Huawei mengungkap pengembangan fitur baru pada smartwatch yang diklaim mampu mendeteksi risiko diabetes sejak dini melalui teknologi pemantauan kesehatan non-invasif.

Inovasi ini diperkenalkan dalam ajang World Health Expo 2026 yang berlangsung di Dubai pada 9–13 Februari 2026, sekaligus menandai langkah perusahaan dalam memperluas fungsi perangkat wearable ke ranah pencegahan penyakit kronis.

Fitur tersebut memungkinkan perangkat mendeteksi tren perubahan yang berkaitan dengan kadar gula darah tanpa memerlukan pengambilan sampel darah. Huawei menegaskan teknologi ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran kesehatan pengguna dan mendorong konsultasi medis lebih awal, bukan sebagai alat diagnosis klinis.

Baca Juga: Honor Watch GS 5 Resmi Meluncur, Andalkan Fitur Skrining Risiko Jantung dan Baterai 23 Hari

Teknologi PPG Jadi Basis Pemantauan

Fitur pemantauan risiko diabetes pada smartwatch Huawei dikembangkan menggunakan teknologi Photoplethysmography (PPG), yakni metode berbasis sensor optik yang mengukur perubahan volume darah melalui pantulan cahaya pada kulit.

Teknologi PPG selama ini umum digunakan pada perangkat wearable untuk memantau detak jantung dan kadar oksigen darah. Namun Huawei mengembangkan sensor serta algoritma analisis lanjutan yang mampu membaca perubahan sinyal PPG yang berkaitan dengan fluktuasi gula darah.

Melalui analisis data tersebut, smartwatch dapat memberikan peringatan kesehatan secara proaktif apabila terdeteksi pola tertentu yang berpotensi mengindikasikan risiko diabetes. Huawei menjelaskan fungsi ini dirancang untuk membantu pengguna memahami tren kesehatan terkait gula darah serta mendorong pemeriksaan medis lebih lanjut jika diperlukan.

Didukung Riset Penyakit Diabetes

Pengembangan fitur ini disebut didukung oleh penelitian Huawei terkait mekanisme penyakit diabetes, termasuk neuropati diabetik dan arteriosklerosis mikrovaskular, yakni kondisi kerusakan saraf serta penyempitan pembuluh darah kecil yang sering terjadi pada penderita diabetes.

Berdasarkan riset tersebut, perusahaan merancang sistem pemantauan kesehatan yang mampu mendeteksi perubahan kondisi tubuh melalui analisis data PPG yang dikumpulkan dari penggunaan smartwatch secara rutin.

Pengguna perlu mengenakan perangkat secara konsisten selama tiga hingga 14 hari agar sistem dapat mengumpulkan data yang cukup. Setelah itu, aplikasi khusus bernama Diabetes Risk akan menampilkan tingkat risiko pengguna dalam kategori rendah, sedang, atau tinggi.

Pengguna dengan tingkat risiko menengah hingga tinggi disarankan menjalani pemeriksaan medis profesional untuk memastikan kondisi kesehatan mereka.

Non-Invasif dan Fokus pada Deteksi Dini

Huawei menekankan bahwa fitur manajemen gula darah ini menggunakan pendekatan non-invasif, sehingga tidak memerlukan jarum atau pengambilan sampel darah seperti metode pemeriksaan konvensional.

Perusahaan menyebut teknologi tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko diabetes, terutama karena penyakit ini kerap berkembang tanpa gejala jelas pada tahap awal. Dengan pemantauan berkelanjutan melalui perangkat wearable, pengguna diharapkan dapat mengambil langkah pencegahan lebih cepat.

Sebelumnya, laporan yang beredar juga menyebut Huawei tengah menyiapkan smartwatch khusus dengan fokus pemantauan gula darah untuk peluncuran pada 2026, meski perusahaan kini tampak memprioritaskan pengembangan fitur yang dapat diintegrasikan ke berbagai model perangkat.

Segera Hadir ke Lebih Banyak Perangkat

Huawei memastikan fitur pemantauan risiko diabetes akan tersedia pada smartwatch yang kompatibel melalui pembaruan perangkat lunak over-the-air (OTA) dalam beberapa bulan mendatang. Teknologi tersebut disebut telah hadir pada Huawei Watch GT 6 Pro dan akan diperluas ke model lain secara bertahap.

Langkah ini mencerminkan tren industri wearable global yang semakin menekankan teknologi kesehatan preventif. Perangkat pintar tidak lagi hanya berfungsi sebagai pelacak aktivitas, tetapi juga berkembang menjadi alat pemantauan kesehatan personal yang berpotensi membantu deteksi dini berbagai penyakit kronis.

Baca Juga: Study Ungkap Apple Watch Terbukti Lebih Cepat Deteksi Gangguan Jantung

Meski demikian, Huawei menegaskan bahwa hasil pemantauan smartwatch tidak menggantikan pemeriksaan medis profesional dan tetap memerlukan validasi klinis untuk diagnosis resmi.