— Legenda Manchester United, Paul Scholes, akhirnya buka suara untuk mengklarifikasi komentarnya di media sosial yang sempat menimbulkan kontroversi dan dianggap sebagai kritik tajam terhadap manajer interim klub, Michael Carrick. Scholes menegaskan bahwa pernyataannya tidak bermaksud menyerang atau menyinggung Carrick, melainkan ada kesalahpahaman dalam interpretasi publik.

Komentar Scholes tersebut muncul setelah kekalahan Manchester United 2-1 dari Newcastle United pada pekan lalu. Melalui unggahan di Instagram Story yang kemudian dihapus, Scholes menulis, “Michael (Carrick) jelas punya sesuatu yang istimewa… karena United tampil buruk dalam empat pertandingan terakhir.” Pernyataan ini memicu berbagai reaksi, termasuk dari mantan rekan setimnya, Patrice Evra, yang mempertanyakan nada negatif dari para pundit televisi.

Klarifikasi Langsung ke Carrick

Menanggapi polemik yang timbul, Scholes menyatakan bahwa ia segera menghubungi Michael Carrick secara langsung untuk menjelaskan maksud sebenarnya dari komentarnya. “Michael adalah salah satu orang teramah yang akan Anda temui di sepak bola – dia adalah orang terakhir yang ingin saya sakiti,” ujar Scholes dalam podcast “The Good, The Bad & The Football”.

Scholes menambahkan, “Saya langsung mengirim pesan kepada Michael dan berkata, ‘Dengar, saya tidak pernah bermaksud membuatmu kesal.’ Dan dia sendiri mengatakan kepada saya bahwa dia tidak terganggu olehnya.”

Scholes menjelaskan bahwa niat di balik komentarnya adalah untuk menyoroti kemampuan Carrick dalam meraih hasil positif meskipun performa tim sedang tidak optimal. “Saya pikir orang-orang salah menafsirkan apa yang dimaksud,” jelasnya.

“Satu-satunya hal yang saya katakan adalah bahwa saya tidak berpikir mereka bermain dengan baik dalam empat pertandingan terakhir, dan dia masih berhasil mendapatkan hasil.”

Dukungan di Balik Pernyataan

Pernyataan Scholes tersebut muncul di tengah periode yang kompleks bagi Manchester United. Sejak mengambil alih posisi manajer interim menggantikan Ruben Amorim pada pertengahan Januari 2026, Carrick telah berhasil membawa tim meraih serangkaian hasil positif, termasuk enam kemenangan dari delapan pertandingan sebelum kekalahan dari Newcastle.

Periode ini membuat United bertengger di posisi ketiga klasemen sementara Liga Primer Inggris dan bersaing ketat untuk kualifikasi Liga Champions.

Namun, Scholes sendiri kerap menyuarakan pandangannya mengenai kebutuhan klub untuk merekrut manajer permanen dengan pengalaman yang lebih luas. Ia pernah mempertanyakan apakah Carrick memiliki pengalaman memenangkan trofi yang dibutuhkan Manchester United dan bahkan menyebut Carlo Ancelotti sebagai pilihan ideal.

Pandangan ini, ditambah dengan komentar media sosialnya, menimbulkan spekulasi mengenai keretakan hubungan antara kedua legenda klub tersebut.

Hubungan Jangka Panjang

Hubungan antara Scholes dan Carrick sendiri memiliki sejarah panjang, dimulai dari masa mereka bermain bersama di lini tengah Manchester United selama tujuh tahun. Keduanya berbagi lapangan sebanyak 160 kali. Setelah pensiun, Carrick bahkan pernah menyebut Scholes sebagai pemain terbaik yang pernah bermain bersamanya.

Namun, hubungan mereka sempat menunjukkan ketegangan pada tahun 2021 ketika Carrick ditunjuk sebagai manajer interim pasca-pemecatan Ole Gunnar Solskjær. Saat itu, Scholes sempat menuduh Carrick tidak setia kepada Solskjær karena mengambil peran tersebut.

Scholes berpendapat bahwa Carrick seharusnya merasa bersalah karena tetap berada di klub setelah Solskjær, yang sangat mempercayainya, dipecat.

Meskipun demikian, klarifikasi terbaru dari Scholes ini menunjukkan bahwa tidak ada permusuhan yang berkepanjangan antara dirinya dan Carrick. Dengan fokus kini kembali tertuju pada performa tim di lapangan dan upaya mereka untuk mengakhiri musim dengan kuat di bawah arahan Carrick, dinamika di luar lapangan tampaknya telah mereda.