— Tim nasional Senegal berhasil merengkuh gelar juara Piala Afrika (AFCON) 2025 setelah menundukkan tuan rumah Maroko dengan skor tipis 1–0 di Stade Prince Moulay Abdellah, Rabat, Senin (19/1) dini hari WIB. Kemenangan ini sekaligus memastikan kegagalan Maroko untuk mengakhiri puasa gelar kontinental yang kini genap berusia 50 tahun sejak terakhir kali menjadi kampiun pada 1976.

Drama Penalti dan Protes Walk-Out Senegal

Pertandingan final berlangsung dalam tensi tinggi yang memuncak pada masa injury time babak kedua. Wasit Jean-Jacques Ndala menunjuk titik putih untuk Maroko setelah peninjauan VAR menyatakan El Hadji Malick Diouf melakukan pelanggaran terhadap Brahim Diaz di kotak terlarang pada menit ke-90+6. Keputusan ini memicu protes keras dari kubu Senegal.

Pelatih Senegal, Pape Thiaw, sempat menginstruksikan para pemainnya untuk meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Aksi tersebut memicu kericuhan di dalam stadion, di mana terjadi bentrokan antara staf teknis, pemain, hingga jurnalis di tribune pers. Pendukung Senegal dari kelompok Gaindé dilaporkan mencoba melompati pagar pembatas untuk mengonfrontasi ofisial pertandingan.

Pertandingan sempat terhenti selama 14 menit sebelum para pemain Senegal bersedia kembali ke lapangan. Kembalinya skuad Singa Teranga tidak lepas dari peran Sadio Mane yang masuk ke ruang ganti untuk memberikan motivasi kepada rekan-rekannya agar melanjutkan laga.

Brahim Diaz yang maju sebagai eksekutor penalti pada menit ke-90+24 gagal menuntaskan tugasnya. Tendangan dengan teknik panenka yang dilepaskannya berhasil dibaca dan ditangkap dengan mudah oleh penjaga gawang Senegal, Edouard Mendy. Kegagalan tersebut memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan waktu setelah skor tetap imbang 0–0 di waktu normal.

Analisis Gol: Kesalahan Lini Tengah dan Serangan Balik Cepat

Memasuki babak tambahan, Senegal hanya membutuhkan waktu empat menit untuk memecah kebuntuan. Gol bermula dari hilangnya konsentrasi pemain Maroko, El Aynaoui, yang kehilangan bola di area tengah lapangan. Momentum tersebut segera dimanfaatkan oleh Sadio Mane untuk memimpin serangan balik cepat.

Mane kemudian mengirimkan umpan kepada Pape Gueye yang berada di tepi kotak penalti. Pemain yang sebelum turnamen ini mengoleksi 34 caps tersebut melepaskan tembakan akurat yang melewati Achraf Hakimi dan bersarang di pojok jauh gawang Maroko. Skor berubah menjadi 1–0 pada menit ke-94.

Pape Gueye tercatat sebagai pemain yang cukup produktif di level klub dan sebelumnya telah mencetak dua gol identik dari tepi kotak penalti saat menghadapi Sudan di babak 16 besar. Golnya ke gawang Maroko menjadi satu-satunya gol yang tercipta hingga peluit panjang dibunyikan.

Dominasi Maroko dan Runtuhnya Pertahanan Tuan Rumah

Sepanjang pertandingan, Maroko mendominasi penguasaan bola dan terus memberikan tekanan di hadapan pendukungnya sendiri. Namun, disiplin pertahanan Senegal yang dipimpin oleh Edouard Mendy membuat berbagai peluang yang didapatkan tuan rumah selalu menemui jalan buntu.

Petugas keamanan dan polisi anti-huru-hara harus melakukan intervensi di pinggir lapangan setelah suporter melemparkan berbagai proyektil dan merusak papan iklan elektronik. Satu orang petugas dilaporkan harus dievakuasi menggunakan tandu akibat mengalami cedera di bagian tubuh atas saat mencoba mengamankan situasi.

Dengan hasil ini, Senegal berhasil meraih gelar juara AFCON untuk kedua kalinya dalam sejarah, setelah sebelumnya menang pada edisi 2021. Sebaliknya, Maroko kembali gagal menuntaskan penantian panjang mereka selama setengah abad meski berstatus sebagai tuan rumah dan menguasai jalannya laga.

Informasi jalannya pertandingan final dan hasil Piala Afrika 2025 ini dihimpun berdasarkan laporan dari Associated Press, L’Équipe, serta data statistik resmi pertandingan yang dirilis usai laga di Rabat.