Bank Indonesia berpotensi menambah kenaikan suku bunga acuan meski BI-Rate telah dinaikkan 25 basis poin menjadi 5,75% pada Juni 2026. Keputusan langkah lanjutan akan sangat bergantung pada perkembangan ketidakpastian global dan kondisi domestik yang masih membayangi pasar keuangan.

Faisal Rachman, Head of Macroeconomic and Financial Market Research PermataBank, mengatakan kenaikan BI-Rate menjadi 5,75% merupakan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menekan peningkatan premi risiko aset keuangan Indonesia.

“Kenaikan suku bunga ini merupakan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko meningkatnya premi risiko aset keuangan Indonesia di tengah ketidakpastian global dan domestik yang tinggi,” ujar Faisal dalam catatannya, Kamis (18/6/2026).

Pengaruh Kebijakan The Fed dan Risiko Eksternal

Faisal menilai keputusan Bank Indonesia juga dipengaruhi oleh sikap Federal Reserve yang dinilai lebih hawkish dari perkiraan dalam pertemuan FOMC Juni 2026. Kondisi tersebut berpotensi mendorong BI mempertahankan selisih suku bunga yang kompetitif terhadap Fed Funds Rate agar daya tarik aset domestik tetap terjaga di mata investor global.

Risiko eksternal menurutnya belum sepenuhnya mereda. Meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai menunjukkan tanda pelonggaran, isu program nuklir Iran dan dinamika konflik di kawasan dinilai masih berpotensi mempertahankan tekanan inflasi global pada level tinggi.

Tantangan Domestik dan Agenda Pasar

Dari sisi domestik, tantangan datang dari potensi kenaikan harga energi global dan pelemahan rupiah yang dapat berdampak pada inflasi, posisi fiskal, serta sektor eksternal. Kondisi ini berisiko meningkatkan inflasi impor, memperlebar defisit transaksi berjalan, dan menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Investor diperkirakan akan bersikap hati-hati menjelang sejumlah agenda penting, termasuk tinjauan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI pada Juni 2026 serta penilaian peringkat utang Indonesia oleh S&P pada Juli 2026.

Proyeksi PermataBank

Dalam skenario dasar, PermataBank memperkirakan BI-Rate akan bertahan di level 5,75% hingga akhir 2026 seiring ekspektasi meredanya tekanan eksternal maupun domestik pada semester II-2026. Bank tersebut juga memproyeksikan nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp 17.800–Rp 18.000 per dolar AS pada akhir 2026.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun diperkirakan berada di rentang 7,2%–7,4% menurut proyeksi yang disampaikan lembaga riset tersebut.

Namun, Faisal menegaskan bahwa jika tekanan global maupun domestik bertahan lebih lama atau meningkat, Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga guna menjaga stabilitas makroekonomi dan pasar keuangan nasional.

“Kami melihat arah BI-Rate ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan ketidakpastian global dan domestik,” pungkas Faisal.

Langkah BI Dalam Dua Bulan Terakhir

Sebagai catatan, Bank Indonesia tercatat telah menaikkan BI-Rate sebesar total 100 basis poin dalam kurun dua bulan terakhir sebagai respons menahan pelemahan rupiah. Kenaikan dilakukan bertahap: 50 bps pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan Mei, 25 bps pada RDG mingguan 9 Juni 2026, dan 25 bps pada RDG bulanan Juni.