Ihram.co.id — Bencana tanah longsor disertai banjir bandang menerjang Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu (24/1/2026) dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB. Peristiwa tragis ini mengakibatkan puluhan rumah warga tertimbun material longsor dan ratusan jiwa dilaporkan terdampak, dengan sebagian besar masih dalam pencarian.
Menurut data sementara yang dihimpun dari berbagai sumber, longsor terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan tersebut selama dua hari terakhir. Aliran material tanah bercampur lumpur dan batu meluncur deras dari lereng Gunung Burangrang, menyapu permukiman di Kampung Pasirkuning dan Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu. Peristiwa ini menyebabkan sedikitnya delapan orang meninggal dunia, 23 orang selamat, dan 82 lainnya masih dinyatakan hilang hingga Sabtu siang. Total 113 jiwa dari 34 kepala keluarga dilaporkan terdampak langsung oleh bencana ini.
Kronologi Bencana Longsor
Kejadian bermula ketika warga mendengar suara gemuruh keras yang datang dari arah perbukitan sekitar pukul 03.00 WIB. Suara tersebut digambarkan mirip dentuman besar atau suara pesawat. Dalam hitungan menit, gemuruh itu disusul oleh runtuhan tanah dalam skala besar yang membawa material batu, pohon, dan lumpur, berubah menjadi arus banjir bandang.
Material longsoran menimbun permukiman warga secara cepat dan brutal. Sekitar 30 rumah warga di Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, dilaporkan tertimbun material longsor dengan kedalaman mencapai beberapa meter. Banyak bangunan rusak berat hingga tak lagi terlihat bentuk aslinya.
Deni, seorang warga yang selamat, menceritakan detik-detik mengerikan saat kejadian. “Kebetulan kalau rumah saya aman, cuma pas kejadian saya lagi bangun jadi mendengar ada gemuruh, terus tanah itu bergetar seperti gempa,” katanya dikutip dari DetikJabar. Ia sempat melihat ke luar rumah, namun suasana gelap gulita membuatnya tidak bisa melihat apa-apa. Ia segera menyelamatkan anak dan istrinya.
Kesaksian serupa datang dari Wahyu, warga lainnya. Ia mengaku terbangun karena suara bergemuruh yang sangat keras dari arah perbukitan. “Ada suara bergemuruh sangat keras. Saat dilihat ke lokasi, tanah dari titik asal longsoran sudah menerjang pemukiman warga dari Pasirkuning sampai Pasir Kuda,” ungkap Wahyu dikutip dari TribunJabar.id.
Ia menambahkan bahwa longsoran datang begitu cepat sehingga banyak warga tidak sempat menyelamatkan harta benda, bahkan sebagian terjebak di dalam rumah.
Upaya Pencarian dan Penanganan Darurat
Menyikapi bencana ini, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah menetapkan status tanggap darurat bencana. Tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Basarnas, relawan, dan warga setempat terus melakukan upaya pencarian dan penyelamatan korban.
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, menyatakan bahwa timnya mengerahkan personel untuk melakukan observasi visual, penggalian manual, penyemprotan tanah, dan pemantauan menggunakan drone UAV untuk menemukan korban yang masih tertimbun. Namun, proses pencarian menghadapi kendala signifikan, termasuk medan yang berat, ketebalan lapisan lumpur, serta kondisi cuaca yang masih mendung dan berpotensi hujan, yang dapat membahayakan tim penyelamat.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, menyampaikan bahwa penanganan korban selamat menjadi prioritas utama. Korban selamat dievakuasi ke tenda darurat yang telah disiapkan pemerintah. Ia juga mengimbau seluruh warga di daerah rawan bencana untuk tetap waspada mengingat potensi hujan tinggi yang diperkirakan masih berlangsung hingga bulan Februari.
Dugaan Penyebab Longsor
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, mengungkapkan dugaan sementara penyebab terjadinya longsor. Hasil pengamatan awal di lapangan menunjukkan adanya alih fungsi lahan dari kawasan hutan atau kebun dengan tanaman keras menjadi kebun sayuran atau palawija.
“Kawasan ini dulunya lahan dengan tanaman keras, tapi sekarang sebagian besar menjadi kebun palawija. Saat hujan deras turun, ditambah adanya aliran air, meskipun kecil, kemungkinan terjadi bendung alam dari batu dan kayu yang kemudian jebol,” jelas Herman dikutip dari CNN Indonesia.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut diduga memicu banjir bandang yang disertai longsor, meskipun penyebab pastinya masih memerlukan kajian lebih lanjut dari para ahli.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga melaporkan bahwa peristiwa longsor ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan tersebut.
Ikuti Ihram.co.id
