Goldman Sachs menilai The Federal Reserve perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga secepatnya pada September jika angka inflasi di AS masih belum menunjukkan penurunan. Pernyataan ini datang dari Rob Kaplan, Wakil Ketua Goldman Sachs Group Inc. dan mantan Presiden The Fed Dallas.

Kaplan menyatakan bahwa jika data inflasi tetap tinggi hingga akhir kuartal III-2026, pengetatan kebijakan moneter menjadi pilihan yang tepat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara di Bloomberg TV.

Proyeksi The Fed dan Isyarat Kebijakan

Pernyataan Kaplan muncul setelah Ketua Dewan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, memberi sinyal bahwa prioritas bank sentral tetap pada upaya menekan inflasi. Proyeksi internal anggota The Fed memperlihatkan separuh dari mereka memperkirakan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.

Rob Kaplan memperingatkan, “Jika Anda mengambil tindakan pada September, Anda harus siap. Bisa saja akan ada satu atau dua kenaikan susulan setelahnya,” menurut kutipan wawancara tersebut.

Respons Pasar

Sentimen kenaikan suku bunga langsung memengaruhi pasar. Trader obligasi melepas surat utang negara jangka pendek sehingga mendorong kenaikan imbal hasil (yield). Di pasar swap, pelaku kini menghitung kemungkinan kenaikan suku bunga 25 basis poin pada Oktober 2026, bergeser dari ekspektasi sebelumnya pada Maret 2027.

Tidak semua pihak sejalan dengan prediksi kenaikan. Citigroup Inc. tetap berada di antara sedikit institusi Wall Street yang memproyeksikan pelonggaran kebijakan tahun ini, meskipun mereka menggeser estimasi pemangkasan suku bunga dari September ke Oktober 2026 karena data ketenagakerjaan yang melemah.

Peringatan Terhadap Dot Plot Dan Faktor Eksternal

Kaplan juga mengingatkan agar pasar tidak terlalu terpaku pada dot plot terbaru The Fed. Menurutnya, data itu mungkin belum sepenuhnya mencerminkan dampak dari kesepakatan AS-Iran dan pembukaan kembali jalur pelayaran global, yang dapat mengubah prospek ekonomi di masa mendatang.

Pernyataan Kaplan menggambarkan dilema bank sentral: menyeimbangkan antara data ekonomi riil yang kadang melambat dan target inflasi yang belum tercapai. Keputusan kebijakan moneter berikutnya akan menjadi penentu utama bagi arah pasar modal dan nilai tukar global dalam jangka panjang.