— Pelatih Tim Nasional Indonesia, John Herdman, dengan tegas menyatakan keyakinannya bahwa skuad Garuda akan mampu meraih gelar juara Piala AFF 2026, meskipun dihadapkan pada kritik dari media Vietnam dan potensi absennya dua pilar penting, Jay Idzes dan Kevin Diks. Pernyataan ini disampaikan Herdman usai pengundian grup turnamen yang akan berlangsung pada 24 Juli hingga 26 Agustus 2026 mendatang.

Herdman mengakui realitas bahwa Piala AFF tidak termasuk dalam kalender resmi FIFA Matchday. Kondisi ini membuat klub-klub Eropa, tempat Idzes (Serie A) dan Diks (Bundesliga) berkarier, tidak memiliki kewajiban untuk melepas pemainnya ke tim nasional. Selain Jay Idzes dan Kevin Diks, kiper Emil Audero yang bermain di Serie A juga terancam absen karena alasan serupa.

Absennya pemain-pemain yang merumput di liga top Eropa ini bukan karena pencoretan secara teknis, melainkan murni akibat bentrokan jadwal dengan persiapan pramusim atau bahkan dimulainya kompetisi klub mereka. Herdman menyikapi situasi ini dengan pragmatis.

“Tidak ada FIFA window (periode resmi untuk pemanggilan pemain internasional), jadi pemain-pemain yang bermain di Serie A [Jay Idzes dan Emil Audero] atau Bundesliga [Kevin Diks] kemungkinan tidak bisa bergabung,” ucap Herdman dikutip dari CNN.

Meskipun demikian, pelatih asal Inggris tersebut justru melihat peluang di balik tantangan ini. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut akan menyamakan level permainan di antara tim-tim peserta.

“Artinya, semua tim akan bermain di level yang sama. Tim yang akan sukses adalah tim yang benar-benar ingin mewakili negaranya di momen ini.”

“Dan kami ingin mengambil kesempatan itu untuk menjadi tim Indonesia pertama yang mengangkat trofi di Piala AFF,” ujar Herdman.

Kritik dari media Vietnam sendiri bukan hal baru. Sebelumnya, media olahraga Vietnam, TheThao247, pernah menyoroti kekalahan Timnas Indonesia U-23 di final Piala AFF U-23 2025, mengaitkannya dengan “minimnya pemain naturalisasi” dalam skuad. Mereka bahkan mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk menjaga konsistensi tanpa dukungan pemain keturunan, menuding adanya “ketergantungan berlebihan pada pemain naturalisasi di semua level tim nasional”.

Baru-baru ini, media Vietnam juga menyoroti hasil undian Piala AFF 2026 yang menempatkan Indonesia satu grup dengan Vietnam. Beberapa di antaranya, seperti Soha.vn, bahkan menyatakan kekhawatiran karena jadwal turnamen yang di luar FIFA Matchday dinilai justru bisa menguntungkan Indonesia untuk memanggil pemain naturalisasi yang berkarier di Eropa. Namun, Herdman telah secara realistis mengisyaratkan sebaliknya untuk pemain-pemain di liga top.

Dalam Piala AFF 2026, Timnas Indonesia tergabung di Grup A bersama juara bertahan Vietnam, Singapura, Kamboja, serta pemenang babak playoff antara Brunei Darussalam atau Timor Leste. Vietnam sendiri akan menjadi lawan berat mengingat status mereka sebagai juara bertahan Piala AFF edisi 2024.

Herdman menyambut antusias tantangan ini. Ia melihat turnamen ini sebagai kesempatan emas bagi Timnas Indonesia untuk mengakhiri penantian panjang dan mencetak sejarah. Indonesia tercatat sudah enam kali menjadi runner-up Piala AFF, namun belum pernah sekalipun mengangkat trofi juara.

Pelatih yang pernah membawa Timnas Kanada ke Piala Dunia ini juga melihat Piala AFF 2026 sebagai sarana untuk menebus kekecewaan publik sepak bola Indonesia setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2026.

Dengan fokus pada pemain yang siap dan bertekad penuh, Herdman optimistis skuad Garuda akan mampu menunjukkan performa terbaiknya dan meraih target juara yang telah dicanangkan.