— Peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam yang menandai titik balik penting bagi umat Muslim, yakni turunnya perintah salat lima waktu. Peristiwa yang terjadi pada periode Makkah ini didokumentasikan secara rinci dalam kitab hadits otoritatif, terutama Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Berdasarkan konsensus ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, perjalanan agung ini diyakini terjadi secara nyata, melibatkan ruh sekaligus jasad Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sadar.

Rangkaian perjalanan dimulai saat Nabi Muhammad SAW berada di dekat Ka’bah. Merujuk pada Hadits Riwayat Bukhari No. 349, Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah dan melakukan pembedahan dada.

“Lalu, laki-laki itu mengeluarkan hatiku, kemudian dibawakan kepadaku suatu baskom terbuat dari emas yang dipenuhi dengan iman, lalu ia mencuci hatiku kemudian diisinya dengan iman dan diulanginya,” demikian salah satu riwayat hadits menggambarkan proses tersebut.

Hati beliau dibasuh menggunakan air Zamzam, kemudian diisi dengan hikmah dan keimanan yang tersimpan dalam sebuah bejana emas. Proses ini merupakan persiapan spiritual sebelum beliau menempuh perjalanan melintasi dimensi langit.

Fase Isra: Perjalanan Lintas Negara dengan Buraq

Fase pertama, yakni Isra, adalah perjalanan malam dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina). Nabi Muhammad SAW menunggangi Buraq, makhluk berwarna putih, bertubuh panjang, yang ukurannya berada di antara keledai dan bagal. Kecepatan Buraq digambarkan dalam hadits “mampu melangkah sejauh mata memandang.”

Setibanya di Baitul Maqdis, Nabi Muhammad SAW mengikat Buraq di tempat para Nabi terdahulu dan menunaikan salat dua rakaat. Dalam sebuah ujian simbolik yang tercatat dalam Shahih Muslim No. 162, Malaikat Jibril menyodorkan dua wadah berisi khamr (alkohol) dan susu. Rasulullah memilih susu, yang kemudian dikomentari Jibril sebagai simbol pemilihan “fitrah” bagi umatnya.

“Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah.” terang Malaikat Jibril.

Fase Miraj: Menembus Tujuh Lapis Langit

Fase kedua, Miraj, adalah pendakian menuju langit tertinggi. Dalam riwayat Shahih Bukhari No. 3207. Di setiap tingkatan langit, Jibril meminta dibukakan pintu. Para penjaga langit akan bertanya, “Siapa ini?” dan “Siapa yang bersamamu?”. Setelah Jibril menjawab “Muhammad” dan memastikan beliau telah diutus, pintu langit akan dibuka.

Disebutkan pula bahwa di setiap tingkatan langit, Nabi Muhammad SAW disambut oleh para Nabi terdahulu:

  1. Langit Pertama: Nabi Adam AS.
  2. Langit Kedua: Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS.
  3. Langit Ketiga: Nabi Yusuf AS.
  4. Langit Keempat: Nabi Idris AS.
  5. Langit Kelima: Nabi Harun AS.
  6. Langit Keenam: Nabi Musa AS.
  7. Langit Ketujuh: Nabi Ibrahim AS, yang bersandar di Baitul Makmur.

Baitul Makmur adalah tempat suci di langit ketujuh yang setiap harinya dimasuki oleh 70.000 malaikat untuk beribadah dan tidak pernah kembali lagi setelahnya.

Sidratul Muntaha dan Perintah Salat

Perjalanan berlanjut ke Sidratul Muntaha, sebuah pohon batas yang tak bisa dilalui oleh makhluk mana pun kecuali dengan izin Allah. Di tempat inilah Nabi Muhammad SAW menerima perintah langsung untuk melaksanakan salat 50 kali dalam sehari.

Fakta sejarah mencatat peran Nabi Musa AS dalam proses keringanan salat. Saat Nabi Muhammad turun, Nabi Musa menyarankan untuk kembali menghadap Allah dan meminta keringanan karena keraguan atas kemampuan umat manusia. Setelah proses negosiasi berulang kali, jumlah salat ditetapkan menjadi lima waktu sehari semalam.

Meskipun jumlahnya lima, Allah SWT menegaskan bahwa pahala yang diberikan tetap setara dengan 50 kali salat (10 kali lipat untuk setiap waktu).

Peristiwa Isra Miraj bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan penegasan posisi Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin para nabi (Imamul Anbiya) dan pengingat akan kedudukan salat sebagai tiang agama. Hingga saat ini, peringatan Isra Miraj di berbagai belahan dunia menjadi momentum refleksi bagi umat Islam untuk memperkuat kualitas ibadah wajib mereka.