Bank Indonesia menyatakan ketidakpastian global kemungkinan belum mereda meski Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan sementara terkait penyelesaian konflik di Timur Tengah.

Gubernur Perry Warjiyo menilai dampak konflik yang sudah berlangsung sejak akhir Februari lalu telah memengaruhi produksi, distribusi, dan rantai pasok sehingga menekan prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

Dalam konferensi pers pasca Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Juni 2026 yang diselenggarakan secara virtual pada Kamis (18/6/2026), Perry mengatakan perkembangan negosiasi antara AS dan Iran masih berpotensi dinamis sehingga memerlukan kewaspadaan.

“Ke depan, perkembangan negosiasi antara AS dan Iran terkait kesepakatan penyelesaian konflik di Timur Tengah diperkirakan masih dinamis sehingga memerlukan kewaspadaan serta penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” ujar Perry.

Proyeksi Global dan Dampaknya

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sepanjang 2026 hanya mencapai sekitar 3% dengan inflasi dunia diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 4,4%.

Kondisi ini mendorong beberapa bank sentral untuk mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga kebijakan demi mengendalikan tekanan harga. Di Amerika Serikat, suku bunga acuan Fed Funds Rate masih berada di level 3,75%.

Perry menambahkan, ada peluang kenaikan suku bunga di AS seiring peningkatan prospek inflasi. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga masih tinggi; pada 17 Juni 2026 yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat 4,49% dan tenor dua tahun 4,18%.

“Indeks dolar AS terhadap negara maju (DXY) dan negara berkembang (ADXY) tetap kuat. Akibatnya, preferensi penempatan investor global ke negara Emerging Markets belum kuat dan beralih ke aset aman di negara maju,” kata Perry.

Kondisi Ekonomi Domestik

Di tengah tekanan eksternal, BI menilai kinerja ekonomi Indonesia tetap terjaga didukung permintaan domestik yang kuat.

Perry menyampaikan pemerintah terus mengoptimalkan stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat serta mempercepat pelaksanaan program prioritas demi mendorong pertumbuhan.

“Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7%,” ujar Perry.

Untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan, BI mengatakan akan mengoptimalkan bauran kebijakan, termasuk penguatan kebijakan makroprudensial yang akomodatif serta kebijakan sistem pembayaran untuk memperluas ekonomi digital dan keuangan inklusif.