— Posisi Gian Piero Gasperini sebagai pelatih AS Roma kini berada di situasi sulit setelah performa tim yang terus menurun dan munculnya ketegangan internal dengan penasihat klub, Claudio Ranieri. Sejak awal penunjukkannya pada Juni lalu, sebagian pendukung Giallorossi telah menyatakan penolakan secara terbuka melalui spanduk di luar Stadio Olimpico yang meminta klub untuk menghormati sejarah mereka.

Ketegangan ini semakin memuncak setelah hasil imbang 1-1 melawan mantan klub Gasperini, Atalanta, pada Sabtu waktu setempat, yang membuat posisi Roma merosot ke peringkat keenam klasemen. Perolehan 58 poin setelah 33 pertandingan musim ini menunjukkan konsistensi yang mengkhawatirkan karena angka tersebut hampir serupa dengan pencapaian Roma dalam enam musim terakhir tanpa adanya kemajuan signifikan.

Baca Juga: AS Roma vs Cagliari: Ujian Berat Gian Piero Gasperini di Tengah Krisis Badai Cedera

Ketegangan Internal antara Gasperini dan Claudio Ranieri

Konflik antara Gasperini dan Claudio Ranieri mencuat ke publik setelah Ranieri memberikan pernyataan terbuka dalam wawancara dengan Dazn pada 10 April. Ranieri, yang kini menjabat sebagai penasihat senior bagi pemilik klub, mengungkapkan fakta di balik proses pemilihan Gasperini sebagai pelatih kepala.

“Saya tidak menyukai Gasperini. Saya juga sudah memberitahunya bahwa para penggemar tidak menyukainya,” ujar Ranieri saat sesi presentasi bulan Juni lalu yang awalnya dianggap hanya sebagai gurauan semata.

Namun, Ranieri baru-baru ini menegaskan bahwa Gasperini sebenarnya bukan pilihan utama klub untuk mengisi posisi manajer. Menurut keterangannya, Gasperini adalah kandidat keempat setelah tiga nama lain yang diajukan oleh Ranieri gagal didatangkan ke Roma.

Baca Juga: Jadwal Liga Eropa 20 Maret, Lyon vs Celta Vigo Hingga AS Roma vs Bologna di Leg Kedua Babak 16 Besar

“Dari lima atau enam nama yang saya ajukan, tiga di antaranya tidak datang ke sini,” ungkap Ranieri saat membela catatannya terkait kegagalan memperkuat skuat Roma pada bursa transfer sebelumnya.

Performa Lapangan dan Kegagalan di Liga Europa

Kondisi internal yang memanas berbanding lurus dengan kemerosotan hasil pertandingan yang diraih AS Roma di semua kompetisi. Sempat menduduki posisi ketiga pada akhir Februari, performa Giallorossi mulai goyah setelah ditahan imbang 3-3 oleh Juventus pada awal Maret.

Setelah hasil imbang tersebut, Roma melewati lima pertandingan tanpa kemenangan yang mengakibatkan mereka tersingkir dari Liga Europa oleh sesama klub Italia, Bologna. Meskipun sempat menang tipis 1-0 atas Lecce, Roma kembali terpuruk setelah dihantam 2-5 oleh Inter Milan hanya sepekan kemudian.

Penurunan posisi di klasemen membuat Roma kini disalip oleh Juventus, Napoli, dan Como dalam perebutan zona Eropa. Gasperini mengakui bahwa situasi ini sangat tidak ideal bagi ambisi klub untuk kembali berkompetisi di Liga Champions musim depan.

Momen Emosional Gasperini di Konferensi Pers

Gasperini memberikan tanggapan atas komentar Ranieri dalam konferensi pers sebelum pertandingan melawan Atalanta. Ia mengaku sangat terkejut dengan pernyataan terbuka yang dikeluarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi jembatan antara dirinya dan pemilik klub.

“Komentar itu benar-benar tidak terduga dan merupakan kejutan yang luar biasa bagi saya. Prioritas utama saya saat ini adalah tidak melakukan apa pun yang bisa mengguncang stabilitas klub,” kata Gasperini merespons pernyataan Ranieri seperti dikutip dari The Guardian.

Suasana konferensi pers berubah menjadi emosional ketika topik pembahasan beralih ke masa lalunya bersama Atalanta. Gasperini tampak menangis saat menjelaskan bagaimana hubungan kerjanya yang harmonis dengan pimpinan Atalanta, Antonio Percassi, telah membantu klub tersebut meraih keuntungan finansial sekaligus kesuksesan di Eropa.

“Anomalinya adalah selama sembilan tahun mereka bermain di Eropa dengan tim terbaik di Italia dan Eropa, sambil meraup keuntungan. Itu bukan hanya karena jasa saya, tetapi karena kepemimpinan klub yang mampu bekerja selaras dengan pelatih,” pungkas Gasperini sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tanpa menyelesaikan kalimat terakhirnya.