Ihram.co.id — Gelombang besar warga Amerika Serikat, terutama dari kalangan Gen-Z dan Milenial, mulai menunjukkan tren migrasi massal dari TikTok menuju platform media sosial baru bernama Upscrolled. Fenomena ini dipicu oleh kekhawatiran mendalam terkait perubahan kebijakan privasi, isu sensor konten politik, hingga struktur kepemilikan baru TikTok di AS yang kini berada di bawah kendali konsorsium investor pimpinan Oracle.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa ribuan pengguna di Amerika Serikat merasa “kelelahan” dengan algoritma yang dianggap terlalu mengekang dan bias. Sejak TikTok resmi menyelesaikan restrukturisasi kepemilikannya di AS pada 22 Januari 2026, aplikasi alternatif seperti Upscrolled mengalami lonjakan unduhan hingga ribuan persen dalam hitungan hari, menandakan pergeseran besar dalam cara anak muda mengonsumsi konten digital.
Mengapa Pengguna Meninggalkan TikTok?
Pemicu utama eksodus ini adalah rampungnya kesepakatan senilai US$14 miliar yang membentuk entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC. Di bawah struktur ini, kendali operasional dan data pengguna TikTok di Amerika Serikat kini berada di tangan investor lokal, dengan miliarder Oracle, Larry Ellison, memegang peran sentral dalam moderasi konten.
Banyak pengguna melaporkan adanya penurunan jangkauan (reach) pada konten-konten sensitif secara politik.
“Para pengguna TikTok melarikan diri ke media sosial baru bernama UpScrolled setelah Larry Ellison membeli platform tersebut. UpScrolled menjanjikan kebebasan dari sensor serta tanpa kendali miliarder,” ujar Guy Christensen, seorang influencer dengan 3 juta pengikut melalui akun X-nya sebagaimana dikutip dari arrahmah.id, Senin (26/1/2026).
Selain isu sensor, kebijakan privasi baru yang mencakup pelacakan lokasi dan interaksi AI yang lebih agresif membuat pengguna tech-savvy mulai mencari alternatif yang lebih transparan. Dugaan adanya shadowbanning terhadap isu-isu seperti kritik terhadap kebijakan imigrasi dan konflik Timur Tengah semakin memperkuat keinginan pengguna untuk beralih ke platform yang dianggap lebih “netral”.
Mengenal Upscrolled: Platform “Anti-Algoritma”
Upscrolled hadir bukan sekadar sebagai tiruan TikTok, melainkan sebagai antitesis dari media sosial arus utama yang dikuasai oleh perusahaan Big Tech. Aplikasi ini memasarkan dirinya dengan jargon “Unfiltered by Design”, yang menjanjikan pengalaman berselancar tanpa gangguan algoritma yang memanipulasi minat pengguna.
Berbeda dengan TikTok yang sangat bergantung pada algoritma “For You Page” untuk menentukan apa yang dilihat pengguna, Upscrolled menawarkan opsi umpan kronologis. Artinya, konten yang muncul di layar pengguna adalah konten terbaru dari akun yang mereka ikuti, bukan hasil kurasi mesin yang sering kali dituduh menciptakan “ruang gema” (echo chamber).
Upscrolled menggabungkan fitur terbaik dari beberapa platform populer. Di dalamnya, pengguna bisa mengunggah video pendek vertikal mirip TikTok, berbagi foto layaknya Instagram, serta membuat unggahan berbasis teks yang menyerupai X (dahulu Twitter). Keunggulan teknis yang ditawarkan adalah transparansi sistem ranking konten yang bisa dijelaskan secara logis, bukan melalui kode rahasia yang tertutup bagi publik.
Sosok di Balik Upscrolled dan Visinya
Popularitas Upscrolled tidak lepas dari sosok pendirinya, Issam Hijazi, seorang teknolog berpengalaman keturunan Palestina-Australia. Hijazi, yang memiliki rekam jejak bekerja di raksasa teknologi seperti IBM dan Oracle, membangun Upscrolled sebagai respons terhadap sistem sensor yang ia anggap sistematis di media sosial populer.
Dalam visi yang diusungnya, Hijazi ingin mengembalikan esensi “sosial” dalam media sosial. Ia menegaskan bahwa di Upscrolled, visibilitas konten harus didapatkan secara organik, bukan diberikan melalui algoritma atau skema “pay-to-play”. Menurut keterangan di situs resminya, platform ini berkomitmen untuk tetap imparsial terhadap agenda politik maupun komersial mana pun.
“UpScrolled adalah fondasi bagi ekosistem digital yang mengembalikan kekuasaan ke tangan rakyat, bukan korporasi,” ungkap Issam Hijazi dalam wawancara dengan Yahoo Tech sebagaimana dikutip dari intellinews.com, Selasa (27/1/2026). Komitmen ini menarik perhatian besar dari kelompok aktivis dan kreator konten yang selama ini merasa suaranya dibatasi oleh kebijakan moderasi yang bias.
Lonjakan Pengguna dan Tantangan Infrastruktur
Kecepatan migrasi ini sempat membuat infrastruktur teknis Upscrolled kewalahan. Data dari Appfigures mencatat ada sekitar 41.000 unduhan dalam satu jendela waktu singkat di akhir Januari, yang menandakan kenaikan 2.850 persen dalam jumlah unduhan harian. Di Apple App Store, aplikasi ini meroket ke peringkat kedua dalam kategori media sosial, bahkan sempat melampaui posisi TikTok di Amerika Serikat dan Inggris.
Pihak manajemen Upscrolled melalui akun media sosial resminya bahkan sempat meminta maaf karena server mereka “tutup poin” (tapped out) akibat arus pengguna baru yang masuk terlalu cepat. Fenomena ini menunjukkan betapa besarnya permintaan pasar akan platform alternatif yang memprioritaskan privasi dan kebebasan berekspresi.
Bagi Gen-Z dan Milenial yang sudah mulai jenuh dengan “keajaiban” algoritma yang terasa seperti pengawasan, Upscrolled menawarkan harapan baru. Meski masih dalam tahap pertumbuhan awal dengan total unduhan global di kisaran ratusan ribu, tren ini menjadi peringatan bagi raksasa teknologi bahwa loyalitas pengguna bisa hilang dalam sekejap jika transparansi dan kepercayaan mulai tergerus.
Ikuti Ihram.co.id
