Harga perak global mencatatkan sejarah baru pada pembukaan tahun 2026 dengan menembus level psikologis US$94 per ons, bahkan menyentuh US$110 di beberapa bursa berjangka. Lonjakan tajam ini dipicu oleh “badai sempurna” dari sisi permintaan industri, terutama dari sektor energi terbarukan (panel surya), percepatan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta transisi masif ke kendaraan listrik (EV).

Ketegangan pasar semakin meningkat karena dunia kini menghadapi tahun kelima defisit struktural pasokan perak. Dengan produksi tambang yang stagnan, industri-industri kunci mulai berebut mengamankan stok fisik, yang pada gilirannya mendorong harga ke level yang belum pernah terlihat dalam beberapa dekade terakhir.

Revolusi Panel Surya: Konsumsi Perak N-Type Melonjak

Sektor fotovoltaik (PV) atau panel surya tetap menjadi konsumen industri terbesar bagi perak. Pada awal 2026, kapasitas instalasi surya global diproyeksikan mencapai 665 GW. Peralihan teknologi dari sel P-type ke sel N-type (seperti TOPCon dan HJT) telah mengubah dinamika permintaan secara drastis. Teknologi baru ini membutuhkan kandungan perak hingga 30% lebih banyak per watt dibandingkan teknologi lama.

“Permintaan perak dari panel surya saja diperkirakan akan menyerap sekitar 120 hingga 125 juta ons pada tahun 2026,” tulis laporan analis pasar yang dilansir dari equiti.com, Rabu (21/1/2026).

Penggunaan perak yang tak tergantikan dalam pasta konduktif sel surya membuat industri ini sangat sensitif terhadap fluktuasi harga, namun komitmen global terhadap target emisi nol bersih (Net Zero) memaksa produsen untuk terus melakukan pengadaan meskipun biaya melonjak.

AI dan Infrastruktur Digital: ‘Bahan Bakar’ Baru Era Modern

Jika minyak adalah penggerak era mesin pembakaran, maka perak kini dianggap sebagai komponen krusial bagi era digital dan kecerdasan buatan. Pembangunan pusat data (data center) berskala besar untuk mendukung komputasi AI memerlukan komponen elektronik tingkat tinggi yang menggunakan perak karena konduktivitas listrik dan termalnya yang superior.

Permintaan dari sektor elektronik dan infrastruktur AI diproyeksikan tumbuh sebesar 25% setiap tahunnya. Perak digunakan secara luas dalam manufaktur chip semikonduktor, pengemasan (packaging) chip, hingga komponen manajemen panas di server-server berperforma tinggi.

“Saat ini, perak menjadi bagi era AI seperti halnya minyak bagi era pembakaran; bahan bakar yang esensial dan tidak tergantikan,” ujar Bartoszek, seorang analis pasar komoditas, sebagaimana dikutip dari financemagnates.com, Senin (26/1/2026).

Bartoszek menambahkan bahwa penembusan harga di atas US$100 bukan sekadar koreksi harga biasa, melainkan hasil dari fenomena ‘short squeeze’ global pada logam fisik.

Transisi Kendaraan Listrik (EV) Memperparah Kelangkaan

Sektor otomotif turut menyumbang tekanan besar pada sisi permintaan. Sebuah kendaraan listrik (EV) rata-rata menggunakan 25 hingga 50 gram perak, atau sekitar 67% hingga 79% lebih banyak daripada kendaraan bermesin bensin (ICE). Perak digunakan dalam sistem manajemen baterai, unit kontrol elektronik, hingga infrastruktur pengisian daya (charging station).

Dengan produksi EV global yang diprediksi mencapai 14 hingga 15 juta unit pada tahun 2026, permintaan perak dari sektor ini saja diperkirakan menambah beban sebesar 70 hingga 75 juta ons ke pasar global.

Kelangkaan semakin nyata karena sekitar 70% produksi perak dunia merupakan produk sampingan (by-product) dari tambang tembaga, emas, dan seng, sehingga pasokan tidak dapat ditingkatkan secara instan meskipun harga pasar sedang melambung tinggi.

Defisit Struktural dan Kurasnya Cadangan Global

Faktor fundamental yang paling mengkhawatirkan para pelaku industri adalah defisit pasokan yang telah berlangsung selama lima tahun berturut-turut sejak 2021. Menurut data Silver Institute, akumulasi defisit antara tahun 2021 hingga 2025 telah mencapai hampir 820 juta ons.

Hal ini menyebabkan cadangan perak di gudang-gudang besar seperti London (LBMA) dan New York (COMEX) terkuras ke level terendah dalam sejarah.

“Saya memperkirakan perak akan berkinerja lebih baik pada tahun 2026 dibandingkan tahun 2025. Saya tidak akan terkejut melihat harga perak meningkat hingga lebih dari US$100 per ons,” ujar Alan Hibbard, Analis Utama dari GoldSilver, dilansir dari goldsilver.com, Senin (19/1/2026).

Selain faktor industri, kebijakan moneter global juga memainkan peran. Ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve Amerika Serikat di tahun 2026 menciptakan lingkungan di mana aset tanpa imbal hasil (non-yielding assets) seperti perak menjadi sangat menarik bagi investor sebagai lindung nilai (hedge) terhadap inflasi dan devaluasi mata uang.

Dengan konvergensi antara kebutuhan industri yang mendesak dan minat investasi yang tinggi, perak kini bukan lagi sekadar “sepupu murah” dari emas, melainkan logam strategis yang menentukan arah transisi energi dan teknologi global.