Olimpiade Musim Dingin 2026 yang resmi dibuka pada 6 Februari di Milan dan Cortina d’Ampezzo, Italia, menghadapi kendala iklim yang signifikan. Fenomena pemanasan global memaksa ajang olahraga internasional ini sangat bergantung pada teknologi untuk menjaga kelangsungan perlombaan di kawasan Pegunungan Alpen.
Perubahan Drastis Cortina: 1956 vs 2026
Kondisi iklim di Cortina d’Ampezzo telah berubah secara drastis sejak pertama kali menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin pada tahun 1956. Berdasarkan data yang dihimpun, suhu rata-rata di kawasan tersebut terus merangkak naik sehingga menyulitkan pembentukan salju alami.
“Rata-rata suhu Februari di Cortina kini menghangat 3,6°C dibanding ketika kota itu pertama kali menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin pada 1956,” melansir dari climatecentral.org.
Kenaikan suhu ini berdampak langsung pada jumlah hari beku di wilayah pegunungan tersebut. Akibatnya, durasi musim dingin yang ideal untuk olahraga salju menjadi jauh lebih pendek dibandingkan dekade sebelumnya.
“Jumlah hari bersuhu di bawah nol derajat turun sekitar 41 hari atau 19 persen dari sebelumnya,” mengutip dari climatecentral.org.
Ketergantungan pada 3 Juta Yard Kubik Salju Buatan
Demi menjaga lintasan tetap dingin dan aman bagi para atlet, panitia penyelenggara memproduksi salju dalam jumlah besar. Penggunaan teknologi ini menjadi simbol pergeseran besar dalam sejarah olahraga musim dingin yang kini harus bertumpu pada intervensi manusia untuk bisa tetap berjalan.
Panitia akan menggunakan lebih dari 3 juta yard kubik salju buatan di berbagai arena pertandingan. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk memastikan permukaan lintasan tidak menjadi lembek dan licin, yang dapat meningkatkan risiko cedera serta mengancam keadilan kompetisi.
“Teknologi salju buatan (artificial snow) digunakan untuk menjamin kondisi lintasan ski, snowboarding, dan cabang olahraga luar ruangan lainnya tetap stabil,” seperti diberitakan reuters.com.
Proses produksi ini dilakukan dengan menyemprotkan air bertekanan tinggi melalui mesin snow cannon pada suhu dingin agar terbentuk butiran es halus. Meski menjadi solusi teknis, metode ini memerlukan konsumsi energi dan air yang besar yang diambil dari sungai atau reservoir di pegunungan.
Ancaman Pemanasan Global dan Masa Depan Olimpiade
Pemanasan global tidak hanya berdampak pada edisi 2026, tetapi juga mengancam ketersediaan tuan rumah di masa depan. Analisis menunjukkan bahwa hampir semua kota yang pernah menyelenggarakan Olimpiade Musim Dingin sejak 1950 mengalami kenaikan suhu rata-rata.
“Seluruh kota yang pernah menjadi tuan rumah sejak 1950 mengalami kenaikan suhu rata-rata sekitar 2,7°F atau 1,5°C,” melansir dari climatecentral.org.
Riset terbaru memperkirakan bahwa jumlah lokasi yang layak secara iklim akan terus menyusut. Dari 93 lokasi potensial di seluruh dunia, diprediksi hanya 52 lokasi yang masih memiliki kondisi iklim andal pada dekade 2050-an.
Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di kalangan pelaku olahraga profesional. Penyelenggara Paralympic Games yang digelar pada bulan Maret juga menghadapi risiko lebih tinggi karena jumlah lokasi yang layak diprediksi turun menjadi hanya 22 kota.
Situasi ini memaksa para atlet untuk terus berpindah lokasi guna mencari tempat latihan yang masih cukup dingin. Fenomena “mengejar salju” kini menjadi realitas baru bagi para atlet profesional di tengah ketidakpastian iklim global.
Ikuti Ihram.co.id
