Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi penggunaan perdana drone serang LUCAS dalam operasi udara di Iran pada 28 Februari. Drone Low-Cost Uncrewed Combat Attack System (LUCAS) ini diluncurkan dari darat oleh Satuan Tugas Scorpion Strike sebagai bagian dari Operasi Epic Fury yang melibatkan kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel.
Penggunaan LUCAS menandai perubahan strategi militer Amerika Serikat yang kini mengadopsi teknologi drone murah untuk menghadapi taktik peperangan di kawasan Timur Tengah. Drone ini merupakan hasil rekayasa balik (reverse engineering) dari drone Shahed-136 milik Iran dan diproduksi secara massal oleh sejumlah perusahaan inovasi domestik Amerika Serikat.
Perbandingan Spesifikasi Teknis LUCAS dan Shahed-136
LUCAS dikembangkan oleh perusahaan SpektreWorks dengan merujuk pada desain drone target FLM 136. Berdasarkan data teknisnya, drone ini memiliki jangkauan maksimum sejauh 444 mil dengan durasi terbang mencapai enam jam serta kapasitas muatan seberat 40 pon.
Spesifikasi tersebut berbeda dengan basis desainnya, yakni Shahed-136, yang memiliki jangkauan terbang lebih jauh hingga 1.242 mil. Drone asal Iran tersebut tercatat mempunyai kecepatan maksimal 100 knot dan bekerja dengan cara menyerang target statis sesuai koordinat yang diprogram sebelum peluncuran.
Meskipun memiliki jangkauan yang lebih pendek dibandingkan Shahed-136, LUCAS menawarkan fleksibilitas peluncuran yang lebih beragam. Sistem ini dapat dioperasikan menggunakan mekanisme katapel, lepas landas berbantuan roket, hingga sistem peluncuran dari kendaraan bergerak di darat.
Integrasi Teknologi Swarm dan Jaringan Starlink
LUCAS memiliki fitur koordinasi otonom yang memungkinkan penerapan taktik serangan kawanan atau swarm tactics dalam misi tempur. Teknologi ini mendukung serangan berbasis jaringan yang dinamis, di mana beberapa unit drone dapat bekerja secara kooperatif di medan perang.
Seorang pejabat Amerika Serikat menyatakan bahwa kemampuan koordinasi tersebut diperkuat dengan integrasi terminal Starlink pada beberapa unit drone. Penggunaan jaringan satelit ini memungkinkan penargetan dinamis dan taktik kooperatif tingkat lanjut dengan pengawasan langsung dari operator manusia.
Juru Bicara CENTCOM, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, menjelaskan bahwa platform ini memiliki kemampuan beroperasi di luar garis pandang. “Sistem drone ini memiliki jangkauan luas dan kemampuan untuk beroperasi di luar garis pandang, memberikan kapabilitas signifikan di seluruh area operasi CENTCOM yang luas,” ujar Hawkins pada Senin (2/3/2026).
Efisiensi Biaya dan Uji Coba Lintas Matra
Satu unit drone LUCAS dibanderol dengan harga sekitar US$35.000 atau setara dengan Rp590 juta. Harga tersebut berada jauh di bawah nilai sistem rudal jarak jauh tradisional Amerika Serikat yang digunakan untuk mencapai dampak serupa di medan tempur.
Selain operasional darat, personel Angkatan Laut Amerika Serikat di Timur Tengah juga telah melakukan uji coba peluncuran drone ini dari kapal perang. Pengujian dilakukan menggunakan kapal Littoral Combat Ship (LCS) kelas Independence, USS Santa Barbara, untuk memperluas mobilitas serangan dari laut.
Munculnya penggunaan LUCAS terjadi di tengah terbatasnya efektivitas sistem pertahanan udara konvensional dalam membendung serangan drone murah. Laporan lapangan menunjukkan sistem pertahanan berlapis milik Israel maupun sistem pertahanan udara Amerika Serikat belum mampu memberikan perlindungan penuh terhadap ancaman drone jenis ini.
Ikuti Ihram.co.id
