Ihram.co.id — Pelatih Barcelona, Hansi Flick, secara serius tengah berupaya membenahi lini pertahanan timnya yang menunjukkan kerapuhan signifikan, terutama pada babak pertama pertandingan. Data menunjukkan bahwa sebagian besar gol bersarang di gawang Barcelona terjadi sebelum jeda turun minum, memaksa tim untuk terus berjuang mengejar ketertinggalan.
Dalam 34 pertandingan resmi musim ini, Barcelona di bawah asuhan Hansi Flick telah kebobolan total 39 gol di empat kompetisi resmi, rata-rata lebih dari satu gol per pertandingan. Angka ini menjadi perhatian serius bagi staf pelatih Barcelona, terutama terkait gol-gol yang bersarang di babak pertama.
Sebanyak 26 gol atau sekitar 66% dari total gol kebobolan terjadi dalam 45 menit pertama pertandingan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan babak kedua, di mana tim mampu membalikkan keadaan dengan serangan balik yang efektif.
Evaluasi Mendalam Lini Pertahanan
Data statistik menunjukkan bahwa 19 gol bersarang di La Liga, 5 gol di Liga Champions, dan dua gol di Piala Super Spanyol terjadi di babak pertama. Kondisi ini sering kali membuat Barcelona harus berjuang keras untuk bangkit dan membalikkan keadaan.
Dari delapan kali kemenangan comeback yang berhasil diciptakan Barcelona musim ini, mayoritas diawali dengan kebobolan gol cepat di menit-menit awal pertandingan. Flick sendiri telah berulang kali menekankan pentingnya memperbaiki kesalahan defensif di awal laga dan meningkatkan konsentrasi pemain.
Dalam tiga dari lima pertandingan terakhir, Barcelona selalu kebobolan di babak pertama, termasuk saat melawan Real Sociedad, Slavia, dan Kopenhagen. Hal ini menunjukkan bahwa masalah konsentrasi dan antisipasi dini masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Flick dan timnya.
Strategi Pertahanan Hansi Flick
Untuk mengatasi masalah ini, Hansi Flick dan asistennya, Heiko Westermann, yang bertanggung jawab atas area pertahanan, menggunakan layar besar di lapangan latihan untuk memproyeksikan video dan menganalisis kesalahan yang terjadi.
Penyesuaian utama yang dilakukan berfokus pada kapan pemain harus maju atau mundur, serta bagaimana menjaga posisi tubuh yang tepat saat bertahan.
Salah satu kesimpulan dari staf pelatih adalah perlunya menekan bola dengan lebih agresif. Contoh nyata dari kelemahan ini terlihat pada gol Kylian Mbappé dalam El Clásico, di mana Jude Bellingham memiliki cukup waktu untuk berpikir dan memberikan assist.
Akar masalah pertahanan ini tidak hanya terletak pada lini belakang, tetapi juga terkait dengan pressing yang kurang efektif atau kehilangan bola di zona sensitif.
Peran Penjaga Gawang dan Pertahanan Tinggi
Peran penjaga gawang juga menjadi sorotan. Joan Garcia dan Wojciech Szczesny tercatat sebagai penjaga gawang di lima liga Eropa teratas yang paling sering melakukan aksi defensif di luar kotak penalti.
Sistem permainan yang diterapkan Flick menuntut mereka untuk selalu waspada. Pelatih kiper, Jose Ramon de la Fuente, terus melakukan analisis mendalam dan latihan berbasis video untuk para penjaga gawang, yang juga selalu diawasi oleh Flick.
Flick dikenal dengan penerapan strategi garis pertahanan tinggi dan jebakan offside yang agresif. Taktik ini bertujuan untuk mempersempit ruang gerak lawan dan meminimalkan peluang mereka dalam membangun serangan.
Namun, musim ini, tim dinilai belum mampu mengeksekusi strategi ini dengan tingkat keberhasilan yang sama seperti musim sebelumnya. Data menunjukkan penurunan signifikan dalam jumlah lawan yang terkena jebakan offside, dari 105 kali musim lalu menjadi 66 kali sejauh ini.
Ikuti Ihram.co.id
