— Joan Laporta telah resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden FC Barcelona pada Senin (9/2/2026). Keputusan ini diambil sesuai dengan statuta klub yang mengharuskan presiden yang ingin mencalonkan diri kembali untuk melepaskan jabatannya terlebih dahulu.

Laporta menyatakan rasa bangga atas pencapaiannya selama memimpin klub, mengklaim bahwa Barcelona kini berada dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan lima tahun lalu. “Saya pergi dengan bangga dan karena keharusan statuter. Kami pergi dengan kebanggaan bahwa Barça lebih baik dari lima tahun lalu,” ujar Laporta dalam konferensi pers pasca pengunduran dirinya.

Laporta menambahkan, “Kami telah membuat keputusan sulit, tetapi kami bangga dengan keputusan yang telah kami buat, beberapa di antaranya menyakitkan, tetapi selalu untuk melindungi klub.”

Proses Elektoral Dimulai

Pengunduran diri Laporta ini secara resmi memulai proses pemilihan presiden baru yang dijadwalkan akan berlangsung pada 15 Maret 2026. Sesuai dengan statuta klub, artikel 42.f, seorang presiden harus mundur untuk dapat mencalonkan diri kembali. Laporta, yang kembali menjabat sebagai presiden sejak Maret 2021, kini akan bersaing dalam pemilihan tersebut, dengan dirinya difavoritkan untuk kembali menduduki kursi kepemimpinan.

Wakil Presiden Barcelona, Rafa Yuste, akan mengambil alih posisi presiden interim hingga akhir masa jabatan saat ini pada 30 Juni 2026. Selain Laporta, beberapa anggota dewan direksi lainnya juga mengajukan pengunduran diri mereka untuk berpartisipasi dalam proses elektoral ini, termasuk Wakil Presiden Bidang Kelembagaan Elena Fort dan Wakil Presiden Bidang Sosial Rafael Escudero.

Pencapaian di Bawah Kepemimpinan Laporta

Selama masa jabatannya yang kedua sejak 2021, Laporta menghadapi berbagai tantangan, termasuk krisis finansial yang mendalam saat ia mengambil alih kepemimpinan. Salah satu keputusan drastis yang diambil adalah mengaktifkan “tuas finansial” dengan menjual sebagian hak komersial dan televisi klub untuk mendanai pembangunan kembali tim. Keputusan ini, meskipun kontroversial, dinilai krusial untuk menyelamatkan klub dari potensi kehancuran.

Proyek ambisius pembangunan kembali Stadion Spotify Camp Nou juga menjadi sorotan utama di bawah kepemimpinan Laporta. Ia menekankan bahwa proyek warisan terpenting dalam sejarah klub ini telah berjalan lancar dan berhasil mengembalikan kredibilitas Barcelona di mata investor, anggota, dan dunia sepak bola. “Juga untuk mendorong Spotify Camp Nou, itu tidak mudah mengingat momen di mana klub berada, tetapi kekuatan lambang (klub) sangat besar,” jelasnya.

Secara keseluruhan, di bawah kepemimpinan Laporta, baik di periode pertama (2003-2010) maupun periode kedua (2021-2026), Barcelona telah meraih berbagai gelar. Pada periode pertamanya, tim meraih empat gelar La Liga, dua Liga Champions, satu Copa del Rey, tiga Piala Super Spanyol, satu Piala Super Eropa, dan satu Piala Dunia Antarklub. Di periode keduanya, Barcelona menambahkan satu gelar La Liga, satu Copa del Rey, dan dua Piala Super Spanyol, dengan total 16 trofi utama.