— Yogyakarta kembali diguncang gempa pada Selasa, 27 Januari 2026. Gempa berkekuatan Magnitudo 4,4 mengguncang wilayah DIY dan sekitarnya, dengan pusat gempa berada di darat, sekitar 15 kilometer timur laut Bantul, pada kedalaman 11 kilometer. Guncangan ini menambah daftar panjang peristiwa gempa yang kerap terjadi di wilayah yang dijuluki Kota Pelajar ini.

Pertanyaannya, mengapa Jogja begitu sering diguncang gempa?

Frekuensi gempa yang tinggi di Yogyakarta, termasuk gempa yang baru saja terjadi di Gunungkidul, tidak lepas dari posisi geografisnya yang berada di area dengan aktivitas tektonik yang kompleks. Secara geologis, Yogyakarta terletak di pertemuan dua sumber utama aktivitas gempa: zona subduksi lempeng di Samudera Hindia sebelah selatan dan keberadaan sesar-sesar aktif di daratan. Kombinasi kedua faktor ini menjadikan Yogyakarta sebagai kawasan seismik yang aktif dan rentan terhadap guncangan.

Zona Subduksi Lempeng Indo-Australia

Salah satu penyebab utama Yogyakarta sering diguncang gempa adalah posisinya yang dekat dengan zona subduksi lempeng Indo-Australia di Samudera Hindia. Lempeng Indo-Australia bergerak menunjam ke bawah Lempeng Eurasia (atau Lempeng Sunda) dengan kecepatan yang signifikan, sekitar 50-75 mm per tahun. Pergerakan lempeng yang terus-menerus ini menyimpan energi yang sangat besar. Ketika energi tersebut dilepaskan secara tiba-tiba, terjadilah gempa bumi yang kuat.

Gempa besar yang pernah mengguncang Yogyakarta pada 27 Mei 2006, dengan magnitudo 6,3 Mw, diduga kuat dipicu oleh aktivitas di zona subduksi ini dan pergeseran Sesar Opak.

Sesar-Sesar Aktif di Daratan Yogyakarta

Selain ancaman dari zona subduksi, Yogyakarta juga dihadapkan pada risiko gempa akibat aktivitas sesar-sesar lokal yang berada di daratan. Salah satu sesar paling dikenal dan paling aktif di wilayah ini adalah Sesar Opak.

Sesar Opak membentang dari selatan Jawa hingga ke arah Prambanan, Kabupaten Klaten, dengan orientasi barat daya-timur laut. Sesar ini merupakan patahan aktif yang pergerakannya dapat memicu gempa. Sejarah mencatat bahwa gempa besar tahun 2006 diduga kuat dipicu oleh pergeseran Sesar Opak.

Keberadaan Sesar Opak tidak berdiri sendiri. Terdapat juga sesar-sesar lain yang membentuk jaringan patahan aktif di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, seperti Sesar Mataram yang baru terpetakan pada tahun 2021. Aktivitas pergeseran pada sesar-sesar inilah yang sering kali menjadi sumber gempa yang dirasakan oleh masyarakat Yogyakarta, termasuk gempa yang terjadi di Gunungkidul baru-baru ini.

Gempa pada 27 Januari 2026 yang berpusat di darat dekat Bantul ini, menurut BMKG, merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar lokal.

Dampak Aktivitas Vulkanik dan Gempa Tektonik

Selain aktivitas tektonik dari pergerakan lempeng dan sesar, perlu juga dicatat bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan DIY juga dapat memengaruhi aktivitas seismik di wilayah tersebut. Meskipun secara umum gempa tektonik dapat memicu aktivitas vulkanik, bukan sebaliknya, namun interaksi antara keduanya tetap menjadi perhatian. Laporan terbaru menunjukkan bahwa Gunung Merapi masih berstatus Siaga Level III, dengan aktivitas guguran lava dan gempa hybrid yang tinggi. Terdapat pula tercatat adanya gempa tektonik jauh. Meskipun tidak secara langsung menyebabkan gempa di permukaan, aktivitas vulkanik yang intens ini menambah kompleksitas dinamika geologi di wilayah Yogyakarta.

Gempa yang terjadi pada 27 Januari 2026 di dekat Bantul ini merupakan pengingat bahwa Yogyakarta terus berada dalam kewaspadaan tinggi terhadap ancaman gempa bumi. Posisi geografis yang unik dengan adanya zona subduksi aktif dan sesar-sesar daratan yang masih bergerak menjadikan Yogyakarta sebagai wilayah yang secara inheren rentan terhadap aktivitas seismik. Masyarakat dihimbau untuk terus mengikuti informasi resmi dari BMKG dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana alam ini.