Sejumlah pakar pasar memproyeksikan harga emas akan berfluktuasi dan berpotensi bertahan di sekitar level support US$4.000 per troy ounce. Tekanan datang dari ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga pada tingkat tinggi, yang dinilai menekan daya tarik emas.
Harga emas spot terakhir tercatat di US$4.230,70 per troy ounce, naik tipis dibandingkan penutupan pekan sebelumnya. Namun para analis memperingatkan pasar masih berada dalam fase ketidakpastian setelah aksi jual terbaru.
Proyeksi dan Alasan Teknis
Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, mengatakan pasar kini terjebak dalam ketidakpastian pasca-aksi jual. Menurut Hansen, rata-rata pergerakan harga selama 200 hari menjadi kunci bagi sentimen pasar.
Ihram.co.id — “Sentimen kemungkinan tidak akan membaik secara signifikan sampai pergerakan harga emas sendiri membaik, dan dalam hal ini, rata-rata pergerakan harga selama 200 hari tetap menjadi medan pertempuran utama. Emas saat ini diperdagangkan sekitar US$200 di bawah level tersebut, membuat para pengikut tren enggan untuk kembali terlibat dalam posisi beli,”
Hansen memproyeksikan harga emas akan bertahan di kisaran US$4.000 per troy ounce. Ia menambahkan bahwa jika area tersebut dipertahankan, aksi jual baru-baru ini bisa dilihat sebagai koreksi relatif dangkal dalam tren bullish yang lebih panjang, yang menurutnya berawal dari titik terendah pada 2022 dekat US$1.615 hingga puncak rekor pada Januari di US$5.595.
Faktor Fundamental dan Volatilitas Jangka Pendek
Simon-Peter Massabni, Kepala Pengembangan Bisnis di XS.com, menilai pergerakan emas saat ini tertahan di antara kebijakan The Fed yang agresif dan meredanya ketegangan geopolitik. Kombinasi tersebut, kata Massabni, menghasilkan periode volatilitas yang tinggi tanpa tren yang jelas.
“Emas memasuki periode yang lebih ditandai oleh volatilitas yang tinggi daripada tren yang jelas. Di satu sisi, pasar menghadapi hambatan dari dolar AS yang lebih kuat, kebijakan Federal Reserve yang agresif, dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Di sisi lain, inflasi yang terus-menerus, ketidakpastian ekonomi global, dan kemungkinan ketegangan geopolitik yang kembali muncul terus memberikan dukungan mendasar,”
Massabni menambahkan bahwa meski terjadi penurunan baru-baru ini, ia tidak percaya tren bullish jangka panjang emas telah berakhir. Ia menunjuk pada faktor struktural seperti inflasi yang masih di atas target, akumulasi cadangan emas oleh bank sentral, dan peningkatan utang pemerintah AS sebagai elemen yang mendukung permintaan emas dalam jangka panjang.
Ikuti Ihram.co.id
