Ihram.co.id — Amerika Serikat (AS) melakukan operasi militer di Caracas yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Tindakan ini merupakan puncak tekanan berbulan-bulan dari pemerintahan Presiden Donald Trump dan menuai beragam reaksi dari negara-negara di kawasan Amerika Latin, serta kecaman dari sekutu Venezuela, Rusia dan China.
Rusia dan China Kecam Tindakan AS
Rusia dan China, yang selama ini dikenal sebagai pendukung kuat pemerintahan sosialis Venezuela, mengecam keras penangkapan Maduro. Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan tindakan AS tidak dapat dibenarkan dan merupakan agresi bersenjata. “Permusuhan yang berideologi telah mengalahkan pertimbangan pragmatis, serta keinginan untuk membangun hubungan berdasarkan kepercayaan dan prediktabilitas,” ujar pernyataan resmi Rusia, seperti dilansir TASS. Moskow mendesak AS untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan menawarkan diri untuk mendukung dialog antara AS dan Venezuela.
Senada dengan Rusia, Kementerian Luar Negeri China juga menyerukan agar AS segera membebaskan Maduro dan istrinya, Cilia Flores. “China menyerukan AS untuk memastikan keselamatan pribadi Presiden Maduro dan istrinya, segera membebaskan Presiden Maduro dan istrinya,” ujar pernyataan kementerian tersebut, seperti dikutip CNN. China mendesak AS untuk menyelesaikan masalah melalui dialog dan menghentikan upaya penggulingan rezim Venezuela.
Amerika Latin Terbelah
Reaksi negara-negara di Amerika Latin menunjukkan perpecahan politik yang mendalam. Sejumlah negara sekutu AS memuji penangkapan Maduro, sementara yang lain mengutuk operasi tersebut. Dilansir NBC News, Kolombia, Brasil, Meksiko, Uruguay, dan Kuba mengutuk serangan AS dan menyerukan PBB untuk mencari solusi damai. Sementara itu, Argentina, Paraguay, dan Ekuador menyambut baik berita penangkapan tersebut. Panama menyatakan dukungan untuk oposisi politik Venezuela, sedangkan Guatemala menyerukan lebih banyak dialog.
PBB Prihatin, Tunjuk Presiden Interim
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinan mendalam atas aksi militer AS di Venezuela dan dampaknya terhadap kawasan. Juru Bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, menyampaikan bahwa Guterres khawatir dengan preseden berbahaya yang diciptakan oleh perkembangan ini. Guterres menekankan pentingnya penghormatan penuh terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB, oleh semua pihak.
Sementara itu, Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Wakil Presiden Delcy Eloina Rodriguez Gomez sebagai Presiden interim. Keputusan ini diambil berdasarkan konstitusi Venezuela untuk menjamin kesinambungan administrasi dan pertahanan negara di tengah ketidakhadiran sementara Presiden Maduro. Mahkamah Agung Venezuela juga meminta Rodriguez, Dewan Pertahanan Nasional, Komando Militer Tinggi, dan Mahkamah Nasional untuk diberitahu mengenai situasi terkini.
Ikuti Ihram.co.id
