Ihram.co.id — Jutaan warga di berbagai wilayah Amerika Serikat dilaporkan berebut melakukan aksi belanja besar-besaran di supermarket dalam beberapa hari terakhir. Fenomena ini dipicu oleh ancaman Badai Musim Dingin Fern yang diprediksi akan menjadi salah satu badai paling disruptif di awal tahun 2026.
Berdasarkan laporan terkini, warga bergegas memenuhi troli mereka dengan bahan pokok seperti roti, susu, air kemasan, dan baterai, yang menyebabkan rak-rak di banyak toko ritel besar habis tak tersisa.
Aksi borong atau panic buying ini terpantau meluas dari wilayah Texas hingga New England, mencakup setidaknya 34 negara bagian. Hingga Senin (26/1/2026), lebih dari 200 juta penduduk Amerika Serikat berada di bawah peringatan cuaca ekstrem. Badai Fern diperkirakan membawa kombinasi salju tebal, hujan es, dan suhu dingin yang ekstrem, yang berpotensi memutus akses jalan serta jaringan listrik selama berhari-hari.
Rak Supermarket Kosong di Berbagai Negara Bagian
Kondisi di lapangan menunjukkan eskalasi kepanikan konsumen yang cukup signifikan. Di Charlotte, North Carolina, rak-rak bahan makanan dilaporkan mulai kosong sejak Rabu pekan lalu ketika peringatan badai pertama kali dikeluarkan. Barang-barang seperti telur, daging, dan produk kebersihan menjadi yang paling sulit ditemukan.
Di wilayah Dallas dan Houston, Texas, antrean panjang terlihat di area parkir dan kasir saat penduduk bersiap menghadapi penurunan suhu drastis yang diperkirakan akan membekukan jalanan.
“Kami melihat peningkatan jumlah pelanggan yang bersiap menghadapi badai. Kami terus berupaya memasok barang-barang utama seperti air, makanan kaleng, dan baterai di toko maupun gudang kami,” ujar Jared Glover, juru bicara Publix, sebagaimana dikutip dari charlotteobserver.com, Kamis (22/1/2026).
Fenomena serupa terjadi di Ohio. Di wilayah New Albany dan Dublin, toko-toko seperti Aldi dan Kroger melaporkan kehabisan stok roti dan susu hanya dalam hitungan jam setelah ramalan cuaca terbaru dirilis. Foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan lorong-lorong supermarket yang biasanya penuh, kini hanya menyisakan deretan rak kosong melompong.
Dampak Badai Fern dan Gangguan Listrik
Badai Musim Dingin Fern bukan sekadar ancaman salju biasa. National Weather Service (NWS) memperingatkan adanya akumulasi es yang dapat bersifat “katastrofik” bagi infrastruktur.
Pada Minggu (25/1/2026), tercatat sekitar 500.000 rumah sudah kehilangan aliran listrik akibat kabel yang terputus oleh beban es dan pohon tumbang.
Di beberapa wilayah, suhu dilaporkan merosot hingga mencapai -37 derajat Celcius. Hal ini memaksa setidaknya 20 negara bagian untuk mengeluarkan status darurat. Selain supermarket, stasiun pengisian bahan bakar juga diserbu warga yang ingin memastikan cadangan bahan bakar untuk pemanas ruangan dan kendaraan mereka tetap aman.
“Ini bukan sekadar badai salju, tapi potensi pemadaman listrik jangka panjang. Warga disarankan memiliki persediaan setidaknya untuk satu minggu jika jalanan tidak bisa dilalui,” tulis laporan darurat yang dilansir dari mirror.co.uk pada Minggu (25/1/2026).
Psikologi di Balik Aksi Berebut Belanja
Para ahli perilaku ekonomi menilai bahwa fenomena warga yang berebut belanja di supermarket ini dipicu oleh kecemasan mendalam akibat pengalaman bencana cuaca di tahun-tahun sebelumnya. Di Houston, misalnya, ingatan akan badai salju tahun 2021 yang melumpuhkan jaringan listrik membuat warga lebih reaktif terhadap peringatan cuaca apa pun.
“Ada perbedaan antara kesiapsiagaan darurat dan panic buying. Namun, ketika emosi ‘lawan atau lari’ mengambil alih, warga cenderung membeli lebih banyak dari yang sebenarnya mereka butuhkan,” jelas Hersh Shefrin, profesor keuangan perilaku di Santa Clara University, seperti dikutip dari time.com, Sabtu (24/1/2026).
Kekhawatiran akan kelangkaan pasokan juga diperparah oleh gangguan logistik. Ribuan penerbangan telah dibatalkan di seluruh AS, dan pengiriman truk ke supermarket terhambat oleh kondisi jalan yang licin dan berbahaya.
Maricela Resendiz, seorang warga Dallas, mengaku harus mendatangi beberapa supermarket berbeda hanya untuk mendapatkan kebutuhan dasar bagi keluarganya. “Badai ini terlihat besar, jadi kami hanya ingin memastikan bisa tetap di dalam rumah dan tidak perlu keluar,” ujarnya dilansir dari ksat.com.
Pemerintah setempat di berbagai negara bagian terus mengimbau warga untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat merugikan warga lainnya. Namun, dengan intensitas Badai Fern yang terus meningkat, tekanan pada sektor ritel Amerika Serikat diperkirakan akan berlanjut hingga akhir pekan ini.
Ikuti Ihram.co.id
