Selama puluhan tahun, rivalitas antara Lex Luthor dan Superman selalu terjebak dalam pola yang serupa. Sang jenius botak kerap mengandalkan teknologi mutakhir atau bongkahan Kryptonite hijau, sementara Sang Manusia Baja selalu menemukan celah untuk keluar sebagai pemenang. Namun, dalam rilisan terbaru komik DC K.O. #3, dominasi tersebut akhirnya runtuh melalui strategi yang jauh lebih kelam.

Eksperimen Kejam di Turnamen Antar-Dimensi

Kisah ini berlatar dalam sebuah turnamen antar-dimensi yang brutal, di mana para pahlawan dan penjahat dari semesta DC dipaksa bertarung sampai mati demi memperebutkan kekuatan Darkseid.

Memasuki babak ketiga, aturan turnamen mengizinkan petarung yang tersisa untuk membangkitkan kembali mereka yang telah gugur sebagai pasangan bertarung.

Lex Luthor mengambil keputusan yang mengejutkan banyak pihak. Alih-alih membangkitkan sekutu dari kalangan penjahat, ia justru memilih Kara Zor-El alias Supergirl.

Namun, niat Luthor bukanlah kerja sama tim, melainkan menjadikan Supergirl sebagai subjek eksperimen hidup untuk senjata terbarunya.

Mengenal Designer K: Kryptonite Sintetis Mematikan

Luthor memperkenalkan Designer K, sebuah varian Kryptonite sintetis hasil riset bertahun-tahun yang menggabungkan struktur molekul dari berbagai jenis Kryptonite.

Berbeda dengan Kryptonite hijau yang melemahkan, Designer K justru memicu reaksi ekstrem pada sel Kryptonian tanpa menghilangkan kekuatan mereka. Efeknya sangat mengerikan:

  • Mutasi Fisik: Tubuh Kara membengkak menjadi sosok raksasa yang kehilangan bentuk manusianya.
  • Degradasi Moral: Kesadaran dan nurani Kara hilang sepenuhnya, digantikan oleh naluri predator yang haus darah.
  • Lonjakan Kekuatan: Kekuatannya meningkat secara tak terkendali, mengubahnya menjadi senjata pemusnah massal.

Kekalahan Mental bagi Superman

Di bawah kendali penuh Luthor, Supergirl yang telah bermutasi menjadi monster tanpa ampun membantai rekan-rekannya sendiri, termasuk Hawkman dan Aquaman, tanpa perlawanan berarti.

Kemenangan berdarah ini membawa Luthor melaju ke babak final turnamen dengan mudah.

Bagi Superman, ini merupakan kekalahan yang paling menyakitkan. Melalui layar kosmik, ia dipaksa menyaksikan sepupunya sendiri disiksa, didegradasi secara biologis, dan diperalat sebagai budak oleh musuh bebuyutannya.

Luthor berhasil membuktikan teorinya bahwa untuk mengalahkan seorang “dewa”, ia tidak perlu membunuhnya, melainkan cukup dengan merusak esensi kemanusiaan dan biologisnya.

Keberhasilan uji coba Designer K ini secara drastis mengubah peta kekuatan di semesta DC. Dengan teknologi ini, Luthor kini memiliki kunci untuk mengubah setiap Kryptonian menjadi monster tak terkendali, memberikan ancaman nyata bagi masa depan simbol harapan yang dibawa oleh Superman.