Aktor Ringgo Agus Rahman membagikan refleksi mendalam mengenai dinamika keluarga saat terlibat dalam film terbaru berjudul Esok Tanpa Ibu.

Baginya, kehangatan keluarga di dunia nyata sering kali berbeda dengan apa yang ditampilkan di layar lebar.

Dalam proses pendalaman karakter, Ringgo menyadari adanya perbedaan mencolok dalam cara seseorang mengekspresikan kasih sayang, baik sebagai seorang ayah maupun sebagai anak. Ia mengaku banyak berkaca pada hubungan pribadinya dengan sang ayah dan anak-anaknya.

Perbedaan Bahasa Cinta Antar Generasi

Menurut Ringgo, menyatakan rasa sayang kepada anak terasa jauh lebih mudah dibandingkan kepada orang tua. Fenomena ini ia nilai tidak lepas dari perbedaan latar belakang generasi yang membentuk pola komunikasi masing-masing.

— “Gue berkaca, kan bentuk kehangatan tuh beda-beda ya, gak selamanya kayak di film. Termasuk beda sekali gue dengan anak gue, gue ke bokap gue tuh beda banget,” ujar Ringgo di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (19/1/2026).

Bagi generasi ayahnya, kehadiran fisik dan aktivitas sederhana seperti makan bersama sudah menjadi representasi cinta yang sangat kuat. Hal ini berbeda dengan cara komunikasi generasi sekarang yang cenderung lebih terbuka secara verbal.

“Kalau generasi ayah, asal kita baik-baik saja, makan bareng, itu sudah satu bentuk yang luar biasa. Bahasa cintanya tuh beda,” tambahnya.

Tantangan Komunikasi di Masa Depan

Meski saat ini ia merasa sangat mudah mengungkapkan kasih sayang kepada anak-anaknya, Ringgo menyadari tantangan yang mungkin muncul di masa depan. Ia memprediksi adanya potensi perubahan dinamika saat anak-anaknya beranjak dewasa.

Ia merasa ada kemungkinan munculnya kecanggungan seiring berjalannya waktu. Kendati demikian, pengalaman dalam film Esok Tanpa Ibu memberinya perspektif baru mengenai pentingnya memahami bahasa cinta yang unik dalam setiap hubungan keluarga.