Ihram.co.id — Kekalahan telak 0-4 Barcelona dari Atletico Madrid dalam leg pertama semifinal Copa del Rey pada Jumat (13/2/2026) dini hari WIB memicu kegelisahan di internal klub. Laporan terbaru menyebutkan bahwa para pemain Barcelona mulai mempertanyakan efektivitas taktik yang diterapkan oleh pelatih Hansi Flick, terutama terkait strategi garis pertahanan tinggi yang dinilai terlalu berisiko dalam pertandingan krusial tersebut.
Tragedi di Stadion Metropolitano, di mana Barcelona kebobolan empat gol di babak pertama, menjadi pukulan telak bagi ambisi tim. Situasi ini bukan hanya mencoreng rekor klub, tetapi juga membuka celah perbedaan pandangan antara pemain dan pelatih mengenai pendekatan taktis yang ideal.
Para pemain dilaporkan merasa bahwa penerapan taktik intensif Flick, yang sering mengandalkan pressing tinggi dan garis pertahanan maju, kurang sesuai dengan kondisi pertandingan melawan tim sekelas Atletico Madrid yang dikenal dengan transisi cepat dan efektivitas serangan balik.
Kritik Terhadap Taktik Garis Pertahanan Tinggi
Menurut laporan dari The Athletic dan Goal.com, para pemain Barcelona telah menyuarakan keprihatinan mereka kepada Hansi Flick. Kekalahan telak 0-4 dari Atletico Madrid menjadi pemicu utama kekecewaan ini.
Para pemain merasa bahwa strategi garis pertahanan tinggi yang menjadi ciri khas Flick terbukti sangat rentan dieksploitasi oleh Atletico Madrid. Gol pertama Atletico Madrid bahkan tercipta akibat kesalahan fatal kiper Joan Garcia yang gagal mengontrol operan balik dari Eric Garcia, sebuah insiden yang menggarisbawahi kerapuhan pertahanan Barcelona saat bermain dengan garis tinggi.
Kekalahan ini dilaporkan telah memicu kemarahan terbesar Hansi Flick sejak ia memimpin tim selama 18 bulan terakhir. Ia mengungkapkan kekecewaan mendalam atas intensitas dan semangat juang tim yang dianggapnya rendah di babak pertama.
“Kami tidak bermain bagus di babak pertama, kami tidak bermain sebagai tim. Jarak antara kami sangat besar. Kami tidak melakukan pressing,” ujar Flick dalam konferensi pers pasca pertandingan, seperti dikutip dari ESPN.
Flick sendiri mengakui bahwa timnya mendapat pelajaran berharga dari kekalahan tersebut. Ia menekankan bahwa penampilan di babak pertama sangat mengecewakan dan timnya jauh dari performa terbaik.
“Terkadang itu bagus jika datang pada momen yang tepat. Mungkin hari ini adalah momen yang tepat,” tambahnya, menunjukkan bahwa kekalahan ini bisa menjadi titik balik untuk perbaikan.
Perbedaan Taktik dan Ketersediaan Pemain Kunci
Beberapa pemain merasa bahwa penerapan taktik Flick menjadi semakin sulit ketika pemain kunci seperti Raphinha dan Pedri tidak tersedia. Absennya kedua pemain tersebut dinilai memperparah kesulitan tim dalam menjalankan strategi yang membutuhkan koordinasi tinggi dan kemampuan individu yang mumpuni.
Pesan utama yang ingin disampaikan para pemain kepada Flick adalah keinginan untuk tidak sepenuhnya meninggalkan pendekatan taktisnya yang telah terbukti sukses, namun mereka berharap agar manajer dapat mempertimbangkan pendekatan yang lebih pragmatis dan adaptif, terutama dalam pertandingan besar.
Mereka menginginkan fleksibilitas taktis yang lebih baik, yang mampu menyesuaikan diri dengan ketersediaan pemain dan kekuatan lawan.
Situasi ini juga diperparah dengan keputusan-keputusan kontroversial dari wasit yang dinilai merugikan Barcelona. Salah satu momen yang paling disorot adalah pembatalan gol Pau Cubarsí setelah peninjauan VAR yang berlangsung lama.
Flick sendiri menyuarakan frustrasinya terhadap proses VAR yang dianggapnya tidak transparan dan memakan waktu terlalu lama, serta kurangnya komunikasi dari ofisial pertandingan.
Reaksi dan Harapan untuk Leg Kedua
Meskipun demikian, Hansi Flick tetap menunjukkan kebanggaannya terhadap para pemainnya atas perjuangan mereka sepanjang musim, terutama dengan banyaknya cedera yang dialami tim. “Saya bangga pada tim saya. Kami akan bangkit. Kami harus memulai pertandingan dengan benar sejak awal,” tegasnya.
Flick juga menekankan bahwa timnya memiliki dua babak 45 menit lagi di leg kedua untuk membalikkan keadaan.
“Kami masih punya leg kedua. Kami akan berjuang untuk itu. Jika kami bisa memenangi setiap babak dengan skor 2-0, itu target kami. Kami membutuhkan dukungan suporter di Camp Nou,” ujarnya, menunjukkan optimisme untuk pertandingan selanjutnya.
Kekalahan telak 0-4 ini menjadi tantangan besar bagi Barcelona untuk mempertahankan gelar Copa del Rey mereka. Leg kedua semifinal akan digelar di Spotify Camp Nou pada 3 Maret, di mana Barcelona harus mampu membalikkan defisit gol yang signifikan jika ingin melaju ke final.
Ikuti Ihram.co.id
