Ihram.co.id — Manchester United berhasil meraih kemenangan penting 2-0 atas rival sekota, Manchester City, dalam Derby Manchester yang berlangsung di Old Trafford pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Gol-gol dari Bryan Mbeumo dan Patrick Dorgu mengamankan tiga poin krusial bagi Setan Merah, menandai awal yang menjanjikan bagi Michael Carrick dalam masa jabatan keduanya sebagai manajer interim. Hasil ini membawa United naik ke posisi keempat klasemen sementara Premier League, setidaknya untuk sementara.
Namun, euforia kemenangan derby ini tidak serta-merta menutupi rentetan pekerjaan rumah (PR) besar yang masih menghantui klub. Mulai dari ketidakstabilan manajerial, inkonsistensi performa di liga, hingga tantangan serius di bursa transfer Januari 2026 dan masalah finansial, Manchester United berada di tengah badai transisi yang kompleks di bawah kepemimpinan baru INEOS.
Ketidakpastian Manajerial dan Inkonsistensi Performa
Kemenangan atas Manchester City menjadi momen yang sangat dibutuhkan, terutama setelah periode sulit yang dialami klub. Sebelum derby, United tercatat tanpa kemenangan dalam tiga pertandingan, termasuk hasil imbang 2-2 melawan Burnley pada 7 Januari 2026. \
Performa tim secara keseluruhan dalam musim 2025/2026 menunjukkan inkonsistensi yang mengkhawatirkan. Per 11 Januari 2026, United berada di peringkat ketujuh Premier League dengan 32 poin dari 21 pertandingan, jauh dari target tradisional empat besar.
Ketidakpastian di kursi kepelatihan menjadi salah satu faktor utama. Michael Carrick ditunjuk sebagai manajer interim setelah Rubén Amorim dipecat pada awal Januari 2026. Amorim hanya bertahan selama 14 bulan di Old Trafford setelah menggantikan Erik ten Hag, yang dipecat pada Oktober 2024.
Pergantian manajer yang sering ini menciptakan pola ketidakstabilan yang menghambat pembentukan identitas dan filosofi permainan yang kokoh bagi tim. Para analis menyoroti bahwa tim kerap kesulitan mengonversi peluang, melakukan kesalahan defensif, dan kurangnya kohesi antarpemain.
Tantangan Krusial di Bursa Transfer Januari
Bursa transfer Januari 2026 juga menghadirkan dilema bagi Manchester United. Klub dilaporkan memiliki dana terbatas setelah menghabiskan £230 juta pada bursa transfer musim panas sebelumnya. Kebijakan transfer saat ini cenderung fokus pada target jangka panjang atau kesepakatan pinjaman, alih-alih pembelian besar-besaran yang bersifat reaktif.
Michael Carrick, sebagai manajer interim, dilaporkan menolak tawaran untuk Harry Maguire, yang kontraknya akan berakhir pada musim panas, meskipun ada minat dari klub-klub Serie A. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang strategi klub terhadap pemain yang kontraknya akan habis, mengingat Casemiro juga diperkirakan akan pergi dengan status bebas transfer di akhir musim.
Selain itu, masa depan kapten Bruno Fernandes juga menjadi sorotan, dengan kekhawatiran yang muncul mengenai kelanjutannya di klub. Lini tengah menjadi area yang membutuhkan perhatian khusus, dan United dilaporkan tengah melakukan pembicaraan dengan seorang “gelandang misterius” untuk kemungkinan kesepakatan pinjaman, dengan nama Ruben Loftus-Cheek disebut-sebut.
Pendekatan transfer yang hati-hati ini, meskipun bertujuan untuk menghindari kesalahan di masa lalu, dapat menimbulkan frustrasi di kalangan penggemar yang mendambakan perbaikan instan.
Bayang-bayang Financial Fair Play dan Strategi INEOS
Aspek finansial juga menjadi sorotan. Manchester United sempat didenda €300.000 oleh UEFA pada Juli 2023 karena pelanggaran “teknis minor” aturan Financial Fair Play (FFP) periode 2019-2022.
Laporan keuangan terbaru klub pada September 2024 menunjukkan kerugian bersih sebesar £113,2 juta, menandai tahun kelima berturut-turut klub mencatat kerugian tahunan. Absennya United dari kompetisi Eropa musim ini (2025/2026) turut berdampak pada pendapatan siaran dan penjualan tiket, menyebabkan kerugian bersih £6,6 juta pada kuartal yang berakhir 30 September 2025.
Meskipun demikian, klub menyatakan keyakinan mereka tetap mematuhi aturan FFP Premier League dan UEFA, berkat adanya deduksi yang diizinkan untuk investasi di infrastruktur, akademi, dan tim wanita.
Di sisi lain, INEOS, yang dipimpin oleh Sir Jim Ratcliffe dan telah mengakuisisi saham minoritas serta mengambil alih operasional sepak bola pada awal 2024, memiliki visi jangka panjang untuk mengembalikan United ke puncak. Mereka berencana melakukan investasi signifikan pada infrastruktur, termasuk stadion baru senilai £2 miliar.
Namun, strategi INEOS juga menuai kritik. Beberapa pihak menilai pendekatan mereka terlalu lambat dan tidak koheren, dengan pola ketidakstabilan manajerial dan pemutusan hubungan antara strategi rekrutmen dan filosofi kepelatihan yang terlihat serupa dengan pengalaman INEOS di klub sebelumnya seperti Lausanne dan Nice.
INEOS menekankan pentingnya pembangunan klub secara organik, bukan dengan solusi cepat. Namun, kesabaran menjadi komoditas langka di Old Trafford, dan tekanan untuk melihat hasil nyata akan terus meningkat.
Kemenangan atas Manchester City memang memberikan suntikan moral yang besar, namun ia hanya sebatas jeda sesaat dari realitas pahit yang dihadapi Manchester United.
Masalah struktural dan strategis yang mendalam memerlukan penanganan yang cermat dan konsisten dari manajemen INEOS dan tim kepelatihan interim Michael Carrick untuk dapat membawa klub kembali ke jalur kejayaan yang diharapkan para penggemar.
Ikuti Ihram.co.id
