— Kapten Arsenal, Martin Odegaard, menyatakan bahwa ambisi klub adalah memenangkan setiap gelar yang tersedia musim ini. Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi yang meningkat mengenai peluang Arsenal untuk meraih quadruple atau empat gelar sekaligus.

Odegaard menegaskan bahwa mentalitas tim adalah untuk memenangkan setiap pertandingan dan setiap kompetisi yang diikuti. “Kami bermain untuk memenangkan segalanya,” ujar Odegaard, dilansir dari Men in Blazers. “Kami ingin memenangkan setiap pertandingan yang kami mainkan, setiap turnamen yang kami ikuti, setiap trofi, Anda tahu? Jadi, itulah pola pikirnya.”

Saat ini, Arsenal berada di posisi yang kuat untuk mewujudkan ambisi tersebut. Tim asuhan Mikel Arteta memuncaki klasemen Liga Primer Inggris, lolos ke babak gugur Liga Champions dengan rekor sempurna, dan baru saja memastikan diri melaju ke final Piala Liga Inggris setelah mengalahkan Chelsea. Selain itu, mereka juga masih berkompetisi di Piala FA.

Fokus pada Momen Saat Ini

Meskipun peluang quadruple semakin nyata, Odegaard menekankan pentingnya untuk tetap fokus pada setiap momen dan tidak terlalu memikirkan gambaran besar atau masa depan. “Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya pikir kuncinya adalah tetap berada di saat ini dan tidak terlalu memikirkan gambaran yang lebih besar atau terlalu jauh ke depan,” jelasnya.

Menurut kapten timnas Norwegia ini, strategi utama Arsenal adalah memenangkan setiap pertandingan secara berurutan. “Tetapi saya pikir bagi kami, ini hanya tentang memenangkan setiap pertandingan. Itulah tujuan kami,” katanya. Keberadaan tim dalam semua kompetisi dianggap sebagai hal positif yang dapat memotivasi skuad.

“Jadi saat ini kami harus melihat pertandingan berikutnya saja dan itu adalah hal yang baik bahwa kami berada di semua kompetisi. Itulah yang kami inginkan,” tambah Odegaard. Ia menambahkan bahwa memiliki target yang jelas untuk diperjuangkan dapat memberikan dorongan bagi seluruh tim.

Posisi Arsenal dalam Perburuan Gelar

Arsenal saat ini memimpin klasemen Liga Primer Inggris dengan keunggulan enam poin atas pesaing terdekatnya, Manchester City. Di Liga Champions, mereka berhasil memenangkan delapan pertandingan fase grup, mengamankan tempat di babak 16 besar dengan meyakinkan. Di kompetisi domestik, The Gunners telah mencapai final Piala Liga Inggris setelah mengalahkan Chelsea dengan agregat 4-2, dan mereka juga masih bertahan di Piala FA.

Posisi ini membuat Arsenal berpeluang besar untuk meraih trofi pertama mereka sejak memenangkan Piala FA pada musim 2019-2020 di bawah Mikel Arteta. Musim ini menjadi momen penting bagi Arsenal yang dalam tiga musim terakhir selalu finis sebagai runner-up Liga Primer.

Pandangan tentang Pencapaian Quadruple

Meskipun peluang quadruple semakin nyata, sejarah menunjukkan bahwa pencapaian ini sangat langka. Belum pernah ada tim yang berhasil memenangkan empat gelar utama dalam satu musim di Eropa. Beberapa tim seperti Paris Saint-Germain, Barcelona, Real Madrid, dan Bayern Munich pernah meraih empat trofi dalam satu musim, namun tidak selalu mencakup kompetisi paling prestisius seperti Liga Champions.

Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, juga memilih untuk tidak terlalu membahas peluang quadruple secara terbuka. Ia menekankan pentingnya fokus pada proses dan pertandingan demi pertandingan. “Tidak ada gunanya membicarakannya,” kata Arteta. “Yang bisa kita bicarakan dan kendalikan adalah apa yang kita lakukan setiap hari untuk mempertahankan level yang kita miliki, atau meningkatkannya.”

Arteta melihat kemenangan di Piala Liga sebagai “vitamin” untuk membangun momentum tim. “Kami hanya satu pertandingan lagi [dari final],” ujar Arteta. “Ini adalah vitamin terbaik yang bisa kita masukkan ke dalam tubuh kita karena kita bermain setiap tiga hari. Tetapi fakta bahwa Anda bekerja begitu keras untuk mencapai momen-momen itu dan memiliki momen-momen ini bersama sungguh ajaib.”

Di sisi lain, beberapa pengamat sepak bola menilai bahwa Arsenal telah “disodori” posisi teratas di Liga Primer karena minimnya persaingan dari tim lain. Namun, Odegaard dan timnya tampaknya memilih untuk mengabaikan narasi eksternal tersebut dan fokus pada performa mereka di lapangan.