Ihram.co.id — Xiaomi kembali mempertahankan fitur sensor infrared (IR blaster) pada smartphone flagship terbarunya, Xiaomi 17 Ultra, yang dijadwalkan meluncur pada 2026. Keputusan ini menjadi sorotan karena teknologi tersebut telah lama ditinggalkan sejumlah produsen smartphone, termasuk Samsung.
Sensor infrared memungkinkan smartphone berfungsi sebagai remote control universal untuk berbagai perangkat elektronik seperti televisi, pendingin ruangan, hingga perangkat audio lama yang belum terhubung ke internet.
Di tengah tren perangkat pintar berbasis internet (IoT), langkah Xiaomi mempertahankan teknologi lawas tersebut dinilai menunjukkan pendekatan berbeda dalam strategi pengembangan fitur smartphone.
Baca Juga: Xiaomi 17 Ultra Masuk 6 Besar Kamera Terbaik Dunia Versi DXOMARK, Kalahkan Banyak Flagship
Samsung Tinggalkan Sensor IR Demi Desain dan Ekosistem
Samsung merupakan salah satu produsen besar yang lebih dulu menghapus sensor infrared dari smartphone premiumnya. Fitur tersebut terakhir hadir pada lini flagship seperti Samsung Galaxy S6 sebelum akhirnya dihentikan sekitar 2016.
Terdapat dua faktor utama yang mendorong keputusan tersebut:
- Optimalisasi desain perangkat, Samsung berupaya memaksimalkan ruang internal smartphone untuk menghasilkan perangkat yang lebih tipis dengan kapasitas baterai lebih besar. Sensor IR dianggap tidak lagi prioritas dan dapat dikorbankan demi efisiensi desain.
- Penguatan ekosistem perangkat pintar, Samsung beralih ke pendekatan berbasis internet melalui ekosistem smart home. Pengguna didorong menggunakan perangkat rumah tangga pintar yang terhubung melalui jaringan Wi-Fi dan dikontrol lewat aplikasi khusus seperti SmartThings. Pendekatan ini mengutamakan konektivitas digital dibanding kontrol berbasis infrared.
Strategi tersebut sejalan dengan perkembangan perangkat rumah tangga modern yang semakin terintegrasi dengan internet dan layanan cloud.
Xiaomi Fokus pada Pengalaman Pengguna dan Kebutuhan Nyata
Berbeda dengan Samsung, Xiaomi memilih mempertahankan sensor IR dengan fokus pada pengalaman pengguna sehari-hari.
Perusahaan teknologi asal China itu menilai tidak semua perangkat elektronik telah mendukung konektivitas pintar. Banyak perangkat seperti televisi lama, pendingin ruangan di hotel, atau perangkat rumah tangga konvensional masih menggunakan remote berbasis infrared.
Dengan sensor IR, smartphone dapat langsung digunakan sebagai remote universal dengan sistem “point and press” tanpa koneksi internet, aplikasi tambahan, atau proses pairing.
Dari sisi biaya produksi, komponen sensor infrared juga relatif murah dengan harga kurang dari USD 1 (sekitar Rp16.000). Namun fitur tersebut dinilai mampu meningkatkan nilai guna perangkat serta memberikan fleksibilitas lebih bagi pengguna.
Perbedaan Filosofi Teknologi Dua Raksasa
Perbedaan keputusan Xiaomi dan Samsung mencerminkan dua pendekatan berbeda dalam pengembangan teknologi mobile.
Samsung menitikberatkan pada integrasi ekosistem perangkat pintar berbasis internet dan desain minimalis modern, sementara Xiaomi menggabungkan teknologi lama dan baru untuk memberikan fleksibilitas penggunaan.
Baca Juga: Teknologi Kamera LOFIC Xiaomi 17 Ultra Bakal Jadi Standar Semua Flagship di Tahun 2026
Pendekatan Xiaomi menunjukkan bahwa fitur sederhana yang mendukung kebutuhan praktis pengguna masih memiliki relevansi, bahkan di perangkat flagship terbaru.
Dengan mempertahankan sensor infrared pada Xiaomi 17 Ultra, perusahaan berupaya menghadirkan keseimbangan antara inovasi teknologi modern dan kemudahan penggunaan sehari-hari.
Ikuti Ihram.co.id
