— Pemain Persija Jakarta, Shayne Pattynama, membandingkan atmosfer Liga 1 Indonesia dengan kompetisi yang pernah ia jalani di Eropa dan Thailand. Sejak bergabung dengan Macan Kemayoran pada Januari 2026, pemain Timnas Indonesia ini telah merasakan tiga pertandingan, meskipun sebagian besar sebagai pemain pengganti.

Penilaian Shayne Pattynama terhadap Liga 1 menyoroti tuntutan fisik yang tinggi. “Liganya sangat mengandalkan fisik, pemain naik-turun dengan cepat, dan sangat menuntut stamina. Kualitas liganya bagus dengan banyak pemain berkualitas. Tidak ada laga yang mudah; setiap pertandingan adalah tantangan,” ujar Shayne kepada pewarta seperti dikutip dari 90menit.

Tantangan Fisik dan Kualitas Pemain

Durasi bermain yang singkat tidak menghalangi Shayne untuk memberikan penilaian terhadap kualitas Liga 1. Ia mengungkapkan bahwa kompetisi di Indonesia sangat mengandalkan fisik. Pemain naturalisasi ini juga memuji kualitas talenta di Super League. “Pemain lokal Indonesia sangat bagus, begitu juga pemain asal Brasil dan negara lainnya. Saat pertama kali berbincang dengan Jordi (Amat), dia sudah bilang bahwa tidak mudah main di sini. Akan sangat menantang dan setiap laga terasa berat. Tapi saya suka tantangan,” tambahnya.

Shayne Pattynama, yang lahir di Belanda dan kini membela Timnas Indonesia, telah merasakan berbagai kompetisi sepak bola sebelum bergabung dengan Persija Jakarta. Ia pernah bermain untuk Jong Utrecht dan SC Telstar di Belanda, Viking FK di Norwegia, serta KAS Eupen di Belgia. Pengalaman tersebut memberinya perspektif yang luas mengenai perbedaan intensitas dan gaya bermain antar liga.

Perbandingan dengan Liga Eropa dan Thailand

Shayne Pattynama mulai merasakan atmosfer Liga 1 Indonesia setelah resmi berseragam Macan Kemayoran pada Januari 2026. Ia telah tampil dalam tiga pertandingan, membantu Persija meraih kemenangan. Pengalaman singkat ini sudah cukup baginya untuk memberikan penilaian awal mengenai perbedaan antara Liga 1 dengan kompetisi di Eropa dan Thailand.

Menurut Shayne, Liga 1 Indonesia menuntut pemain untuk terus bergerak naik turun lapangan dengan cepat, yang sangat menguras stamina. Hal ini berbeda dengan liga-liga di Eropa yang mungkin memiliki variasi taktik dan tempo permainan yang lebih beragam, sementara liga Thailand juga memiliki karakteristiknya sendiri yang mungkin tidak seintens Liga 1 dalam hal tuntutan fisik murni.

Meskipun begitu, Shayne tetap memuji kualitas Liga 1 secara keseluruhan. Ia menilai banyak pemain berkualitas di Indonesia, baik lokal maupun asing. “Tidak ada laga yang mudah; setiap pertandingan adalah tantangan,” tegasnya, menunjukkan bahwa setiap tim mampu memberikan perlawanan sengit.