— Kepindahan Alexander Isak dari Newcastle United ke Liverpool dengan rekor transfer Inggris senilai 125 juta poundsterling (sekitar Rp 2 triliun) kini terasa bak mimpi buruk bagi semua pihak yang terlibat. Sejak transfer yang menjadi saga musim panas itu, tidak ada pemenang yang terlihat, kecuali mungkin agen sang pemain.

Baik manajer Liverpool Arne Slot, pelatih Newcastle Eddie Howe, petinggi kedua klub, maupun Isak sendiri, semuanya merasa dirugikan. Isak, yang harusnya menjadi andalan baru Liverpool, kini harus menepi karena cedera tulang kaki, sebuah ironi bagi pemain yang didatangkan untuk membawa tim meraih gelar.

Kondisi Isak tak hanya fisik, tetapi juga mental. Sumber di lapangan membandingkan situasinya dengan Fernando Torres saat meninggalkan Liverpool menuju Chelsea. Perubahan bahasa tubuh Isak terlihat jelas: dari sosok yang ceria dan mudah didekati, kini ia tampak murung, tersesat, dan menarik diri.

Proses kepindahannya yang kontroversial dari Newcastle, termasuk dugaan mogok bermain dan meninggalkan rekan serta staf yang telah mendukungnya, disebut meninggalkan luka mendalam. Video perkenalannya di Liverpool, yang direkam larut malam di hari terakhir bursa transfer, justru menampilkan sosok yang terlihat seperti tawanan, bukan pemain bebas yang siap memulai petualangan baru.

Bahkan, momen saat ia mengendarai mobilnya menuju pusat latihan Newcastle sementara truk es krim keluar, menjadi simbol keterasingannya. Saat itu, tim dan staf sedang menikmati acara keluarga, sementara Isak diminta untuk tidak hadir.

Perjuangan Adaptasi di Anfield

Sejak didatangkan, Alexander Isak belum menunjukkan dampak signifikan di Liverpool. Ia dikabarkan kesulitan beradaptasi dengan kehidupan di Anfield. Rekan setimnya, Alexis Mac Allister, pernah menyebut, “Alex sangat pendiam. Kadang dia suka menyendiri.” Pernyataan itu diucap saat Isak masih dalam kondisi bugar.

Puncak masalahnya terjadi pada 20 Desember lalu, ketika ia mengalami cedera saat mencetak gol Premier League keduanya musim ini melawan Tottenham Hotspur. Hingga kini, ia masih menggunakan alat bantu jalan.

Perjalanan Isak ke Anfield tidak sesuai harapan. Arne Slot memboyongnya dengan ekspektasi sebagai pencetak gol ulung yang akan membantu tim mempertahankan gelar Premier League. Namun, kenyataannya Isak datang dalam kondisi kurang fit akibat eksilnya di Newcastle, dan belum mampu memberikan kontribusi berarti.

Liverpool sempat meraih lima kemenangan beruntun di awal musim. Namun, setelah Isak menjalani debut penuhnya dalam kekalahan 2-1 dari Crystal Palace, tim hanya mampu memenangkan lima dari 17 pertandingan berikutnya. Slot bahkan mengakui harus memainkan Isak untuk meningkatkan kebugarannya, yang berdampak pada momentum Hugo Ekitike.

Muncul pula kabar bahwa Mohamed Salah merasa tersaingi oleh sorotan pada pemain baru. Tiga gol Isak di semua kompetisi tercipta saat Salah tidak berada di lapangan. Sebaliknya, dari enam gol Salah, hanya satu yang dicetak bersama Isak.

Tak ada chemistry antara kedua pemain yang musim lalu mencetak 52 gol gabungan di liga. Absennya gol dari duet ini menjadi alasan utama mengapa posisi Slot kini terancam.

Dampak Bagi Klub dan Pelatih

Kepindahan Isak juga memicu ketegangan antara direktur olahraga Liverpool, Richard Hughes, dan Eddie Howe. Isak diduga mendapat dorongan dari Liverpool sebelum memutuskan menolak perpanjangan kontrak di Newcastle. Hughes berhasil mendapatkan pemain incarannya, namun obsesi pada Isak disebut-sebut mengorbankan waktu dan sumber daya dalam upaya mendatangkan Marc Guehi, bek yang mungkin lebih dibutuhkan.

Bagi Eddie Howe, kehilangan Isak menjadi pukulan telak. Meski telah mencoba mencari pengganti, termasuk mendatangkan Nick Woltemade dan Yoane Wissa, performa mereka belum sepadan. Woltemade, misalnya, meskipun mencetak gol di awal musim, memiliki gaya bermain berbeda dari Isak yang lebih dinamis dan menakutkan lawan.

Howe sendiri mengakui dampak kepergian Isak. “Anda kehilangan pemain seperti Alex, dan Liverpool membayarnya karena dia adalah pemain sepak bola yang luar biasa, talenta yang luar biasa,” ujar Howe. “Kami merasa terhormat memilikinya selama ini. Ketika Anda mengambil pemain itu dari tim Anda, itu akan mengubah dinamika.”

“Kami masih dalam proses mencari pemain atau pemain yang dapat membuat tim tetap efektif. Kami masih menemukan cara untuk mengeluarkan yang terbaik dari pemain baru kami tanpa waktu latihan yang memadai,” tambahnya.

Transfer termahal dalam sejarah Inggris ini, yang digadang-gadang sebagai awal baru, justru terasa seperti akhir sebuah era. Akhir dari keseimbangan di Newcastle, keseimbangan di Liverpool, dan mungkin sesuatu dalam diri Isak yang membuatnya begitu berharga. Kini, semua pihak merasa lebih miskin karenanya.