Harga Bitcoin (BTC) kembali turun pada Jumat pagi (19/6/2026), memicu kekhawatiran bahwa aset kripto terbesar dunia berpotensi menguji kembali level psikologis US$ 60.000. Pelemahan pasar kripto berlangsung di tengah penguatan dolar AS, imbal hasil obligasi yang masih tinggi, serta pergeseran minat investor ke sektor kecerdasan buatan (AI).

Data CoinMarketCap pada pukul 07.30 WIB mencatat kapitalisasi pasar kripto global menyusut 2,2% menjadi US$ 2,17 triliun. Harga Bitcoin tercatat turun 2,53% ke US$ 62.932 per koin, atau sekitar Rp 1,12 miliar dengan kurs Rp 17.845 per dolar AS.

Pergerakan Aset Kripto Lainnya

Indeks CoinDesk 20, yang merepresentasikan 20 aset kripto terbesar, terpangkas 2,38%. Ethereum turun 2,34% ke US$ 1.712, Binance Coin (BNB) merosot 3,9% ke US$ 578, sementara XRP anjlok 3,43% ke US$ 1,14. Solana (SOL) dan Dogecoin (DOGE) juga mencatat penurunan masing-masing 3,56% dan 3,01%.

Pemicu Tekanan Harga

Tekanan terhadap Bitcoin meningkat setelah aset ini gagal menembus level US$ 67.200 pada awal pekan, yang kemudian memicu koreksi sekitar 7% dan likuidasi posisi bullish senilai US$ 330 juta. Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran pasar akan kemungkinan pengujian ulang level US$ 60.000.

Sementara itu, pasar saham teknologi AS menunjukkan kinerja relatif kuat. Indeks Nasdaq 100 bertahan dekat rekor tertinggi, sekitar 1% dari puncak historisnya. Beberapa analis mencatat adanya pelebaran jarak antara pergerakan Bitcoin dan saham teknologi yang selama ini kerap bergerak searah.

Faktor Makro dan Sentimen

Sentimen pasar saham mendapat dorongan setelah tercatat adanya nota kesepahaman antara Presiden AS dan Presiden Iran, yang meredakan ketegangan geopolitik dan mendorong harga minyak mentah turun ke level terendah 15 pekan di sekitar US$ 74 per barel. Selain itu, data pasar tenaga kerja AS menunjukkan klaim pengangguran berkelanjutan stabil di 1,81 juta.

Di sisi kebijakan moneter, pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang menekankan pentingnya menjaga price stability memperkuat keyakinan bahwa bank sentral akan fokus mengendalikan inflasi. Hal ini mendorong pandangan bahwa suku bunga berpotensi tetap di level tinggi lebih lama, yang biasanya menekan aset tanpa imbal hasil seperti Bitcoin.

Peran Dolar, Imbal Hasil, dan Minat ke AI

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor lima tahun tercatat tetap tinggi di kisaran 4,21%, sementara dolar AS menguat terhadap mata uang utama. Kondisi tersebut umumnya kurang mendukung aset yang tidak menghasilkan imbal hasil, termasuk Bitcoin dan emas; harga emas tercatat turun lebih dari 3% pada periode sama.

Selain faktor makro, para pengamat melihat arus modal kini lebih banyak mengalir ke industri AI. Ketertarikan meningkat setelah pengumuman kerja sama antara Apple dan Intel dalam pengembangan chip di AS, yang mendorong reli saham semikonduktor seperti Intel, Micron, dan SK Hynix. Optimisme terhadap prospek AI dan sejumlah rencana investasi serta IPO di sektor itu disebut menarik perhatian investor global.

Proyeksi dan Posisi Institusional

Beberapa pengamat dan pendukung kripto menyebut sentimen pasar saat ini lebih negatif dibandingkan periode runtuhnya bursa FTX 2022, dengan narasi yang sebelumnya mendorong pembelian Bitcoin mulai kehilangan daya tarik. Namun, posisi Bitcoin di pasar keuangan tradisional kini lebih kuat dibanding siklus halving sebelumnya.

Dana kelolaan ETF Bitcoin spot di AS telah melewati US$ 102 miliar, dan sejumlah institusi keuangan besar seperti Morgan Stanley, Bank of America, dan Goldman Sachs menawarkan produk investasi terkait Bitcoin kepada nasabah. Analis menilai pengujian kembali level US$ 60.000 masih mungkin terjadi dalam jangka pendek, sementara arah selanjutnya akan bergantung pada kekuatan permintaan dari investor institusi untuk menahan tekanan pasar.