjanjikan di awal, tetapi rapuh saat lomba berkembang.

Dari P6 di Sprint ke P16 di Grand Prix

Kontras performa Quartararo semakin terasa saat balapan utama digelar pada hari Minggu.

Setelah mampu menyelamatkan hasil posisi keenam di Sprint, rider Prancis itu justru kesulitan besar di grand prix dan finis di posisi ke-16, di luar zona poin. Hasil itu menjadi pukulan telak setelah sempat ada optimisme bahwa Yamaha bisa menutup akhir pekan Brasil dengan catatan positif.

Perbedaan hasil antara Sprint dan grand prix tersebut memperlihatkan bahwa Yamaha masih kesulitan menjaga konsistensi performa dalam balapan penuh, terutama ketika degradasi grip, kebutuhan akselerasi, dan tekanan dari rival mulai meningkat.

Bagi Quartararo, itu berarti ia bukan hanya harus mengendarai motor secepat mungkin, tetapi juga harus bekerja ekstra keras untuk menutupi kekurangan paket teknis yang belum seimbang.

Ogura Juga Jadi Sorotan Berkat Akhir Pekan Solid

Sementara Quartararo harus menelan kekecewaan, Ai Ogura justru pulang dari Brasil dengan hasil yang sangat solid.

Setelah finis kelima di Sprint, rider rookie Aprilia itu kembali tampil kuat pada grand prix dan mengakhiri balapan di posisi kelima setelah menyalip Alex Marquez pada lap terakhir.

Ogura bahkan mengaku sudah meminta maaf kepada Alex karena merasa manuvernya pada lap terakhir tidak terlalu bersih.

“Gerakan saya ke Alex pada lap terakhir sebenarnya tidak terlalu bersih. Saya sudah bilang maaf kepadanya, tapi itu lap terakhir—Anda harus mencoba. Saya senang bisa membawa pulang P5,” ujar Ogura.

Menariknya, Alex Marquez justru tidak mempermasalahkan duel tersebut dan menilai manuver Ogura masih dalam batas persaingan yang fair.

Yamaha Dapat Alarm, Quartararo Kembali Jadi Korban

Apa yang terjadi di Brasil memberi Yamaha satu pesan yang sangat jelas: perkembangan sudah mulai terlihat, tetapi masalah fundamental mereka belum selesai.

Quartararo kembali membuktikan bahwa ia masih mampu menempatkan motor di posisi yang lebih baik daripada potensi mentah paket yang ia miliki. Namun, ketika kelemahan tenaga dan akselerasi kembali muncul, bahkan rider sekelas Quartararo pun akhirnya tak berdaya.

Komentar Ai Ogura pun menjadi cermin paling jujur dari situasi tersebut. Di saat Aprilia dan Ducati bisa menyerang dengan mudah di lintasan lurus, Yamaha masih dipaksa bertahan dengan keterbatasan yang sama seperti musim-musim sebelumnya.

Jika Yamaha ingin benar-benar kembali ke barisan depan MotoGP 2026, maka mereka tidak cukup hanya membangun motor yang terasa lebih baik. Mereka juga harus memastikan motor itu cukup cepat untuk melawan saat perang tenaga dimulai.

Dan sejauh ini, MotoGP Brasil menunjukkan bahwa pekerjaan rumah itu masih sangat besar.