— Hilal menjadi penentu utama dimulainya awal bulan Ramadan 1447 H dalam kalender Islam yang proses pengamatannya segera dilakukan pada Selasa, 17 Februari 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadwalkan pemantauan di 37 lokasi di seluruh Indonesia untuk melihat penampakan bulan sabit muda tersebut sebagai dasar penetapan awal puasa.

Definisi dan Bentuk Hilal

Berdasarkan keterangan Stasiun Geofisika Kupang BMKG, hilal adalah bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat setelah terjadinya konjungsi atau fase bulan baru. Hilal muncul di arah dekat matahari terbenam dan menjadi acuan utama untuk menentukan permulaan bulan dalam kalender Hijriah.

Studi Tsyah Amilia dan rekan-rekan dari UIN Sunan Ampel Surabaya dalam Azimuth: Journal of Islamic Astronomy menyebutkan bahwa hilal merupakan bagian dari fase-fase bulan yang masih sangat muda. Karena ukurannya yang sangat tipis, visibilitas hilal sering kali sulit ditangkap mata telanjang sehingga membutuhkan alat bantu seperti teleskop dan kamera khusus.

Penentuan munculnya hilal biasanya dilakukan pada hari ke-29 dari bulan berjalan di kalender Islam. Jika hilal berhasil terlihat, maka hari berikutnya dinyatakan sebagai awal bulan baru. Sebaliknya, jika tidak terlihat, maka jumlah hari dalam bulan tersebut digenapkan menjadi 30 hari.

Kriteria MABIMS dan Urgensi Pengamatan

Forum Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) telah menyepakati kriteria imkanur rukyat atau kemungkinan hilal terlihat. Berdasarkan aturan tersebut, awal bulan Hijriah ditetapkan jika hasil pengamatan menunjukkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat (IR 3-6,4).

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaludin, menjelaskan bahwa umat Islam masih lebih menyukai metode pengamatan langsung atau rukyat meskipun metode hisab (perhitungan matematis) sudah sangat akurat. Hal ini dikarenakan terlihatnya hilal merupakan bukti fisik yang sah secara keagamaan untuk memulai ibadah seperti puasa Ramadan dan Hari Raya Idulfitri.

Tantangan dan Teknologi Pengamatan

Pengamatan hilal menghadapi tantangan geografis dan faktor cuaca, terutama potensi terhalang oleh mendung atau cahaya senja yang terang. Thomas Djamaludin menyatakan bahwa hilal yang sangat tipis dan redup sering kali sulit dibedakan dengan latar belakang cahaya langit saat matahari terbenam.

Untuk mengatasi kendala tersebut, tim pengamat menggunakan teknologi kamera digital dan pemrosesan citra yang disebut image stacking. Metode ini bekerja dengan menumpuk ratusan gambar dalam satu bingkai guna meningkatkan kontras objek.

“Teknologi ini memungkinkan hilal yang sangat redup bisa terlihat lebih jelas,” ujar Thomas Djamaludin mengacu pada penggunaan perangkat bantu dalam rukyatul hilal.

Prediksi Hilal Ramadan 1447 H

Mengacu pada data BMKG, posisi hilal pada Selasa, 17 Februari 2026, diprediksi masih berada di bawah ufuk atau bernilai minus. Berdasarkan data tersebut, hilal kemungkinan besar baru akan memenuhi kriteria visibilitas pada Rabu, 18 Februari 2026.

BMKG memprediksi ketinggian hilal pada hari Rabu mendatang akan mencapai rentang 7,62 derajat hingga 10,03 derajat. Meski data sains telah tersedia, keputusan resmi mengenai awal Ramadan 1447 H tetap menunggu hasil Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama pada Selasa malam.

Masyarakat dapat memantau proses pengamatan secara langsung melalui layanan live streaming yang disediakan BMKG pada laman resmi hilal.bmkg.go.id saat proses rukyat berlangsung di 37 titik pemantauan.