Kepala Pemandu Bakat Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Simon Tahamata, menyoroti fenomena banyaknya pemain diaspora yang kini bermain di Super League Indonesia. Ia menilai kehadiran para pemain keturunan tersebut seharusnya menjadi contoh positif bagi talenta muda sepak bola nasional.
Saat ini, tercatat lebih dari 10 pemain naturalisasi yang sebelumnya berkarier di Eropa kini meramaikan kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Simon Tahamata, yang akrab disapa Om Simon, memilih untuk tidak terlalu larut dalam polemik seputar isu tersebut. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana seluruh pemain yang berkompetisi di Indonesia, baik pemain lokal maupun naturalisasi, dapat memberikan teladan yang baik.
Pentingnya Teladan dan Pembinaan Usia Muda
“Naturalisasi kan bercampur dengan pemain Timnas di sini. Sekali lagi, Indonesia besar. Ada banyak bakat di sini,” ujar Simon Tahamata saat dimintai pendapatnya mengenai eksodus diaspora ke Super League seperti yang dikutip dari CNN, merujuk pada banyaknya pemain keturunan yang memilih pulang kampung untuk bermain di kompetisi domestik.
Dalam pandangan Simon, kehadiran pemain diaspora di Super League memberikan warna baru dan meningkatkan kualitas persaingan liga. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa hingga ditutupnya bursa transfer paruh musim 2025/2026, tercatat ada 10 pemain diaspora yang bergabung dengan klub-klub Indonesia. Beberapa nama yang telah lama bermain di Indonesia antara lain Jordi Amat, Rafael Struick, Thom Haye, Eliano Reijnders, dan Jens Raven.
Memasuki jendela transfer paruh musim, lima nama lain turut menyusul, seperti Mauro Zijlstra, Ivar Jenner, Dion Markx, Shayne Pattynama, dan Cyrus Margono. Klub seperti Persija Jakarta menjadi yang paling agresif dengan merekrut empat pemain diaspora, sementara Persib Bandung juga mendatangkan tiga pemain keturunan.
Namun, Simon Tahamata menekankan bahwa fokus utama saat ini seharusnya tertuju pada pembenahan sistem pembinaan sepak bola di Indonesia. “Sekarang saya mau memberi pesan kepada pelatih-pelatih yang mulai dengan anak-anak muda. Saya ajak mereka main bola, mereka mempengaruhi anak-anak 12, 13,” katanya. Ia menambahkan pentingnya memberikan contoh yang baik agar masa depan sepak bola nasional dapat terjaga.
Masa Depan Tim Nasional Indonesia
Legenda Ajax Amsterdam ini juga menggarisbawahi pentingnya peran pelatih berkualitas dalam membina pemain usia muda. “Jangan sampai mereka lihat contoh tidak bagus. Melatih dengan anak-anak, kita punya masa depan juga untuk bermain di tim nasional,” tegas Simon.
Simon Tahamata berpendapat bahwa meskipun saat ini Tim Nasional Indonesia mungkin diisi oleh pemain naturalisasi, namun di masa depan, skuad Garuda harus lebih banyak diisi oleh pemain yang lahir dan besar di Indonesia. “Contoh, naturalisasi semua. Kalau saya, saya akan cari anak-anak di sini. Karena di sini ada banyak paket. Indonesia besar, ya,” ucapnya.
Pernyataan Simon Tahamata ini sejalan dengan pandangan Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, yang menyatakan bahwa kehadiran pemain diaspora di kompetisi domestik adalah hal yang positif dan tidak perlu dikaitkan dengan konspirasi. PSSI, menurut Arya, berupaya menjaga kualitas kompetisi agar tidak menurun dan berdampak pada kualitas tim nasional.
PSSI sendiri telah menunjuk Simon Tahamata sebagai Kepala Pemandu Bakat Nasional sejak Mei 2025. Dalam perannya tersebut, Simon bertanggung jawab mengidentifikasi dan merekrut talenta potensial, baik dari pemain domestik maupun diaspora Indonesia di luar negeri, khususnya di Belanda. Ia akan berkolaborasi dengan pelatih tim nasional untuk memastikan keberlanjutan kualitas dan perkembangan sepak bola Indonesia.
Ikuti Ihram.co.id
