Ihram.co.id — Sadio Mane menjadi sosok kunci yang meredam gejolak emosi tim nasional Senegal saat laga final Piala Afrika (AFCON) 2025 kontra Maroko hampir berakhir prematur. Kapten Singa Teranga tersebut turun tangan membujuk rekan-rekannya kembali ke lapangan setelah aksi protes massal akibat keputusan penalti kontroversial di menit akhir waktu normal.
Intervensi Mane di Tengah Kekacauan Lapangan
Ketegangan meledak di Stadion Prince Moulay Abdellah saat wasit Jean-Jacques Ndala menunjuk titik putih untuk Maroko pada menit ke-90+6. Keputusan yang diambil melalui tinjauan VAR tersebut memicu kemarahan pelatih Senegal, Pape Thiaw, yang kemudian menginstruksikan seluruh pemainnya meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes.
Laga sempat terhenti selama 14 menit saat situasi di dalam stadion mulai tidak terkendali. Dalam momen krusial tersebut, Sadio Mane masuk ke dalam lorong ruang ganti untuk menenangkan para pemain dan meyakinkan mereka agar menyelesaikan pertandingan di tengah tekanan suporter tuan rumah.
Aksi diplomasi Mane di ruang ganti terbukti efektif dengan kembalinya skuat Senegal ke area permainan. Kehadiran Mane di lapangan menjadi titik balik mental bagi tim sebelum menghadapi sisa pertandingan dan babak perpanjangan waktu.
Ketegangan di Tribun dan Ruang Pers
Situasi di luar lapangan tidak kalah panas, di mana kelompok suporter Senegal, Gaindé, dilaporkan melompati papan iklan untuk memprotes ofisial pertandingan. Petugas keamanan dan polisi anti-huru-hara harus turun tangan menciptakan barikade antara penonton dan lapangan saat berbagai proyektil mulai dilemparkan ke area hijau.
Kericuhan juga merembet ke area media, dengan laporan adanya perselisihan fisik antar jurnalis di tribun pers. Akibat insiden ini, beberapa suporter diamankan pihak berwenang dan seorang petugas keamanan harus dievakuasi menggunakan tandu karena mengalami cedera tubuh bagian atas.
Kegagalan Penalti Brahim Diaz dan Gol Pape Gueye
Pertandingan kembali dilanjutkan dengan eksekusi penalti oleh Brahim Diaz pada menit ke-90+24. Namun, upaya penyerang Maroko tersebut melakukan tendangan panenka berhasil digagalkan dengan mudah oleh kiper Edouard Mendy yang tetap tenang di posisinya.
Kegagalan penalti tersebut membawa laga ke babak tambahan waktu. Senegal akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-94 melalui sepakan keras Pape Gueye dari luar kotak penalti setelah menerima umpan matang dari Sadio Mane dalam skema serangan balik cepat.
Pape Gueye, yang sebelumnya juga mencetak dua gol saat melawan Sudan di babak 16 besar, melepaskan tembakan yang melewati penjagaan Achraf Hakimi dan bersarang di pojok gawang Maroko. Skor 1-0 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.
Gelar Kedua dalam Lima Tahun
Kemenangan ini memastikan Senegal meraih gelar Piala Afrika kedua mereka dalam sejarah, sekaligus gelar kedua dalam kurun waktu lima tahun terakhir setelah kemenangan pada edisi 2021. Sebaliknya, Maroko gagal mengakhiri puasa gelar kontinental yang telah berlangsung selama 50 tahun meski tampil di hadapan pendukung sendiri.
Edouard Mendy tampil sebagai pilar penting di bawah mistar gawang dengan menggagalkan sejumlah peluang emas Maroko sepanjang 120 menit laga. Disiplin lini belakang Senegal berhasil mempertahankan keunggulan hingga akhir pertandingan meskipun terus ditekan oleh tim tuan rumah.
Informasi mengenai jalannya pertandingan dan kemenangan Senegal di final Piala Afrika 2025 ini dihimpun berdasarkan laporan resmi dari The Associated Press serta data pertandingan yang dipublikasikan melalui L’Équipe dan Padek Jawa Pos.
Ikuti Ihram.co.id
